Makalah Al quran dan Sains Modern

Makalah Al quran dan Sains Modern
 
PENDAHULUAN

Reproduksi merupakan suatu masalah yang dibahas oleh manusia. Untuk memahami mekanisme reproduksi yang kompleks, orang harus tau anatomi, dan harus sudah ada ilmu-ilmu fendomental yang menjadi sumber fisiologi, embriologi, dan lain-lain.

Al-Quran berlainan dengan itu semua. Ia menyebutkan tempat-tempat mekanisme yang tepat dan menyebutkan tahap-tahap yang pasti dalam reproduksi, tanpa memberi bahan yang keliru sedikitpun. Semuanya diterangkan secara sederhana dan mudah difahami oleh semua orang. Reproduksi disebutkan dalam beberapa ayat, walau urut-urutan ayatnya tidak jelas. Tetapi dalam penjelasan mengenai soal-soal khusus.
http://aang-zaeni.blogspot.com/2017/04/makalah-al-quran-dan-sains-modern.html

PEMBAHASAN AL-QURAN DAN REPRODUKSI

A. Reproduksi Manusia

Reproduksi manusia terjadi melalui proses-proses yang umum bagi binatang yang menyusui. Pada permulaanya terjadi pembuahan (fecondation) dalam saluran telur (tuba fallopii). Ada suatu telur (ovum) yang memisahkan diri dari ovarium di tengah-tengah siklus menstruasi.Yang menyebabkan pembuahan adalah sperma lelaki, atau lebih tepat lagi spermatozoa, karena satu sel benih sudah cukup. Satu kadar yang sangat sedikit dari sperma (air mani) mengandung spermatozoa sejumlah puluhan juta.

Cairan itu dihasilkan oleh kelenjar lelaki dan disimpan untuk sementara dalam ruangan dan saluran yang bermuara ke jalan air kencing. Ada kelenjar tambahan yang bertebaran sepanjang saluran sperma, dan menambah zat pelumas kepada sperma, tetapi zat itu tidak mengandung unsur pembuahan.

Baca Juga : Islam dan Peradaban Dunia

Telur yang telah dibuahi kemudian menetap di dalam rahim wanita. Jika embriyo sudah dapat dilihat oleh mata biasa, embriyo tersebut terlihat sebagai sepotong daging yang didalamnya bentuk manusia belum nampak. Bentuk manusia terjadi secara bertahap  dan menimbulkan tulang-tulang serta perlengkapan lainya seperti otot, sistem syaraf dan lain sebagainya.

B. Reproduksi  Manusia Dalam Al-Qur’an

Pada waku sekarang terdapat terjemahan-terjemahan dan tafsiran tentang beberapa ayat yang memberi gambaran salah tentang wahyu Al-quran mengenai hal-hal ilmiah. Kebanyakan terjemah Al-quran menyebutkan pembentukan manusia mulai dengan “segumpal darah” dan adberence (rangkaian). Penjelasan semacam itu sangat tidak dapat diterima oleh seseorang spesialis. Manusia bukan begitu asal mulanya. Dalam ayat-ayat yang membicarakan menetapnya telur dalam uterus (rahim) wanita kita akan melihat kesalahan ahi-ahli keislaman yang tidak mengetahui soal-soal ilmiah keadaan tersebut meyakinkan kita akan pentingnya perpaduan antara pengetahuan bahasa dan pengetahuan ilmiah, agar dapat mengerti makna ayat Al-quran yang membicarakan reproduksi.

Pertama Al-quran menandaskan transformasi terus-menerus yang dialami oleh embriyo dalam uterus (rahim) si ibu. 
يَا أَيُّهَا الْإِنْسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيمِ
الَّذِي خَلَقَكَ فَسَوَّاكَ فَعَدَلَكَ 
فِي أَيِّ صُورَةٍ مَا شَاءَ رَكَّبَكَ
“Hai manusia, apakah yang telah memperdayakanmu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah, yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh) mu seimbang.” (QS. Al-Infithor 6-8)
 مَا لَكُمْ لَا تَرْجُونَ لِلَّهِ وَقَارًا

وَقَدْ خَلَقَكُمْ أَطْوَارًا
“Mengapa kamu tidak mempercayai kebesaran Allah? Padahal Dia sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan kejadian”.(QS. Nuh 13-14).
Disamping pernyataan yang sangat umum, teks Al-quran menarik perhatian kita mengenai soal-soal teks reproduksi yang dapat kita kelompokan sebagai berikut :
  1. Setetes cairan yang dapat menyebabkan pembuahan (fecodation).
  2. Watak zat cair yang membuahi.
  3. Menetapnya telur yang sudah dibuahi.
  4. Perkembangan embriyo.
1. Setetes Cairan Yang Menyebabkan Terjadinya Pembuahan (fecodation).

خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ نُطْفَةٍ فَإِذَا هُوَ خَصِيمٌ مُبِينٌ
“Dia telah menciptakan manusia dari mani tiba-tiba ia menjadi pembantah yang nyata.” (QS. An-Nahl : 4).
Kita harus menterjemahkan kata bahasa Arab: Nuthfah dengan kata “setetes sperma”, perlu diterangkan bahwa “Nuthfah” berasal dari asal kata yang berarti mengalir, kata tersebut dipakai untuk menunjukan air yang tetap ingin berada daam wadah, sesudah wadah itu dikosongkan. Jadi kata itu menunjukan setetes kecil, dan di sini berarti setetes sperma, karena dalam ayat lain diterangkan bahwa setetes itu adalah setetes sperma.

أَلَمْ يَكُ نُطْفَةً مِنْ مَنِيٍّ يُمْنَىٰ
“Bukankah ia dahulu setetes mani yang ditumpahkan?” (QS Al-qiyamah : 37)
Kata bahsa Arab Maniy berarti Sperma. Suatu ayat lain menunjukan bahwa setetes air itu ditaruh ditempat yang tetap (qarar) yang berarti alat kelamin.

ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ
“kemudian kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim)” (QS Al-mu’minun : 13)    
 2. Watak Zat Cair yang Membuahi

Adapun cairan yang memungkinkan pembuahan dengan sifat-sifat tertentu yang disebutkan dalam Al-quran, antara lain:
A. Sperma, seperti yang baru saja diterangkan (surat Al-qiyamah ayat 37).
B. Cairan terpancar.

خُلِقَ مِنْ مَاءٍ دَافِقٍ

“Ia diciptakan dari air yang terpancar.” (Q.S. Ath thariq:6)
C. Cairan yang hina

أَلَمْ نَخْلُقْكُمْ مِنْ مَاءٍ مَهِينٍ

“bukankah kami menciptakan kamu dari air yang hina.” (Q.S. Al mursalat:20)
Sifat hina (mahin) dapat diartikan, bukannya sifat cairan itu sendiri, akan tetapi karena hubungannya dengan fakta bahwa Cairan itu dikeluarkan dari tempat keluarnya air kencing dan memakai saluran yang dilewati air kencing.

D. Campuran atau dicampur.
Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur . . . . .(QS Ad-Dahr :2)
Banyak ahli tafsir seperti Hamidullah, mengira bahwa campuran itu adalah campuran unsur lelaki. Begitu juga alhi-ahli tafsir kuno yang tidak memiliki ide sedikitpun tentang fisiologi pembuahan, khususnya kondisi-kondisi biologi wanita-wanita. Mereka itu mengira bahwa kata “campuran” hanya menunjukan bertemunya unsur lelaki dan wanita.

Apakah unsur-unsur sperma yang bermacam-macam itu ? Cairan sperma dibikin oleh pengeluaran-pengeluaran bermacam-macam yang berasal dari kelenjar seperti berikut :
  • Testis : pengeluaran kelenjar kelamin lelaki yang mengandung spermatozoa yakni sel panjang yang berekor dan berenang dalam cairan seolite.
  • Kantong-kantong benih (besicules seminates) : organ ini merupakan tempat menyimpan spematozoa, tempatnya dekat protrat, organ ini juga mengeluarkan cairan tetapi cairan itu tidak membuahi.
  • Prostrat : mengeluarkan cairan yang memberi sifat krem serta bau khusus kepada sperma.
  • Kelenjar yang tertempel pada jalan air kencing. Kelenjar Cooper/Mery mengeluakan cairan yang melekat, kelenjar Lettre mengeluarkan semacam lendir.
Jika Al-quran berbicara tentang cairan yang membuahi dan terdiri dari beberapa unsur, yang ia memberitahu kepada kita bahwa terjadinya manusia adalah karena sesuatu yang  dapat dikeluarkan dari cairan tersebut. Seperti disebutkan dalam surat As-sajadah ayat 8 :
 
ثُمَّ جَعَلَ نَسْلَهُ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ مَاءٍ مَهِينٍ
“kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani)” (QS As-sajadah : 8)
Kata bahasa Arab yang diterjemahkan di sini sebagai sari (quintessence) berarti suatu bahan yang di keluarkan atau keluar dari bahan lain dan merupakan bagian yang terbaik daripada bahan itu. Maksudnya adalah satu bahan daripada suatu keseluruhan.

Baca Juga : Hikmah Isra Mi'raj Dlm Kehidupan Sehari hari

Yang menyebabkan pembuahan telur atau  memungkinkan reproduksi adalah sebuah sel panjang yang besarnya 1/10.000 (sepersepuluh ribu) milimeter. Satu daripada beberapa juta sel yang dikeluarkan oleh manusia dalam keadaan normal dapat masuk kedalam telur wanita (ovule). Sejumlah yang sangat besar tetap dijalan dan tidak sampai ke trayek yang menuntun dari kelamin wanita sampai ke telur (ovule) di dalam rongga rahim (uterus dan trompe). Dengan begitu maka hanya bagian sangat kecil daripada cairan yang menunjukan aktifitas sangat komplek.

3. Nidasi Telur Yang Dibuahi Dalam Rahim

Telur yang sudah di buahkan dalam “Trompe” turun bersarang didalam rongga rahim (cavum uteri). Inilah yang dinamakan “bersarangnya telur”. Al-quran menamakan uterus tempat telur di buahkan itu Rahim (jamaknya Arham).

وَنُقِرُّ فِي الْأَرْحَامِ مَا نَشَاءُ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى ثُمَّ نُخْرِجُكُمْ طِفْلًا ثُمَّ لِتَبْلُغُوا أَشُدَّكُمْ
“Dan kami tetapkan dalam rahim apa yang kamu kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan ” (QS Al-hajj : 5).
Menetapnya telur dalam rahim terjadi karena tumbuhnya jonjot (villi) yakni perpanjangan telur yang akan menghisap dari dinding rahim, zat yang perlu bagi membesarnya telur seperti akar tumbuh-tumbuhan masuk ke dalam tanah. Pertumbuhan semacam ini mengokohkan telur dalam rahim. Pengetahuan tentang hal ini baru diperoleh manusia pada zaman modern.

Pelekatan ini disebutkan dalam Al-quran 5 kali. Mula-mula dua ayat pertama daripada surat Al-‘alaq.
“Yang menciptakan manusia dari sesuatu yang melekat”. “Sesuatu yang melekat” adalah terjemahan kata bahasa Arab : ‘alaq. Ini adalah arti yang pokok. Arti lain adalah “gumpalan darah” yang sering disebutkan dalam terjemahan Al-quran. Ini adalah suatu kekeliruan yang harus di koreksi. Manusia tidak pernah melewati tahap “gumpalan darah”. Ada lagi terjemahan “alaq” dengan “lekatan” (adherence) yang juga merupakan kata yang tidak tepat. Arti pokok yakni “sesuatu yang melekat” sesuai sekali dengan penemuan Sains Modern.

Ide tentang “sesuatu yang melekat” disebutkan dalam 4 ayat lain yang membicarakan transformasi urut-urutan semenjak tahap “setetes sperma” sampai sempurna, diantaranya :

“Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur) maka (ketahuilah) bahwasanya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah (sesuatu yang melekat) kemudian dari segumpal daging yang sempurna keadaannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu” (QS Al-Hajj : 5)
 “Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah (sesuatu yang melekat)” (QS Al-Mu’minun : 14).
Anggota tempat “mengandung” itu terjadi dinamakan “tempat menetap yang kokoh”.

4. Perkembangan Embriyo di Dalam Peranakan.  
     
Setelah “sesuatu yang melekat” yaitu kata-kata yang telah kita lihat kebenarannya, Al-quran mengatakan bahwa embriyo melalui tahap : daging (seperti daging yang dikunyah), kemudian nampaklah tulang yang di selubungi dengan daging (daging segar).
“Kemudian air mani itu kami jadikan sesuatu yang melekat, lalu Kami jadikan sesuatu yang melekat itu segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tuang belulang, lalu tulang-belulang itu Kami bungkus dengan daging, kemudia Kami jadikan ia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Suci Allah Pencipta yang paling baik.” (QS Al-mu’minun :14)
Daging (seperti yang dikunyah) adalah terjemahan kata bahasa Arab mudlghah; daging (seperti daging  segar)  adalah terjemahan lahm Perbedaan perlu digaris bawahi, embriyo pada permulaannya merupakan  benda yang nampak kepada mata biasa (tanpa alat), dalam tahap tertentu daripada perkembangannya, sebagai  daging  dikunyah. Sistem  tulang, berkembang pada benda tersebut dalam yang dinamakan "mesenhyme." Tulang yang sudah  terbentuk  dibungkus  dengan  otot-otot, inilah yang dimaksudkan dengan "lahm."

Dalam perkembangan embriyo, ada beberapa bagian yang muncul, yang tidak seimbang proporsinya dengan yang akan menjadi manusia nanti, sedang bagian-bagian lain tetap seimbang. Bukankah arti kata bahasa Arab "mukhallaq"  yang  berarti "dibentuk dengan proporsi seimbang" dan dipakai dalam ayat 5 surat 22, disebutkan untuk menunjukkan fenomena ini? Qur-an juga menyebutkan munculnya pancaindera dan hati (perasaan, af-idah), Surat 32 ayat 9.
Artinya: "Kemudian Dia menyempurnakannya dan meniupkan ke dalam tubuhnya roh (ciptaan)Nya, dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati."
Qur-an juga menyebutkan terbentuknya seks: Surat 53 ayat 45-46.
Artinya: "Dan bahwasanya Dialah yang menciptakan berpasang- pasangan laki-laki dan perempuan, dan air mani apabila dipancarkan."
5. Tahap pemberian ruh

Setelah melalui tiga tahapan, pertumbuhan janin semakin sempurna dengan ditiupkanya ruh kedalamnya. Pernyataan bahwa ruh ditiupkan kedalam janin setelah berumur 3 bulan, dikuatkan oleh penegasan Rasulullah saw,dalam hal ini beliau bersabda; “Setiap kamu dikumpulkan dalam rahim ibumu selama empat puluh hari ,kemudian berubah menjadi sesuatu yang melekat juga dalam masa empat puluh hari,kemudian berubah menjadi gumpalan daging juga dalam masa empat puluh hari.Setelah itu Allah mengutus malaikat untuk melengkapi empat hal, yaitu rezeki, ajal, sengsara, dan bahagia. Barulah setelah itu ditiupkan ruh ke dalamnya (HR.Bukhari).

Semua pernyataan-pernyataan Qur-an harus dibandingkan dengan hasil-hasil Sains modern; persesuaian diantara kedua hal tersebut sangat jelas. Tetapi juga sangat perlu untuk membandingkannya dengan kepercayaan-kepercayaan umum  yang tersiar  pada  waktu  Qur-an, agar kita mengetahui  bahwa manusia pada waktu itu tidak mempunyai konsepsi seperti yang diuraikan oleh Qur-an mengenai problema-problema tertentu. Mereka itu tidak dapat menafsirkan Qur-an seperti yang kita lakukan sekarang setelah hasil Sains modern membantu kita. Sesungguhnya hanya baru pada  abad  XIX,  manusia  mempunyai pandangan yang jelas tentang hal-hal tersebut.

Selama abad pertengahan  mitos  dan  spekulasi tanpa dasar merupakan sumber daripada doktrin yang bermacam-macam, yang tetap dianut orang setelah abad pertengahan selesai. Banyak orang tidak  tahu bahwa tahap fundamental  dalam  sejarah embryologi  adalah  pernyataan  Harvey  pada th. 1651 bahwa: "Semua yang hidup itu berasal dari telor."

Juga banyak orang tidak tahu  bahwa  embriyo itu  terbentuk sedikit  demi  sedikit,  sebagian demi sebagian. Tetapi pada waktu ilmu pengetahuan  baru  telah  mendapat  bantuan  dari penemuan  baru yaitu mikroskop untuk menyelidiki soal-soal kita ini, masih terdapat banyak orang yang membicarakan peran  telur  spermatozoide. Seorang naturalis, yaitu Buffon termasuk golongan ovist (yaitu golongan yang menganut  teori pengkotakan).  Bonnet  salah seorang penganut teori tersebut mengatakan  bahwa  telor  Hawa,  ibu  dari  jenis   manusia, mengandung  segala  bibit jenis manusia, yang disimpan dalam pengkotakan,  yang  satu  didalam  yang  lainnya.   Hipotesa semacam ini masih diterima orang pada abad XVIII.

Lebih seribu tahun sebelum zaman tersebut, di mana doktrin-doktrin khayalan masih  mendapat pengikut, manusia sudah diberi Qur-an oleh Tuhan. Pernyataan-pernyataan Qur-an mengenai reproduksi manusia menjelaskan hal-hal  yang  pokok dengan  istilah-istilah sederhana yang manusia memerlukan berabad-abad untuk menemukannya.

KESIMPULAN

Islam telah memberikan petunjuk cara memilih pasangan hidup untuk menciptakan keturunan yang sehat dan sholeh sejak periode prakonsepsi bahkan sejak pranikah, untuk memilih calon suami atau istri. Memelihara keturunan merupakan salah satu dari tujuan syariat islam.

Untuk mendapatkan keturunan yang baik dan sah maka kelahiran anak harus melalui proses pernikahan untuk meninggikan hasrat tersebut Allah memberikan kenikmatan yang luar  biasa dalam hubungan suami dan istri.

  DAFTAR PUSTAKA

Bucaille, maurice.1978.Bibel, Quran dan Sains Modern. Jakarta:Bulan Bintang.
W,  Ahsin.2010.Fikih Kesehatan cetakan kedua. Jakarta: AMZAH.

Subscribe to receive free email updates: