Islam dan Peradaban Dunia

Jika diumpamakan perjalanan bangsa-bangsa dalam pengembangan sains dan tenologi atau dalam perjalanan peradaban manusia, sebagai rangkaian gerbong lokomotif yang sedang melaju, bisa jadi umat Islam sedang berada digerbong belakang, dan lokomotif yang ada di depan adalah negara-negara yang maju dalam sains dan teknologi seperti yang telah kita ketahui. Umat Islam yang ada pada gerbong belakang tidak tahu akan dibawa kemana, bahkan barangkali tidak mengetahui jalan yang akan kita lalui selanjutnya. Akankah posisi kita akan terus seperti ini?

Bangsa dengan penduduk mayoritas muslim, sampai saat ini masih  tertinggal dalam hal IPTEK dan Sains. Mari kita renungkan QS Ali imran ayat 110, “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia. Menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar. Dan beriman kepada Allah. Sekiranya para ahli kitab itu beriman, tentu itu lebih baik bagi mereka. Diantara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan dari mereka fasik.” Itulah firman Allah, disebutkan bahwa kita adalah ummat terbaik. Lalu dengan kodisi umat muslim saat ini, kapankah kita akan memandu peradaban? 
http://aang-zaeni.blogspot.com/2017/04/islam-dan-peradaban-dunia.html

Mungkinkah kita akan menjadi pemandu peradaban ini? Profesor Segret Honke, seorang ahli sejarah sains dalam bukunya mencoba  mengkaji  mengapa pada sekitar abad  ke-6 sampai abad ke-14 yang lalu, peradaban Islam dapat berkembang dengan pesat dan menguasai dunia. Beliau mempertanyakan mengapa justru orang-orang Badui yang hidup nomaden yang memandu  peradaban saat  itu, bukan peradaban Romawi atau Persia. Menurut beliau, setidaknya ada empat  alasan yang mungkin  terjadi. Pertama, umat Islam saat itu mememiliki keimanan yang kuat. Kedua, disiplin dalam  menjalankan kewajiban agama. Ketiga,  kebersamaan untuk saling membantu  dan bersinergi. Keempat, adalanya contoh panutan yang dimulai dari  Rasulullah saw. Itulah sebabnya umat muslim yang sedikit bisa memimpin peradaban mengalahkan dua kekuatan yang besar.


Betapa banyak kondisi dimana bangsa kecil yang kemudian bisa mengalahkan  kekuatan bangsa yang besar, dengan pertolongan Allah. Beberapa kisah tersebut diabadikan dalam Al-Qur’an, misalnya dalam QS. Al-Baqarah ayat 249 menceritkan bagaimana Talut bersama tentaranya, “Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah SWT, berkata ‘Betapa banyak kelompok kecil mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah.’ Dan Allah beserta orang-orang yang  bersabar. Kemudian mereka berdoa, ‘Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan tolonglah kami menghadapi orang-orangkafir.”

Dalam ayat yang lain Allah berfirman, “Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan badar, padahal ketika itu kau adalah orang-orang  yang lemah.  Karena  itu bertaqwalah kepada Allah, supaya kamu mesyukurinya.”(QS. Ali  Imran :123)

Kita semua menyadari bahwa sampai saat ini perkembangan IPTEK, sains dan seni masih dipegang oleh  orang-orang  yang  berpaham  sekuler,  yaitu  memisahkan  antar  tiga  hal  tadi dengan  agama. Terlepas  dari  nilai-nilai  yang  terkandung  didalamnya,  pemisahan  antara IPTEK,  sains  dan  seni dengan  agama  tentu  akan  berdampak  besar  pada  kehidupan  kita.  Misalnya  saja,  banyak  bahan pengawet yang diambil dari  daging  babi yang diharamkan atau penggunaan vaksin meningitis yang mengandung minyak babi untuk jama’ah haji dan umroh juga demikian. Mungkinkah perkembangan sains dan teknologi tanpa disertai petunjuk Allah swt akan mendekatkan diri kita pada Sang Pencipta?


Kegiatan ilmiah adalah  perpaduan  antara  dzikir  dan  pikir  mengingat Rabbul Alamin. Sehingga setiap proses kegiatan ilmiah akan mendekatkan diri kita pada Allah.Allah berfirman, “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang, terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi Ulil Albab. Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil  berdiri  atau dalam  keadaan berbaring.  Dan  mereka  memikirkan tentang  penciptaan  langit  dan bumi seraya berkata, ‘Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa api neraka.’” Hal ini perlu kita sadari agar kita bisa meluruskan niat kita dalam menguasai IPTEK, sains dan seni. 

Allah berfirman, “Demi masa, sesungguhnya manusia itu berada dalam kerugian, kecuali yang saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.”(QS. Al-Ashr : 1-3).  Sudah menjadi  tugas  kita untuk  saling tolong menolong dan  mengingatkan sesama, demi menyongsong kemajuan teknologi, sanis dan  seni  agar  kita  menjadi  bangsa  yang  mampu memimpin peradaban. 

“Janganlah kamu bersikap lemah dan janganlah kamu bersedih hati,padahal kamu adalah orang-orang yang paling tinggi derajatnya  jika  kamu  orang-orang  yang beriman. Jika kamu  pada perang uhud mendapat luka,  maka  sesungguhnya kaum  kafir pun mendapat luka yang sama pada  perang  badar. Dan masa kejayaan itu kami pergilirkan diantara manusia agar mereka mendapat pelajaran. Agar Allah dapat membedakan mana yang beriman dan mana yang kafir diantara kamu. Dan agar yang sebagian itu Allah jadikan gugur sebagai syuhada. Allah tidak menyukai orang-orang yang dzalim. Dan agar Allah membersihkan orang-orang yang beriman dari dosa mereka dan membinasakan orang-orang kafir.”(QS. Ali-Imran:139-141)

Dasawarsa kedepan boleh jadi Allah akan menggilirkan generasi kita, umat Islam untuk memimpin peradaban dunia, tentu saja jika kita harus berusaha keras dengan  penuh semangat untuk meraihnya.

Subscribe to receive free email updates: