Definisi Kepemimpinan, Tipologi, Fungsi, dan Potret Ideal Kepemimpinan

Definisi Kepemimpinan, Tipologi, Fungsi, dan Potret Ideal Kepemimpinan

Al-haqqu bila Nidzam Yablughul Baathilu Binnidzam “kebenaran yang tidak terorganisir dengan baik, akan terkalahkan oleh kejahatan (kebathilan) yang tertata dan terorganisir” (Umar ibn Kaththab).

Suatu organisasi dapat hidup dan berjalan dengan benar, terarah dan mencapai tujuan dengan efektif dan efisien apabila dikelola dengan baik. Untuk dapat mengelola dan mengatur organisasi dengan baik diperlukan adanya kecakapan dan kemampuan dalam hal managerial (management skill). Sebab dengan adanya kecakapan dan kemampuan dalam hal ini, semua sumber daya organisasi dapat difungsikan secara optimal dan produktif yang pada akhirnya tujuan organisasi dapat dicapai dengan berdaya guna dan berhasil guna.

Ada beberapa definisi tentang management, salah satunya adalah pendapat Dr. Whinardi yang mengatakan: “Management adalah suatu proses yang khas yang terdiri dari aktivitas perencanaan, pengorganisasian, menggerakkan dan pengawasan guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan dengan memanfaatkan sumberdaya organisasi (manusia dan alam)”.
http://aang-zaeni.blogspot.com/2017/04/definisi-kepemimpinan-tipologi-fungsi.html

Dari rumusan diatas, maka dapat kita pahami bahwa:
  1. Management adalah suatu proses untuk mencapa tujuan tertentu.
  2. Management merupakan serangkaian tindakan.
  3. Management mempunyai unsur yaitu: perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan pengawasan (POAC: planning, organizing, actuating, controlling). Dalam pandangan Luther Gulick, unsur-unsur management adalah : planning (perencanaan), organizing (pengorganisasian), staffing (penyusunan pengurus), directing (pemberian bimbingan), coordinating (pengkoordinasian), reporting (pelaporan) dan budgeting (penganggaran).
A. Definisi Kepemimpinan

Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi kegiatan seseorang atau kelompok di dalam usaha mengarahkan tingkah laku orang lain untuk mencapai tujuan dalam situasi tertentu.

B. Tipologi Kepemimpinan

Setiap pemimpin memiliki tipologi yang berbeda dalam memimpin sebuah organisasi atau institusi. Kepemimpinan Otoriter, yaitu kepemimpinan yang berdasar pada kekuatan mutlak, sehingga keputusan ada di tangan pemimpin yang menganggap dirinya lebih tahu dalam segala hal daripada anggotanya. Tujuan pemimpin menjadi tujuan kelompok.

Kepemimpinan Liberal/bebas, yaitu kepemimpinan dimana anggota kelompok diberi kebebasan dalam menentukan tujuan kelompok. Pemimpin bersifat pasif, tidak ada inisiatif.

Kepemimpinan Demokratis, yaitu kepemimpinan dimana pemimpin di dalam melakukan tugasnya melibatkan secara kolektif anggotanya, sehingga keputusan merupakan keputusan bersama.

Kepemimpinan Kharismatik, yaitu kepemimpinan yang berdasarkan tradisi dan sejarah merupakan dasar hukum istimewa sang pemimpin, yaitu secara turun temurun.

Kepemimpinan Rasional, yaitu kepemimpinan atas dasar pertimbangan rasionalitas, norma atau aturan disusun secara rasional, birakratis (bersandar pada aturan) dan sistem jabatan yang bertingkat-tingkat menjadi cirri khasnya, misal: kepala negara.

C. Fungsi Kepemimpinan
  • Fungsi analisis (pengolah kebutuhan, masalah, tujuan dan keadaan yang dipimpin baik potensi maupun masalahnya).
  • Fungsi pengarahan (dengan membagi tugas dan tanggung jawab, wewenang serta membimbing dan mengarahkan).
  • Fungsi pembentuk susunan (ketertiban, keamanan, keterbukaan, kekeluargaan dan motivasi).
  • Fungsi pemeliharaan (suasana, semangat kerja, peningkatan dan pengembangan usaha yang telah dilaksanakan).
D. Potret Ideal Kepemimpinan

Seorang pemimpin yang baik adalah: berwibawa, jujur, dapat dipercaya, bijaksana, berani, mawas diri, tegas, bertanggung jawab, sederhana, berjiwa besar, dinamis, bersikap wajar, mengayomi, penuh pengabdian pada tugas.

Supaya menjadi pemimpin yang baik, menurut mustafied seorang pemimpin harus memiliki:
  • Power of  Vision, Quwwatul fikriyah, kekuatan gagasan.
  • Power of Strateging, quwwatus siyasiyyah, kekuatan strategi.
  • Power of Comitmen, quwwatul istiqomah wal itqon, kekuatan komitmen dan keyakinan terhadap organisasi.
  • Power Sensitive, quwwatul hissiyah li anwa’il masail, kekuatan kesensitifan terhadap suatu permasalahan.
  • Power of Action, quwwatul harakah, kekuatan gerakan dan jaringan.
Baca Juga : Sejarah Kerasulan Nabi Muhammad SAW Periode Mekah

size: � p ; � м ly:"Arial","sans-serif";mso-ansi-language: SV'>

2.   Prinsip-prinsip dasar team kerja?

Dikerjakan bersama atas pembagian job ( job discription)
  • Visi dan misi yang sama
  • Untuk mencapai tujuan bersama
  • Solid. Kesolid-an team akan bisa di bangun ketika ada kesadaran posisi antar masing masing person.
  • Efektif dan efisien Efisien adalah kemampuan untuk melakukan pekerjaan DENGAN BENAR. Efektifitas adalah kemampuan untuk melakukan pekerjaan YANG BENAR. Efisiensi berkaitan dengan biaya, sementara efektifitas berkaitan dengan waktu
  • Taktis dan strategis (tepat sasaran)
3. Komponen-komponen penting dalam pembentukan suatu team kerja?
  • Kesadaran akan tanggungjawab bersama
  • Trust atau kepercayaan yang tinggi pada suatu team * (bisa dibuat suatu game)
  • Saling mendukung dan saling melengkapi antar person dalam team
  • Evaluasi dan refleksi
4. Bagaimana mengorganisasikan adanya kemungkinan perbedaan kepentingan person  dalam sAtu team?
  • Inventarisasi (pencarian) berbagai gagasan dan pemikiran masing-masing person dalam team kerja
  • Inventarisasi perbedaan pendapat antar person dalam suatu team
  • Analisa kebutuhan team vis a vis kepentingan personal
  • Proses dialog untuk mempertemukan perbedaan-perbedaan itu (: menarik pada subtansi persoalan yang sedang dihadapi)
5. Pengorganisasian di lapangan (: realisasi kerja)

Pengorganisasian dilapangan dibutuhkan sebagai perangkat mikro dalam membentuk suatu team yang solid ketika berhadapan dengan suatu persoalan atau sebuah kegiatan. Ada tiga tahapan dalam mengorganisasikan suatu team di lapangan:
  • 1. Menyusun Renstra (Rencana Strategis)
Renstra dibutuhkan guna memetakan rencana secara matang dalam melaksanakan suatu kegiatan yang dipilih, termasuk di dalamnya terdapat pembagian-pembagian kerja dalam suatu team sesuai kemampuan serta karakteristik person-personnya. Serta yang tak kalah pentingnya adalah adanya antisipasi ketika berhadapan dengan resiko (kemungkinan buruk) di luar rencana.
  • 2. Melaksanakan aksi (kegiatan)
Kegiatan yang dilakukan harus dipahami sebagai kebutuhan bersama, dan dilaksanakan sesuai amanat renstra.
  • 2. Melakukan Evaluasi
Evaluasi diproyeksikan untuk mengukur sejauh mana kesolidan team kerja.

6. Teknik pengambilan resiko yang minimal

Resiko adalah suatu kewajaran dalam setiap pengambilan sikap dan aksi. Namun, sebisa mungkin resiko harus mampu diminimalisir. Karena ini menyangkut prinsip efektifitas dan efisiensi aksi dalam suatu team.
  • Konflik-konflik internal merupakan peristiwa yang wajar, semestinya mampu dikelola dengan baik. Artinya, benturan benturan kepentingan antar person tidak seharusnya menjadi hambatan dari dari suatu team kerja yang solid. Tergantung bagaimana mengelolanya menjadi sebuah gagasan (sumbangsih pemikiran) dalam suatu team.
  • Melakukan aksi diluar kendali, merupakan suatu tantangn terberat dalam suatu team work. Dalam hal ini harus ada system kontrol (:Controlling system) antar person dalam team.
Baca Juga : Membangun Budaya Muhasabah Social Control

KOMUNIKASI

A. Pengertian Komunikasi

Menurut kamus psikologi Dictionary of Behavioral Science, menyebutkan enam pengertian komunikasi, yaitu:
  1. Penyampaian perubahan energi dari satu tempat ke tempat yang lain seperti dalam sistem syaraf atau penyampaian gelombang-gelombang suara.
  2. Penyampaian atau penerimaan signal atau pesan oleh organisme
  3. Pesan yang disampaikan
  4. Proses yang dilakukan satu sistem untuk mempengaruhi sistem yang lain melalui pengaturan signal-signal yang disampaikan
  5. Pengaruh satu wilayah pesona pada wilayah pesona yang lain sehingga perubahan dalam satu wilayah menimbulkan perubahan yang berkaitan dengan wilayah lain.
  6. Pesan pasien kepada pemberi terapi dalam psikoterapi
B. Fungsi Komunikasi

Komunikasi menjalankan empat fungsi utama di dalam suatu kelompok atau organisasi, antara lain:
  • 1). Kendali (kontrol, pengawasan)
Komunikasi bertindak untuk mengendalikan perilaku anggota organisasi. Bila karyawan diminta untuk mengkomunikasikan keluhannya berkaitan dengan pekerjaan kepada atasan langsungnya, sesuai dengan uraian tugasnya, atau sesuai dengan kebijakan perusahaan, komunikasi tersebut menjalankan suatu fungsi kontrol.
  • 2). Motivasi
Komunikasi membantu perkembangan motivasi dengan menjelaskan kepada karyawan apa yang harus dikerjakan, bagaimana mereka bekerja yang baik, dan apa yang dapat dikerjakan untuk memperbaiki kinerja.
  • 3). Pengungkapan emosional
Bagi banyak karyawan, kelompok kerja mereka merupakan sumber pertama untuk interaksi sosial. Komunikasi yang terjadi di dalam kelompok itu merupakan mekanisme fundamental dimana anggota–anggota menunjukkan kekecewaan dan rasa puas mereka. Oleh karena itu, komunikasi menyiarkan ungkapan emosional dari perasan dan pemenuhan kebutuhan sosial
  • 4). Informasi
Komunikasi memberi informasi yang diperlukan individu dan kelompok untuk mengambil keputusan dengan meneruskan data guna mengenali dan menilai pilihan – pilihan alternatif.

C. Proses Komunikasi

Proses komunikasi merupakan langkah-langkah antara satu sumber dan penerima yang menghasilkan pentransferan dan pemahaman makna. Proses ini terdiri dari tujuh bagian, yakni: sumber komunikasi, pengkaderan, pesan, saluran, pendekodean, penerimaan dan umpan balik.

Sumber mengawali suatu pesan dengan pengkodean suatu pikiran. Pesan merupakan suatu produk fisik yang sebenarnya  dari pengkodean sumber. Pesan kita dipengaruhi oleh kode atau kelompok simbol yang kita gunakan untuk mentransfer makna, isi dari pesan itu sendiri, dan keputusan yang kita ambil dalam memilih dan menata baik kode maupun isi. Pesan ini disampaikan melalui sebuah saluran yang dipilih oleh sumber, baik saluran formal maupun saluran informal. Saluran formal biasa digunakan untuk meneruskan pesan mengenai kegiatan anggota yang berkaitan dengan pekerjaan. Secara tradisional saluran mengikuti jaringan otoritas di dalam organisasi. Sedangkan saluran informal dipilih untuk meneruskan pesan pribadi atau sosial. Pesan ini diarahkan kepada penerima. Tetapi sebelum pesan dapat diterima, simbol – simbol harus diterjemahkan ke dalam suatu ragam yang dapat dipahami oleh si penerima. Proses penerjemahan ini dinamakan pendekodean pesan. Tautan akhir dalam proses komunikasi adalah umpanbalik, yaitu mengembalikan pesan ke dalam sistem guna meemeriksa kesalahpahaman. Umpan balik ini merupakan pengecekan mengenai berapa suksesnya kita dalam mentransfer pesan kita seperti yang dimaksudkan semula.

Baca Juga : Berlomba-Lomba Berbuat Kebaikan

Penghalang Komunikasi Efektif

1). Penyaringan

Penyaringan adalah manipulasi informasi yang dilakukan seorang pengirim dengan maksud agar informasi itu akan tampak lebih menguntungkan di mata penerima. Penentu utama dari penyaringan adalah banyaknya tingkat dalam suatu struktur organisasi.

2). Persepsi Selektif

Persepsi selektifr muncul karena penerima dalam proses komunikasi secara selektif melihat dan mendengar berdasarkan kebutuhan, motivasi, pengalaman, latar belakang, dan karakteristik pribadi mereka yang lain.

3). Emosi

Bagaimana perasaan si penerima ketika menerima suatu pesan komunikasi akan mempengaruhi bagaimana ia menafsirkan pesan itu. Pesan yang sama yang diterima saat kita marah atau bingung kemungkinan besar akan ditafsirkan secara lain dibanding bila kita dalam suasana netral.

4). Bahasa

Kata–kata tidak sama artinya pada orang yang berlainan. Bahasa yang digunakan seseorang dipengaruhi oleh tiga variabel, yaitu: usia, pendidikan, dan latar belakang budaya.

Komunikasi Di Dalam Organisasi

Desain organisasi harus memungkinkan terjadinya komunikasi ke empat yang berbeda: ke bawah, ke atas, horizontal dan diagonal. Karena keempat arah komunikasi ini merupakan kerangka komunikasi dalam tubuh organisasi, marilah kita kaji secara singkat satu demi satu. Hal ini akan memungkinkan kita untuk memahami lebih baik berbagai hambatan komunikasi yang efektif dalam organisasi, serta cara untumk mengatasi hambatan tersebut.

Komunikasi ke Bawah (Downward Communication)

Komunikasi ke bawah mengalir dari individu di tingkat atas hirarki kepada orang-orang di tingkat bawah. Bentuk komunikasi ke bawah yang paling umum adalah instruksi kerja, memo resmi, pernyataan kebijaksanaan, prosedur, buku pedoman, dan publikasi perusahaan. Di dalam kebanyakan organisasi, komunikasi ke bawah, sering tidak lengkap dan tidak akurat. Hal ini terbukti dari seringnya terdengar pernyataan di kalangan anggota organisasi bahwa `kita sama sekali mengetahui apa yang terjadi`. Keluhan tesebut menunjukkan tidak cukupnya komunikasi ke bawah dan perlunya pegawai mendapatkan informasi yang sesuai dengan pekerjaan dapat menimbulkan tekanan batin yang tidak perlu di antara anggota organisasi.

Komunikasi ke Atas (Upward Communication)

Organisasi yang efektif memerlukan komunikasi ke atas sama banyak dengan komunikasi ke bawah yang diperlukannya. Komunikasi ke atas yang berhasil sering digunakan untuk mengambil keputusan yang sehat. Beberapa arus komunikasi ke atas yang paling umum adalah: kotak saran, pertemuan kelompok, dan prosedur naik banding atau pengaduan.
  • Komunikasi Horizontal
Komunikasi horizontal misalnya komunikasi antara departemen produksi dengan departemen penjaual dalam organisasi bisnis da di antara jurusan atau fakultas dalam sebuah universitas – diperlukan untuk mengkoordinasikan dan mengintegrasikan berbagai fungsi organisasi.
  • Komunikasi Diagonal
Komunikasi diagonal bersilang melintasi fungsi dan tingkatan dalam organisasi, serta penting dalam situasi dimana anggota tidak dapat berkomunikasi lewat satu saluran ke atas, ke bawah, ataupun horizontal.

Komunikasi Antar Pribadi

Komunikasi mengalir dar4I orang ke orang secara langsung atau dalam suasana kelompok. Arus semacam itu disebut komunikasi antar pribadi dan dapat bervariasi dari perintah langsung sampai dengan percakapan sepintas lalu. Perilaku antarpribadi tidak akan ada tanpa komunikasi antarpribadi. Komunikasi antarpribadi menghubungkan antar orang-orang.

Masalah yang timbul ketika manajer berusaha untuk berkomunikasi dengan orang lain dapat disebabkan oleh perbedaan persepsi dabn perbedaan gaya antarpribadi. Setiap manajer memandang dunia sesuai dengan latar belakang, pengalaman, kepribadian, kerangka acuan, dan sikapnya. Cara manajer untuk berhubunan dan belajar dari lingkungan (termasuk masyarakat di lingkungan itu) adalah melalui informasi yang diterima dan dikirimkan. Dan cara manajer menerima dan mengirimkan informasi sebagian tergantung pada bagaimana hubungan mereka dengan dua pengirim informasi yang sangat penting, yaitu diri mereka sendiri dan orang lain.

Subscribe to receive free email updates: