Khutbah Jumat Meneladani Kepemimpinan Rasulullah SAW


1. Salam.
2. Hamdalah, Syahadat, Shalawat.
3. Landasan : Al-Quran,Q.S An-Nisaa: 59 dan Al-Hadits: Sesungguhnya seburuk-buruknya seorang pemimpin adalah yang dhalim terhadap rakyatnya (HR.Muslim)

Hadirin, sidang jum'at yang dimulyakan Allah SWT.

Ayat Al Quran yang dibacakan pada awal khutbah tadi membicarakan tentang kepemimpinan: " Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul, Ulil Amri (Pemimpin) diantara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (AlQuran) dan Rasul (Sunnahnya) jika kamu beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang demikian itu lebih utama bagimu dan lebih baik akibatnya". (QS.An.Nisaa: 59).

Bahkan ketika Allah SWT. Akan menciptakan Adam, Allah memakai istilah khalifah, yang sangat erat kaitannya dengan kepemimpinan. Dengan demikian, persoalan kepemimpinan telah ada sejak penciptaan manusia masih dalam rencana Allah.
http://aang-zaeni.blogspot.com/2017/04/khutbah-jumat-meneladani-kepemimpinan.html

Empat fungsi kepemimpinan Rasul dan 6 sifat dasar kepemimpinannya yang dikembangkan oleh teori kepemimpinan modern, yaitu fungsi pathfinding (Perintis), fungsi aligning (Penyelaras), fungsi empowering (Pemberdayaan), dan fungsi modelling (Panutan). Sedang kan 6 sifat dasarnya adalah : visioner, berkemauan kuat, integritas, amanah, rasa ingin tahu, dan berani.
  • 1). Fungsi Perintis mengungkapkan bagaimana upaya pemimpin memahami dan memenuhi kebutuhan utama para stakeholder nya, misi, dan nilai-nilai yang dianutnya serta yang berkaitan dengan visi dan strateginya. Fungsi ini ditemukan Rasulullah saw., karena beliau melakukan berbagai langkah dalam mengajak umat manusia ke jalan yang benar, beliau telah berhasil membangun suatu tatanan sosial yang modern dengan memperkenalkan nilai kesetaraan universal, semangat kemajemukan dan multikulturalisme, rule of law,dsb.
  • 2). Fungsi Penyelaras mengungkapkan bagaimana seorang pemimpin menyelaraskan keseluruhan sistem dalam suatu organisasi/lembaga agar mampu bekerja saling sinergis. Sang pemimpin harus mampu memahami betul apa saja bagian-bagian dalam sistem suatu oraganisasi/lembaga tsb. Kemudian ia menyelaraskan bagian-bagian tersebut agar sesuai dengan strategi untuk mencapai sisi yang telah digariskan.
  • 3). Fungsi Pemberdayaan mengungkapkan bagaimana upaya pemimpin untuk menumbuhkan lingkungan agar setiap orang dalam suatu organisasi/lembaga bersangkutan mampu melakukan yang terbaik dan selalu mempunyai komitmen yang kuat. Seorang pemimpin harus memahami sifat pekerjaan atau tugas yang diembannya.
  • 4). Fungsi Panutan mengungkapkan bagaimana agar pemimpin dapat menjadi panutan bagi para bawahannya. Bagaimana dia bertanggung jawab atas tutur kata, sikap, perilaku, dan keputusan-keputusan yang diambilnya. Sejauh mana dia melakukan apa yang dikatakannya. Rasulullah saw. Dikenal sangat kuat berpegang pada keputusannya yang telah disepakati. Rasulullah saw. Menjadi panutan dalam melaksanakan nasihat dan saran-sarannya, sehingga menjadi pribadi yang mulya. Beliau adalah orang yang sangat dermawan kepada siapa pun yang datang dan meminta pertolongan.
                >Contoh Teks Khutbah Jumat: Shalat Adalah Tiang Agama
                >Makna dan Hikmah Maulid Nabi Muhammad SAW

Adapun sifat-sifat dasar kepemimpinan Rasulullah saw. Sbb:
  • 1). Visioner: mempunyai ide yang jelas tentang apa yang diinginkan secara profesional atau pribadi dan punya kekuatan untuk bertahan ketika mengalami kemunduran atau kegagalan. Beliau sering memberikan berita gembira mengenai kemenangan dan keberhasilan yang akan diraih oleh pengikutnya di kemudian hari. Visi yang jelas ini mampu membuat para sahabat untuk tetap sabar dan tabah meskipun perjuangan dan rintangan yang begitu berat.
  • 2). Berkemauan kuat: mencintai apa yang dikerjakan, mempunyai kesungguhan yang luar biasa dalam menjalani hidup dikombinasikan dengan kesungguhan yang luar biasa dengan kesungguhan dalam bekerja menjalani profesi dan bertindak. Berbagai cara yang dilakukan oleh musuh-musuh beliau untuk menghentikan perjuangannya, tidak pernah berhasil. Rasul tetap tabah, sabar, dan sungguh-sungguh.
  • 3). Integritas: Integritas diperoleh dari pengetahuan sendiri dan kedewasaan. Mengetahui kekuatan dan kelemahan, teguh memegang prinsip, dan belajar dari pengalaman, bagaimana belajar dari/dan bekerja dengan orang lain. Rasulullah saw. Dikenal memiliki integritas yang tinggi, berkomitmen terhadap apa yang dikatakan dan diputuskannya, dan mampu membangun tim yang tangguh, seperti terbukti dalam ekspedisi militernya.
  • 4). Amanah: memperoleh kepercayaan dari orang lain. Rasulullah saw. Dikenal  sebagai orang yang sangat terpercaya (al-Amiin), dan ini diakui oleh musuh-musuhnya, seperti Abu Sufyan ketika ditanya oleh Hiraklius (Kaisar Romawi) tentang perilaku beliau.
  • 5). Rasa ingin tahu: ingin tahu segala hal dan ingin belajar sebanyak mungkin. Ingat ! wahyu pertama yang diturunkan adalah perintah untuk belajar (Iqra').
  • 6). Berani: berani mengambil resiko, mencoba hal-hal baru. Kesanggupan memikul tugas kerasulan dengan segala resiko adalah keberanian yang luar biasa.
Hadirin, siding jum'at yang dimulyakan Allah SWT 

Mengapa dalam realitas kehidupan sering kita saksikan banyak para pemimpin yang dhalim terhadap rakyatnya? Khalifah Umar bin Khattab pernah melontarkan pernyataan yang menarik: "Seorang pemimpin berbuat dhalim karena orang-orang yang dipimpinnya membiarkan kedhaliman itu".

Hadirin,  karena  ada  keterkaitan  antara  pemimpin  dan  rakyat, maka menjadi kebutuhan penting bagi rakyat untuk memilki kecerdasan dan keberanian moral melaksanakan amar ma'ruf–nahi munkar.

Keberhasilan pemerintahan pada dasarnya sangat tergantung keseimbangan dan kondisi proporsional hak dan kewajiban antara para pemimpin dengan rakyatnya. Seorang pemimpin yang baik harus menyadari bahwa rakyat perlu diperhatikan dan senantiasa aktif melakukan kontrol. Kesadaran itu tidak akan membuatnya bertindak sewenang-wenang mengeluarkan kebijakan yang merugikan rakyat. Dia akan semaksimal mungkin memperhatikan aspirasi rakyatnya. Pada konteks inilah terasa penting kecerdasan politik rakyat bila sebuah negara ingin menuju tataran kehidupan yang lebih baik.

Sikap aktif rakyat dalam mengawasi pemimpin yang dipilihnya bila berjalan efektif akan menutup peluang terjadinya penyalahgunaan kekuasaan. Pemimpin yang terpilih tidak akan bermain-main, apalagi mengkhianati rakyat pemilih. Dalam konsep kepemimpinan modern, bukan hanya pemimpin yang berhak mengontrol dan mengarahkan rakyat. Para pemimpin pun harus dikontrol dan diarahkan oleh rakyat agar melaksanakan amanah dan tanggung jawabnya.

Di masa awal perkembangan Islam, ada catatan indah yang menggambarkan berjalannya kehidupan demokrasi yang menempatkan pemimpin dan umat pada posisi berimbang. Ketika Umar bin Khattab dilantik sebagai khalifah sempat muncul suara nyaring dan lantang dari seorang sahabat yang siap meluruskan sepak terjang kepemimpinan Umar dengan pedang. Beliau menyambut kontrol itu dengan sikap terbuka sebagai bagian dari proses pengembangan kepemimpinan modern.

Secara jujur, semangat itulah yang saat ini kurang berkembang ditengah-tengah umat Islam Indonesia yang merupakan mayoritas penduduk Indonesia, sehingga dalam berbagai kesempatan, para pemimpin mudah sekali mengkhianati amanah yang diembannya. Aspirasi rakyat bukan menjadipertimbangan utama lahirnya kebijakan pemimpin pemerintahan. Seringkali rakyat menjadi korban kebijakan pemimpin. Celakanya lagi, seringkali rakyat bersikap apatis, tidak peduli terhadap perilaku pemimpin yang telah keluar dari semangat kepemimpinan yang bermoral (berakhlak mulia).

Kecerdasan dan sikap aktif rakyat/umat dalam mengontrol pemimpin mutlak diperlukan agar para pemimpin tidak berbuat dhalim, dan mampu menjalankan amanah kepemimpinannya dengan penuh rasa tanggung jawab. Dengan demikian, seorang pemimpin tidak akan sewenang-wenang, karena akan kehilangan kepercayaan dari rakyat yang memilihnya.

Subscribe to receive free email updates: