Materi Khutbah Jumat Yang Pendek: Kesantunan Cara Nabi Menuntut Hak

=>Materi Khutbah Jumat Yang Pendek: Kesantunan Cara Nabi Menuntut Hak<= Rasulullah SAW adalah manusia yang mempunyai derajat akal yang disebut oleh para filosof seperti al-Farabi dan Ibn Sina dengan al-‘aqlal-mustafad, yakni akal yang mampu menangkap informasi dan kehendak Allah secara pasti. Oleh karena itu, apa yang dikatakan, dilakukan, dan dipikirkan oleh Rasulullah SAW adalah di bawah kendali Allah SWT. Dalam hal ini, marilah kita “berguru” pada Sang Guru Agung Rasulullah SAW dalam kita menjalani kehidupan di dunia yang sangat indah ini.

Baca Juga=>Teks Khutbah Jumat: Hakikat Manusia & Kemanusiaan Menurut Alquran
               =>Tujuh Dimensi Agama Menurut Ninian Smart
               =>Khutbah Jumat Pertama dan Kedua: Menghadapi Masa Depan Yg Lebih Baik

Tahun kedua hijrah, tepatnya pada bulan Rajab terjadi sebuah peristiwa perpindahan kiblat dalam sejarah umat Islam. Kiblat salat yang sebelumnya Baitul Maqdis di Yerusalem pada tahun ini berubah atas izin Allah kembali ke Baitullah (ka’bah) di Makah. Peristiwa ini terekam dalam hadits Rasulullah SAW,

Rasulullah SAW pertama kali melaksanakan shalat dengan menghadap Ka'bah adalah shalat 'Ashr yang dilaksanakannya secara berjamaah. Kemudian salah seorang yang selesai bermakmum kepada Nabi keluar dan pergi melewati sebuah masjid pada saat jamaahnya sedang ruku' menghadap Baitul Maqdis. Lantas orang itu berkata, "Demi Allah, baru saja saya shalat bersama Rasulullah SAW menghadap ke Baitullah di Makkah." Maka dengan segera mereka mengubah kiblat menghadap ke Baitullah.
http://aang-zaeni.blogspot.com/2017/04/materi-khutbah-jumat-pendek-kesantunan.html

“Seseorang” yang disebut dalam hadits tersebut adalah Abbad bin Bisyr, sedangkan jamaah salat 'Ashr tersebut adalah Bani Salamah. Peristiwa ini sungguh agung sehingga setiap kita tidak boleh melupakannya sedikitpun.

Baca Juga=>Teks Khutbah Jumat Energi Tawakkal
               =>Makna Tauhid dan Makna 2 Kalimat Syahadat Yg Wajib diketahui
               =>Iman Islam & Ihsan Serta Korelasi Antara Ketiganya

Hadirin yang dirahmati Allah SWT,

Apakah kita pernah memperhatikan apa di balik peristiwa itu? Apa yang bisa kita teladani dari latar belakang yang melandasi peristiwa itu? Tentu kita juga tidak boleh lupa sedikitpun atau bahkan melalaikan sekejap pun!

Untuk mencari keteladanan dari Rasulullah itu, kita tidak sedang membicarakan bagaimana perpindahan kiblat itu, tetapi value yang ada di balik perpindahan kiblat itu. Sejarah perpindahan kiblat tidak terjadi begitu saja, namun dilatar belakangi oleh sebuah perjalanan panjang sekitar 16-17 bulan.

Makkah, dalam sejarah Islam merupakan “segala-galanya”. Target perjuangan Rasulullah adalah Makah. Beliau lahir di Makah, awal berjuang di Makah, dan akhir perjuangan adalah Makah yakni peristiwa Fath Makkah. Dengan kata lain Makah adalah “target” perjuangan, karena posisi Makah sangat strategis baik dari aspek teologis, politis, dan sosiologis.

Baca Juga=>Taswuf dan Sufisme dalam Pandangan Islam
               =>Konsep Ma'rifat Menurut Al Ghazali
               =>Konsep Mahabbah Rabi'ah Al Adawiyah

Dalam konteks teologis, Makah merupakan Baitullah yang dibangun oleh manusia yang pertama kali, yakni dibangun oleh Nabiullah Ibrahim –Bapak Tauhid, ajaran para Nabi. Atas dasar hal inilah Rasulullah sangat berhak untuk “menyatu” dengan “ruh” Makah, yakni ketauhidan dan peribadatan. Oleh karena itu, ketika arah kiblat dirubah ke Baitul maqdis di Yerusalem ada semacam “kekecewaan” Rasulullah. Namun, sebagai seorang yang agung, beliau tetap tunduk dan taat kepada Allah, sebagaimana ketaatan Ibrahim untuk menyembelih putranya Ismail. Ketundukan ini juga harus diiringi dengan cercaan dan cemoohan orang-orang Yahudi. Rasulullah tetap keukeuh dengan sikap istiqamahnya!

Makah bagi Rasulullah adalah hak teologis, politis, dan sosiologis, karena Makah adalah warisan dari Ibrahim! Maka, selama 16-17 bulan Rasulullah “merasa” haknya dikurangi. Namun, apa yang dilakukan oleh Rasulullah? Beliau tidak pernah menunjukkan sikap yang mencolok untuk dikembalikan haknya tersebut. Yang dilakukan oleh Rasulullah adalah selalu menengadahkan wajah ke langit sebagai tanda “permohonan” kepada Allah supaya menurunkan wahyu untuk mengembalikan kiblat ke Makah kembali. Sikap ini terkam dalam al-Quran,

Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.

Baca Juga=>Khutbah Jumat Di Balik Ajaran Islam
               =>Pengertian Surga dan Neraka Lengkap Beserta Penghuninya
               =>Pendekatan Teologis dalam Metodologi Studi Islam

Hadirin yang dirahmati Allah SWT,

Apa yang dilakukan oleh Rasulullah adalah sebuah puncak kesantunan dalam menuntut hak. Cara menengadah ke langit adalah bahasa nun verbal yang mencerminkan sebuah kesantunan. Dalam perspektif keilmuan kini, misalnya Psikologi Komunikasi, Penelope Brown dan Stephen Levinson mengungkapkan dalam karyanya Politeness: Some Universals in Language Usage (1987) bahwa politeness (kesantunan) dalam berkomunikasi merupakan sebuah “sikap” yang tidak meninggalkan ancaman bagi pihak-pihak yang terlibat dalam relasi komunikasi itu. Oleh karena itu, Brown & Levinson mengatakan bahwa kesantunan yang positif akan memberikan “kesan” yang baik terhadap semua pihak yang terlibat.

Apa yang dilakukan oleh Rasulullah merupakan sebuah komunikasi nun-verbal yang menunjukkan sebuah kenyamanan bagi siapa saja. Sekarang, bagaimana kita sebagai umat Rasulullah meneladani beliau dalam menuntut hak? Apakah dampak langsung salawat kita siang dan malam jika selalu menunjukkan ketidaksantunan dalam menuntut hak sementara Rasulullah yang kita shalawati mencontohkan sebuah kesantunan?!

Tentu jawaban dari pertanyaan itu terpulang kepada kita semua. Apakah kita akan santun atau tidak sementara kita mengaku umat Rasulullah dan menunggu syafa’atnya. Oleh karena itu, marilah siang hari ini kita mantabkan untuk mencontoh pribadi Rasulullah Yang selalu menunjukkan kesantunan dalam menuntut hak dengan meninggalkan kenyamanan bagi semuanya.Wallâhua’lam.

Demikian Materi Khutbah Jumat Yang Pendek yang penulis sampaikan. Semoga bermanfaat!

Bârakallâhulîwa lakum wajamî’ilmuslimîn,Wastaghfirullâhal-‘Adhîm …

Subscribe to receive free email updates: