Peranan Wahyu Dalam Sains dan Teknologi

<Peranan Wahyu Dalam Sains dan Teknologi> PERANAN WAHYU DALAM MENGAWAL ILMU PENGETAHUAN 

''Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.'' (Q.S. Al-Israa’ [17]:1) 

Isra’ Mi’raj Antara Mukjizat dan Iptek 

Empat belas abad telah berlalu sejak Rasulullah Muhammad Saw melakukan perjalanan agung sebagaimana dikisahkan ayat tadi. Sejak 14 abad yang lalu pula, perjalanan tersebut tetap dipandang sebagai peristiwa yang musykil, mukjizat yang sulit dipahami oleh pengetahuan dan kemampuan manusia. Salah satu analogi untuk memahami Isra’  Mi’raj dengan kacamata iptek, disodorkan oleh T. Djamaluddin, profesor riset matahari dan antariksa LAPAN, Alumnus Astronomi ITB ini menyimpulkan bahwa dalam peristiwa Isra’ Mi’raj, Rasulullah keluar dari ruang dan waktu. Sebagai ilustrasi, Beliau mengajak kita membayangkan seekor  semut  yang berjalan menyusuri sebuah jalur berbentuk huruf U di atas selembar kertas. Huruf “U” itu berbentuk garis. Karena itu, sang semut harus berjalan dari ujung satu ke ujung lainnya, sehingga memerlukan waktu yang lama. Namun, manusia berada di alam yang lebih tinggi daripada semut tersebut. Dengan mudah kita dapat “mengangkat” semut tersebut dari ujung jalur yang satu ke ujung  yang lain. Semut tersebut pun tidak perlu berkeliling jauh-jauh menyusuri lengkungan “U” tadi.
http://aang-zaeni.blogspot.com/2017/04/peranan-wahyu-dalam-sains-dan-teknologi.html

Bagaimana Allah “mengangkat” Rasulullah keluar dari ruang dan waktu, belumlah dapat  dijelaskan apalagi ditiru oleh ilmu pengetahuan. Penjelasan tadi  hanyalah sebuah analogi  untuk memuaskan akal  kita yang terbatas, sekaligus menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan dan wahyu  tidaklah  harus bertentangan. Namun, apakah sebenarnya ilmu pengetahuan itu? Jika kita mengatakan ia tidak bertentangan dengan wahyu, lantas seperti apakah hubungan antara keduanya? 
Sains Modern dan Cacat Permanennya

Ilmu  pengetahuan,  atau  lebih  populer  disebut  sains,  adalah  istilah  yang  kita  kenal dan pahami maknanya kini dari khazanah Peradaban Barat. Peradaban Barat hari ini lahir dari dua gelombang besar  sejarah yang nyaris berimpitan di  Eropa: renaissance dan aufklarung. Kedua gelombang besar  tersebut berawal  pada  abad  ke-14  dan  memuncak pada  abad  ke-16 dan 17 Masehi. Pada intinya, kedua gelombang tersebut  sama-sama mendapuk manusia di puncaknya. Bahwa tidak ada yang lebih tinggi daripada manusia dialam ini. Bahwa alam ini dapat dipahami semata dengan usaha manusia, dengan rasio dan inderanya. Bahwa alam ini seharusnya tunduk untuk kepentingan manusia dan kemanusiaannya. Dengan demikian, segala kuasa yang dianggap mengekang kebebasan manusia, dalam semangat zaman saat itu, haruslah dienyahkan. Tuhan—dalam baju agama yang disaksikan masyarakat Barat saat itu—adalah  salah satu kuasa  tersebut.  Lewat lembaga keagamaan yang saat itu berselingkuh dengan kekuasaan, Tuhan dianggap terlalu jauh mendikte, bahkan memasung kebebasan manusia untuk berpikir memahami alam. 
Sains, berikut teknologi sebagai produk sekaligus pendukungnya, lahir dan dibesarkan dalam pandangan dunia di atas. Trauma terhadap pendiktean telah membuat saintis modern menutup dirinya dari pembicaraan  tentang Tuhan  dan  agama.  Metodologi sains atau metodologi ilmiah yang mereka kembangkan, dibatasi hanya pada hal-hal yang objektif.  “Objektif”—lebih kurang—berarti dapat diuji oleh semua manusia dengan rasionalitas, sekaligus dengan penginderaannya yang empiris. Dalam praktiknya, istilah“objektif”  mengacu  pada  hal-hal yang material dan non spiritual, yang akhirnya mengarah pada filsafat materialisme.   

Namun,  menjelang  pertengahan  hingga akhir  abad  ke-20,  masyarakat  Barat  mulai melihat cacat permanen dalam sains modern  yang  mereka  pahami. Armahedi  Mahzar, seorang filosof sains-teknologi dari Fisika ITB, menjelaskan bahwa cacat tersebut bersumber dari  krisis  internal  maupun eksternal sains. Krisis internal berawal jauh pada awal abad 20 dengan munculnya teori-teori revolusioner saat itu seperti teori relativitas dan teori kuantum. Teori-teori tersebut justru menggugat materialisme,  yang  menjadi landasan sains modern. Krisis eksternal sains yang semakin menghangat pada pertengahan abad 20, muncul dalam bentuk militerisme sains, degradasi  ekologis, fragmentasi sosial dan alienasi manusia. Melihat krisis eksternal tersebut, sejumlah kelompok dalam masyarakat Barat  mengkritik  sains  dengan  tajam.  Kelompok ekologis melihat bahwa kemajuan teknologi hanya mementingkan manusia dan melupakan nasib  makhluk-makhluk lain. Hal ini berujung pada pengurangan keanekaragaman  hayati melalui pemusnahan spesies demi spesies. 

Kelompok ekonom neo-marxis membukakan rahasia bagaimana perkembangan sains itu sebenarnya bukanlah pendorong teknologi. Justru perkembangan teknologi  pada gilirannya ditarik oleh hasrat manusia,  kelompok dan negara, untuk kemajuan ekonomi dalam kompetisi pasar bebas global. Di lain pihak, kelompok feminis melihat kepentingan ekonomi itu sebenarnya sangat patriarkis, sehingga  mengimbas  pada  pandangan  sainssebagai proses penaklukan manusia atas alam. 

Akhirnya, kelompok etnis religius pun menganggap bahwa sains modern dibentuk hanya untuk kepentingan orang Eropa, atau dalam istilah populernya orang Barat. Kritiketno-religius ditambahkan oleh Jacques Ellul, seorang filosof teknologi dan teolog Kristen. Beliau menyatakan bahwa teknik bersikap acuh tak acuh terhadap tujuan dan nilai-nilai manusia yang asli, sebab teknik berubah menjadi  tujuan  pada  dirinya  sendiri. Teknologi tengah mengambil alih dan menyerap seluruh nilai tradisional dan asli dari masyarakat tanpa  pengecualian. Teknologi  kemudian  menciptakan suatu kebudayaan  tunggal  yang tidak memberi tempat pada nilai-nilai non teknologis.   

Kini,  saatnya  kita  membuka  mata,  bahwa  dengan  menempatkan  manusia  pada  puncak, alam menjadi pelayan  bahkan  budak  bagi  manusia.  Sains  telah  menjadi  instrumen  untuk memuaskan syahwat dan  hawa  nafsu  manusia yang  tiada  habisnya.  Akibatnya  alam dieksploitasi  manusia sedemikian  rupa  hingga  rusak.  Manusianya  sendiri  terasing  darimakna kemanusiaannya.

Perspektif Wahyu dalam Memandang Sains

Sebelum  dampak  negatifnya  muncul,  sains  modern  yang  dibawa  Barat  telah lama diamati oleh masyarakat dan para pemikir Muslim. Masyarakat Muslim, terlebih di dunia ketiga, umumnya tertinggal dalam penguasaan sains & teknologi. Ketertinggalan tersebut oleh  para  pemikir Muslim dianggap menjadi sebab ketertindasan dan keterjajahan masyarakatnya. Oleh karena itu, pada awalnya para pemikir Muslim berkutat dalam usaha mendorong penguasaan sains & teknologi  oleh umat Islam. Usaha ini  ditempuh  dengan menyodorkan argumen-argumen keselarasan antara sains & teknologi dengan ajaran Islam.
Dalam perkembangan berikutnya, sejumlah pemikir Muslim kemudian beranjak pada usaha melakukan “islamisasi” sains atau membangun tubuh sains “Islam”. Namun, usaha yang mengemuka  sejak  era  ’70-an  tersebut,  belumlah  membuahkan  hasil  yang memuaskan. Faktanya, para pemikir Muslim tersebut—diantaranya  Ismail Raji Al-Faruqi, Seyyed  Hosein  Nasr,  Naquib Al-Attas, dan Ziauddin Sardar—memiliki konsep dan pengikutnya masing-masing yang belum bisa bersepakat satu sama lain. Konsep-konsep tersebut pun tidak lepas dari kritikan tajam dari kalangan para pemikir Muslim sendiri.

Baca Juga> Makalah Penyimpangan Aqidah dan Cara Penanggulangannya

Menurut  hemat  kami,  sains  dalam  wujud  metodologi  ilmiah  maupun  teori  yang dihasilkannya, tidaklah  perlu diislamkan. Sebab merujuk pada fakta sejarah, metode penyelidikan empiris  justru disumbangkan oleh para ilmuwan  klasik Islam  di masa kejayaannya. Beberapa  di antara  ilmuwan tersebut adalah Jabir Ibn Hayyan di bidang Kimia,  Ibnu  Sina di  bidang  kedokteran,  dan  Al-Biruni di bidang astronomi. Metode empiris ini kemudian ditimba para ilmuwan dan pemikir Eropa untuk melengkapi metode rasional para filosof Yunani-Romawi, sehingga  membentuk  metodologi  ilmiah yang  kita kenal sekarang.
Al-Qur’an dan Hadits sendiri memang tidak berbicara eksplisit mengenai sains, apalagi sampai membahas  metodologi sains yang operasional. Al-Qur’an lebih banyak bicara mengenai ayat-ayat atau tanda-tanda, dan mendorong atau mewajibkan pembacanya untuk mengamati dan menghayati tanda-tanda tersebut. Tanda-tanda atau ayat-ayatsebagai objek yang harus dikaji manusia, dielaborasi  lebih  lanjut  oleh  Al-Qur’an  dalam  Surat Fushshilat ayat 53:

سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ ۗ أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ 

''Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ‘afaq dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka apakah Al-Haqq itu. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?”
Mengomentari ayat ini, Armahedi Mahzar menafsirkan bahwa obyek sains menurut Islam itu adalah tanda-tanda atau  “ayat-ayat” yang ada pada ‘afaq (cakrawala di luar diri manusia) berupa alam semesta, dan yang ada di dalam anfus (diri manusia) berupa bahasa, matematika dan logika. Ayat-ayat tersebut bertujuan sebagai tabayun atau penjelas bagi Al-Haqq atau Kebenaran Mutlak. Menarik untuk dicatat, bahwa kata “alam” yang kita gunakan sekarang berasal dari bahasa Arab ‘alam yang berarti “alamat” atau “tanda”. Dalam tradisi Hikmah Islam (sering juga disebut filsafat Islam), tafakkur terhadap ‘alam adalah tangga menuju pemahaman tentang Al-Haqq. Tradisi mengamati alam semesta dalam khazanah keilmuan klasik Islam, adalah bagian dari usaha mengungkap rahasia tersembunyi dari asma-asma-Nya.  Alam semesta adalah “wajah” Allah di muka bumi. Meminjam istilah Ibnu Sina, alam adalah “kosmos lambang-lambang” yang tanpanya manusia mustahil mengenal Allah.
Selanjutnya,  kiranya  dapat  ditambahkan pula penjelasan Armahedi Mahzar mengenai  organ-organ pengetahuan manusia menurut Al-Qur’an. Organ-organ tersebut disimbolkan dengan bashar (penglihatan) sebagai  sarana empiris, sama’ (pendengaran) sebagai sarana  linguistik, serta lubb (hati terdalam) yang merujuk pada  akal hati atau intuisi  manusia. Lubb adalah organ pengetahuan utama menurut  Al-Qur’an, sebagaimana disebutkan dalam Surah Ali ‘Imran ayat 189-190:
إِنَّ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱخْتِلَٰفِ ٱلَّيْلِ وَٱلنَّهَارِ لَءَايَٰتٍۢ لِّأُو۟لِى ٱلْأَلْبَٰبِ 

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang memiliki Lubb

(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): ‘Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka’.

”Orang-orang yang menggunakan Lubb-nya untuk  membaca  tanda-tanda  di  alamakan  sampai pada kesadaran bahwa tiada sesuatu yang sia-sia atau batil. Salah seorang ilmuwan yang pembacaannya—kita doakan—mengarah pada kesadaran  tersebut  adalah (Alm.) J.A. Katili. Geolog terkemuka  Indonesia  ini,  ketika  menerima pengukuhan gelar profesornya di Program Studi Teknik Geologi ITB pada era ’70-an menyitir ayat berikut:

Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
Sains, Islam dan Permasalahan Keumatan Berdasarkan  pemaparan  tadi, dapat disimpulkan bahwa kegiatan  saintifik  dalam perspektif  islami, adalah  proses  pembacaan  tanda-tanda atau ayat-ayat Ilahiah. Proses tersebut ditujukan untuk menemukan Kebenaran Mutlak atau hakikat dari tanda-tanda tersebut. Salah satu indikator penemuan hakikat tersebut, adalah ketika sang pembaca atau sang ilmuwan, menghayati kesadaran bahwa tiada sesuatu pun dari tanda-tanda itu yang diciptakan sia-sia atau tanpa makna.
Lantas,  bagaimana  agar  proses  pembacaan  masyarakat ilmiah mengarah kesana? Menurut  hemat kami—terlepas  dari  usaha-usaha  “islamisasi”  sains  atau  pembangunan sains  Islam—yang  lebih mendesak dan realistis adalah pengukuhan etika keilmuan yang islami. Prinsip-prinsip etika keilmuan Islam tersebut,  salah  satunya telah disodorkan oleh Armahedi Mahzar dalam Diskusi Etika Keilmuan LIPI pada bulan Juli 2002. Konsep etika tersebut pada awalnya adalah hasil diskusi sejumlah ilmuwan di Toronto, Kanada pada tahun 1994. Hasil diskusi tersebut kemudian dikelompokkan oleh Armahedi dengan penambahan sentuhan Ketuhanan. Pengelompokan tersebut terdiri dari:
  1. Prinsip moralitas  pribadi,  yang  diantaranya  menegaskan  bahwa  kode  etik  keilmuanhendaknya menentang semua prasangka kemanusiaan berdasarkan jenis kelamin, agama, kebangsaan dan kesukuan maupun cacat fisik dan mental.
  2. Prinsip moralitas antar-pribadi, yang menegaskan bahwa kode etik keilmuan hendaknya mengarahkan kegiatan akademis dan  keilmuan kepada penyelesaian damai konflik antar manusia dan pelucutan senjata secara umum.
  3. Prinsip moralitas masyarakat, yang diantaranya menegaskan bahwa kode etik keilmuan  hendaknya mewajibkan para ilmuwan dan rekayasawan untuk memilih, mengarahkan dan mengoreksi pengembangan dan penerapan disiplin ilmu pengetahuan mereka, agar sesuai pengetahuan mereka tentang dampak-dampaknya.
  4. Prinsip moralitas semesta, yang diantaranya menegaskan  bahwa  kode  etik   keilmuan hendaknya menyadarkan para ilmuwan dan rekayasawan bahwa tindakan-tindakan yang dirancang hanya dengan mempertimbangkan kepentingan manusia, berkemungkinan mengancam kelangsungan hidup semua spesies, sebab ekosistem merupakan jala-jala kehidupan tak bertepi.
  5. Prinsip moralitas adisemesta, yang menegaskan bahwa kode etik keilmuan hendaknya menyadarkan para ilmuwan dan rekayasawan agar tindakan-tindakan yang dirancang tidak bertentangan  dengan  nilai-nilai  universal  kemanusiaan  agama-agamabesar dunia.
Setelah ditegakkan dalam komunitas ilmiah, minimal dalam lingkup Indonesia, tentunya usulan tersebut perlu terus dikritisi dan dikembangkan lebih lanjut. Namun, yang menarik, jika disimak secara keseluruhan, keseluruhan prinsip moral tersebut sangatlah dekat dengan semangat sifat-sifat rabbaniyah yang  memelihara,  mendidik  dan  mengasuh segenap  makhluk.

Jelaslah  bahwa  Islam  memandu  sains  agar  menjaga  kebersatuan, keharmonisan, dan kesadaran manusia sebagai bagian dari kosmos. Disamping penegakan etika keilmuan, hal lain yang  mendesak di Indonesia adalah pengembangan kegiatan riset—tentunya dalam  paradigma  pembacaan ayat-ayat ilahiah—yang berfokus pada “tanda-tanda” yang paling dekat dengan kita. Tanda-tanda tersebut adalah potensi kekayaan alam, fenomena ataupun permasalahan unik, yang khas Indonesia maupun menjadi kebutuhan umat Islam.
Permasalahan-permasalahan unik yang dimaksud diantaranya adalah  penentuan  awal bulan  Hijriah dan arah kiblat, identifikasi komposisi pangan dan produk  farmasi untuk penentuan  kehalalan secara murah dan cepat, serta pengembangan sistem informasi manajemen dalam mengoptimalkan ZISKAF. Tentunya, hal ini bukan saja membutuhkan usaha keras dari anggota komunitas  ilmiah, melainkan juga arahan  kebijakan dari pemerintah.
   
Sebagai  kesimpulan,  agar  sains  menjadi  solusi  jangka  panjang  bagi  krisis  bangsa  ini sekaligus krisis peradaban manusia, ia harus diletakkan kembali diatas sebuah landasan yang  teguh.  Landasan tersebut adalah paradigma yang berdasar pada keberagamaan yang kaffah, menyeluruh demi mencari ridha-Nya di dunia dan akhirat.

Subscribe to receive free email updates: