Apa Makna KeIkhlasan dalam Beribadah Kepada Allah SWT

<Apa Makna Keikhlasan dalam Beribadah Kepada Allah SWT >Berbagai perilaku antagonis yang saat ini kita saksikan, diidap oleh hampir seluruh lapisan masyarakat di Indonesia, cukup  membingungkan  kita. Rajin beribadah namun rajin juga korupsi. Mengaku orang terpelajar, namun senang juga tawuran. Jika ada aspirasi yang tidak dikabulkan, maka akan merusak lingkungan sekitar yang tidak ada hubungannya dengan aspirasi tersebut.

Banyak  sekali tesis yang membahas perihal Makna Beribadah ini, ada yang mengatakan mereka tidak sensitive, tidak memiliki sensitiveness. Menurut saya, pangkal dari permasalahan ini adalah tauhid. Tidak memiliki tauhid yang kuat. Pemahaman tauhid yang tidak benar, akibatnya niatnya pun tidak ikhlas. Para ulama berpendapat bahwa sesungguhnya kerak-kerak hati yang menempel dalam hati Manusia yang perlu dibersihkan. Kerak-kerak hati yang menempel dalam hati manusia membuatnya mengaburkan makna-makna ketauhidan. Dalam hati mengaku beriman bahwa segala kekuasaan hanya milik Allah, segala kekuatan bertumpu pada Allah, namun dalam kenyataanya seringkali berbeda. Yang dikerjakan masih bertentangan dengan yang diucapkan. Masih  banyak  dari  kita yang ketika yang ketika menginginkan sesuatu malah pergi ke dukun. Masih banyak yang ketika ditimpa musibah, malah melem parsajen ke laut.
http://aang-zaeni.blogspot.com/2017/03/apa-makna-keikhlasan-dalam-beribadah.html

Lawan dari tauhid  adalah syirik, yaitu membuat sekutu bagi Allah. Dalam hati meyakini bahwa ada kekuatan-kekuatan lain yang sama atau sebanding dengan kekuatan Allah, sehingga  seringkali  kita meminta dan berharap kepadanya. Sangat sulit dideteksi apakah kita mengidap syirik ini atau tidak. Ali ra. mengatakan, syirik itu seperti semut hitam kecil yang merayap diatas batu hitam pada malam hari. Sangat sulit sekali dideteksi. Ada saja syirik itu dalam hati, dan inilah yang harus dihapus dan dibakar. 
Akibat dari tauhid  yang  tidak benar adalah niat menjadi tidak lurus dan tidak ikhlas. Niat yang tidak ikhlas inilah yang membuat aktivitas yang dilakukan menjadi semau gue. Tidak ada  sesuatu yang bisa mendeteksinya. Orang lain melihat dia  baik-baik  saja,  namun sesungguhnya ada hidden agenda yang dia inginkan dan tidak diungkapkan, tidak diketahui oleh orang lain. Padahal pada dasarnya, tujuan utamanya adalah sesuatu yang hidden tadi. Ini yang terjadi jika tauhid tidak benar, dan inilah yang harus diperbaiki.

Semestinya dalam setiap beribadah harus ikhlas dan hanya ditujukan untuk Allah. Puasa misalnya, kian menahan, mengendalikan diri dari sesuatu yang tidak diizinkan oleh Allah untuk kita lakukan. Secara  sengaja  bersedia membuat  diri  kita “menderita ” tidak melakukan hal-hal yang kita sukai. Tidak makan dan minum, menahan syahwat, perkataan kita kendalikan, artinya kita  memasuki suatu zona uncomfort. Secara sadar  kita memilih untuk melakukannya,  kalau  bukan karena Allah yang menghendaki dan memerintahkan, maka kita tidak akan  melakukan itu. Dengan kata lain, kita secara sadar mengambil challenge untuk  menaklukan musuh yang baru dan harus kita taklukkan. Challange dibutuhkan oleh manusia dalam hidup. Jika kita tidak memiliki challenge maka hidupnya akan monotone, hambar dan tidak bergerak kemana-mana. Jika challenge tersebut  bisa ditaklukkan maka akan berbuah kebahagiaan yang diperoleh.

Allah telah memberikan challenge yang  mesti kita taklukan yaitu diri kita sendiri. Ia adalah nafsu dalam diri  kita  sendiri. Berbeda  dengan  kompetisi yang sering dilakukan, seperti bulu tangkis atau sepak bola. Hasilnya ada yang menang dan ada yang kalah, atau sering disebut zero sum game.T api challange menaklukkan nafsu dalam diri kita, hasilnya bukan kalah dan menang. Seringkali kita terbiasa dengan kompetisi kalah menang dalam hidup kita, sehingga kita lupa bahwa tak selamanya kompetisi harus seperti itu dalam hidup kita. Terbiasa dengan paradigma tersebut melahirkan scarecity mentality, mentalitas berkekurangan. Dia merasa bumi, dunia, dan rizki yang Allah sediakan tidak cukup untuk semua orang, sehingga ia harus cepat mengambilnya, berlomba-lomba mengambilnya agar tidak keduluan orang lain dan ia tidak akan mendapatkan apa-apa. Main sikut kanan kiri, main tendang depan belang, itu yang biasa dikerjakan. Dalam segala aspek kehidupan, itu yang dilakukan. Yang tertinggi adalah korupsi, mengambil yang bukan haknya. 

Padahal dalam Al-Quran Allah mengatakan tidak demikian. Allah SWT yang akan menganggung segala kebutuhan makhluknya. Jika  kita mengimani dan berpedoman pada ayat tersebut, maka kita akan memiliki mentalias yang berlawanan dengan mental sebelumnya. Mentalitas tersebut adalah abundantmentality, mentalitas keberlimpahan. Mentalitas yang menganggap bahwa segala yang Allah ciptakan di muka bumi ini cukup bahkan berlebih untuk semua makhluk-Nya. Maka yang diperlukan adalah kreativitas kita untuk  mengambil dan memperoleh mana yang kita butuhkan. Scarecity mentalty hanya akan melahirkan hasil yang tidak ada manfaatnya sama sekali, compatitve dissadvantages. Sedangkan abundant mentality akan melahirkan kreativiatas yang tinggi creative excellange dan itulah yang sebetulnya diharapkan dari ibadah-ibadah yang kita lakukan. 

Syarat beribadah adalah keimanan dan ihtishaba. Ihtishaba berarti penuh perhitungan. Perhitungan yang penuh dalam melakukan sesuatu hanya bisa dilakukan jika kita memiliki ilmu yang cukup. Oleh karena itu aspek yang harus kita miliki dalam menjalankan ibadah adalah  kita  harus memahami dengan  benar  apa  yang  akan kita kerjakan. Jadi  tidak boleh hanya sekedar ikut-ikutan saja. Itulah yang membedakan ajaran islam dengan ajaran lain, bahwa islam tidak menghendaki pemeluknya untuk melakukan ibadah dengan diwakilkan pada pihak lain. Karena pada akhirnya perjumpaan  kita di akhirat dengan Allah adalah pribadi  kita  dengan Allah, bukan melalui kyai, dosen, atau guru  kita atau siapapun. Sepenuhnya adalah pribadi masing-masing yang bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya.

Oleh  itu,  kegiatan  yang  dilakukan  harus  mengetahui  dasar-dasar  mengapa  kita melakukan itu, tidak hanya sekeredar berkegiatan saja, terutama dalam hal ibadah. Dalam Al-Qur’an  surat  Al-Isra Allah mengatakan “Wa latakuunu laisa laka bihi ‘ilmu innassam’a wal bashara wal fuaada kullu ulaaika kaana anhuma subula.” “Janganlah kamu melakukan sesuatu yang kamu tidak mengetahui pemahaman atasnya. Sesungguhnya  pendengaran,  penglihatan, dan hati nuranimu akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang telah  kamu lakukan”. Kita tidak bisa mewakilkan pada seseorang atau  institusi  tertentu  atas  ibadah  kita,  Barangkali  penyebab  utama  kita kurang bersemangat dan kurang gereget dalam mendalami ajaran agama kita sehingga bisa menjalankan perintah agama dengan baik adalah karena ketidak pahaman akan soal ini.

Karena itu,  mari  kita  memperbaiki  motivasi  kita  dalam  menjalankan  perintah  agama  ini agar sesuai dengan yang diperintahkan Allah sesuai dengan apa yang dicontohkan Rasul. Takwa sebagai wujud akhir paling ideal dalam pelaksanaan ibadah adalah sesuatu yang gapaiannya jauh diatas. Tak ada seorangpun yang mampu dan boleh mengklaim dirinya telah mencapai derajat itu. Sengaja Allah membuat demikian, agar kita senantiasa berjuang dan bergerak. Tidak berhenti beribadah dan beramal sampai kita dipanggil oleh Allah. Namun tentu kita ingin bertanya, dari tahun ke tahun kita melakukan ibadah, sudah sampai tingkatan keberapakah derajat takwa kita? Masih kurang dimana? Apa yang harus diperbaiki?  Sehingga di tahun selanjutnya bisa kita perbaiki lagi dengan lebih  fokus dan lebih mudah. Semuanya berpulang pada kita diri masing-masing. Dan kita sebagai manusia yang diberi kemampuan oleh Allah untuk bertanya  dan berpikir, tentu  mampumengevaluasi atas apa yang telah kita lakukan. Dan kita akan memperbaiki semua yang kita lakukan, agar ia sampai pada tujuannya. Tidak mengantung di tengah-tengah. Jangan sampai kita melakukan sesuatu itu sebagai aktivitas yang tidak berarti apa-apa. 

Betapa banyaknya orang yang beribadah tetapi tidak mendapat apa-apa. Semoga kita tidak termasuk kedalam golongan tadi dan semoga Allah memberikan kekuatan pada kita semua agar ibadah ini bisa kita laksanakan dengan  baik,  lebih  baik  dari  tahun sebelumnya. Dan secara  sosial, kita  berharap semoga  ibadah  yang  kita  lakukan secara berjamaan  ini,  bisa memperbaiki kualitas bangsa menjadi lebih baik. Agar negeri kita yang kelihatannya baik-baik saja, padahal sebetulnya memiliki turbulensi masalah yang banyak, bisa menemukan solusinya, sedikit demi sedikit menjadi lebih baik sehingga Allah mengizinkan Indonesia ini menjadi negeri yang baldatun thayibatun wa rabbuun ghafur. Amin ya Rabbal ‘alamin.

Subscribe to receive free email updates: