Hikmah Isra Mi'raj Dalam Kehidupan Sehari-Hari

<=Hikmah Isra Mi'raj Dalam Kehidupan Sehari-Hari=> Hari Momentum Isra Mi’raj Nabi Muhammad Saw dari Masjidil Haram di Mekah ke Masjidil Aqsa di Palestina kemudian naik ke Sidratul Muntaha adalah peristiwa yang sangat fenomenal dalam sejarah umat Islam. Mengapa demikian? Karena dari peristiwa inilah Nabi Muhammad SAW memperoleh perintah ibadah wajib, yakni shalat lima waktu yang langsung dari Allah SWT.
Perintah shalat ini kemudian menjadi ibadah wajib bagi setiap umat Islamdan memiliki keistimewaan tersendiri dibandingkan ibadah-ibadah wajib lainnya. Sehingga, dalam konteks spiritual-imaniah maupun perspektif rasional-ilmiah, Isra Mi’raj merupakan kajian yang tak kunjung kering inspirasi dan hikmahnya bagi kehidupan umat beragama (Islam).
http://aang-zaeni.blogspot.com/2017/04/hikmah-isra-miraj-dalam-kehidupan.html

Bersandar pada alasan inilah, Imam Al-Qusyairi yang lahir pada 376  Hijriyah, dalam bukunya yang berjudul asli ‘Kitab al-Mi’raj’, memberikan peta yang cukup komprehensif seputar kisah dan hikmah dari perjalanan agung Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW, beserta telaahnya. Dengan menggunakan sumber primer, berupa ayat-ayat Al-Quran dan hadist-hadits shahih, dengan cukup gamblang Imam Al-Qusyairi menuturkan peristiwa fenomenal yang dialami Rasulullah saw itu dengan runtut dan detail  sampai  pada  rahasia di balik peristiwa luar biasa ini.

               =>Kendaraan Nabi Saat Isra Mi'raj
               =>Cara Menjaga Hati Agar Selalu Ikhlas
               =>Contoh Khutbah Jumat Bulan Rajab: Pesan dan Makna Bulan Rajab

Dalam pengertiannya, Isra Mi’raj merupakan perjalanan suci, dan bukan sekadar perjalanan “wisata”  biasa bagi Rasulullah. Sehingga peristiwa ini  menjadi  perjalanan bersejarah  yang akan menjadi titik balik dari kebangkitan dakwah Rasulullah SAW John Renerd dalam buku ”In the Footsteps of Muhammad: Understanding the Islamic Experience,”seperti pernah dikutip Azyumardi Azra, mengatakan bahwa Isra Mi’raj adalah satu dari tiga perjalanan terpenting dalam sejarah hidup Rasulullah SAW, selain perjalanan hijrah dan Haji Wada. Isra Mi’raj, menurutnya, benar-benar merupakan perjalanan heroik dalam menempuh kesempurnaan dunia spiritual.

Jika perjalanan hijrah dari Mekah ke Madinah pada 662 M menjadi permulaan dari sejarah kaum Muslimin, atau perjalanan Haji Wada yang menandai penguasaan kaum Muslimin atas kota suci Mekah, maka Isra Mi’raj menjadi puncak perjalanan seorang hamba (al-abd) menuju sang pencipta (al-Khalik). Isra Mi’raj adalah perjalanan menuju kesempurnaan ruhani (insan kamil). Sehingga, perjalanan ini menurut para sufi, adalah perjalanan meninggalkan bumi yang rendah menuju langit yang tinggi. Inilah perjalanan yang amat didambakan setiap pengamal tasawuf. Sedangkan menurut Jalaluddin Rakhmat, salah satu momen penting dari peristiwa Isra Mi’raj yakni ketika Rasulullah SAW  “berjumpa” dengan Allah SWT. Ketika itu, dengan penuh hormat Rasul berkata:

اَلتَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ ِللهِ
“Attahiyatul mubaarakaatush shalawatuth thayyibatulillah”; Segala penghormatan, kemuliaan, dan keagungan hanyalah milik Allah saja”. Allah SWT pun  berfirman,السَّلاَمُ عَلَيْكَ اَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ ''Assalamu’alaika ayyuhan nabiyu warahmatullahi wabarakaatuh”. Mendengar percakapan ini, para malaikat serentak mengumandangkan dua kalimah syahadat. Maka, dari ungkapan bersejarah inilah kemudian bacaan ini diabadikan sebagai bagian dari bacaan shalat.


Selain itu, Seyyed Hossein Nasr dalam buku ‘Muhammad Kekasih Allah’ (1993) mengungkapkan bahwa pengalaman ruhani yang dialami Rasulullah SAW saat  Mi’raj mencerminkan hakikat spiritual dari shalat yang di jalankan umat islam sehari-hari. Dalam artian bahwa shalat adalah mi’raj-nya orang-orang beriman. Sehingga jika kita tarik benang merahnya, ada beberapa urutan dalam perjalanan Rasulullah SAW ini.

Pertama, adanya penderitaan dalam perjuangan yang disikapi dengan kesabaran yang dalam. Kedua, kesabaran yang berbuah balasan dari Allah berupa perjalanan Isra Mi’raj dan perintah shalat. Dan ketiga, shalat menjadi senjata bagi Rasulullah SAW dan kaum Muslimin untuk bangkit dan merebut kemenangan. Ketiga hal diatas telah  terangkum dengan sangat indah dalam salah satu ayat Al-Quran, yang berbunyi: “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk. (Yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa  mereka  akan  kembali kepada-Nya.”
Mengacu pada berbagai aspek diatas, buku setebal 178 halaman ini setidaknya sangat menarik, karena selain memberikan bingkai yang cukup lengkap tentang peristiwa Isra’ mikraj Nabi saw, tetapi juga memuat mi’rajnya beberapa Nabi yang lain serta beberapa wali. Kemudian kelebihan lain dalam buku ini adalah dipaparkan juga mengenai kisah Mi'rajnya Abu Yazid  al-Bisthami. Mi'raj bagi ulama  kenamaan ini merupakan rujukan bagi kondisi, kedudukan, dan perjalanan ruhaninya menuju Allah SWT.

Ia menggambarkan rambu-rambu jalan menuju Allah, kejujuran dan ketulusan niat menempuh perjalanan spiritual, serta keharusan melepaskan diri dari segala sesuatu selain Allah. Maka, sampai pada satu kesimpulan, bahwa jika perjalanan hijrah menjadi permulaan dari sejarah kaum Muslimin, atau perjalanan Haji Wada yang menandai penguasaan kaum Muslimin atas kota suci Mekah, maka Isra Mi’raj menjadi “puncak” perjalanan seorang hamba menuju kesempurnaan ruhani, sehingga Rasuullah   saw bersabda,:
الصلوة معراج المؤمنين

yang artinya ''shalat adalah mi’rajnya seorang mukmin''

Subscribe to receive free email updates: