Pengertian Allah Bersemayam Di Atas Arsy

<Pengertian Allah Bersemayam Di Atas Arsy> Ulama Ahli sunnah telah menolak makna (bukan arti) dari Ayat Ke 5 Surat Thaha :

الرّحْمنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى ( 5:طه
''Allah bersemayam di atas 'arsy'' (QS Thaha : 5)
akan saya urutkan dari Pengertian Tafsiran Para Shahabat, tafsiran para ulama mazhab yang 4 (empat), dan dilanjutkan dengan tafsiran Ibnu Katsir dlm membantah pemahamn Wahabi dalam kalimat Istiwaa.

lafazh Istawaa (bersemayam) ini adalah termasuk dlm ayat Mutasyabbihaat, Maka para ulama Ahli Tafsir dan Ulama dari kalangan ulama salaf dan khalaf telah bersepakat untuk mentafsirkan ayat mutasyabih ini dan membahasnya menjadi dua metode :
  1. Tafwiidh, maksudnya menyerahkan pemahaman makna tersebut kepada Allah SWT karena khawatir jika di fahami sesuai lafaznya akan merusak aqidah.
  2. Dengan cara Mentakwil ayat tersebut dengan makna yang ada dengan dalil yang pasti dari Alquran dan hadits.
Rasulullah SAW berdoa kepada Ibnu Abbas dengan doa :

Maknanya: “Ya Allah ajarkanlah dia (ibnu 'abbas) hikmah dan takwil Al quran” Hadist Shahih H.R Ibnu Majah.
http://aang-zaeni.blogspot.com/2017/05/pengertian-allah-bersemayam-di-atas-arsy.html

Tafsir Para Shahabat :

1. Tafsiran Ibnu 'Abbas R.A : menafsirkan kalimat "Istawaa 'Alaa Al-'Arsy" dengan makna (Allah SWT Maha Tinggi dari segala yang tinggi). lalu di benarkan oleh ulama salaf dan ulama khalaf pada zaman itu.

2. berkata Sayyidina 'Ali ra : innallaaha khalaqal arsya izhaaran liqudratihi, wa lam yattakhizhu makaanan lizaatihi (sesungguhnya Allah SWT menciptakan arasy untuk menzahirkan qudrat-Nya dan Allah SWT tidak menjadikan arsy sebagai tempat bagi zat-Nya), mahasuci Allah dari semua itu.

3.Imam Abu Ja’far ath-Thahawi -ra- (227-321 H) berkata mengenai "Istawaa" dan hal yang lain yang menyerupai sifat makhluk: “Maha suci Allah dari batas-batas (bentuk kecil maupun besar, jadi Allah tidak mempunyai ukuran sama sekali), batas akhir, sisi-sisi, anggota badan yang besar (seperti wajah, tangan dan lainnya) maupun anggota badan yang kecil (seperti mulut, lidah, anak lidah, hidung, telinga dan lainnya). Dia tidak diliputi oleh satu maupun enam arah penjuru (atas, bawah, kanan, kiri, depan dan belakang) tidak seperti makhluk-Nya yang diliputi enam arah penjuru tersebut”. Perkataan al Imam Abu Ja’far ath-Thahawi di atas merupakan Ijma’ (konsensus) para sahabat dan Salaf (orang-orang yang hidup pada tiga abad pertama hijriyah).

Tafsiran Imam Mazhab :

1. Imam Malik : ( Sangat Penting)
الاستواء غير المجهول والكيف غير المعقول والايمان به واجب و السؤال عنه بدعة
Maknanya: Kalimah istiwaa tidak majhul (diketahui dalam alquran) dan "bagaiman caranya ber-Istiwaa" tidak diterima aqal, dan beriman dengannya wajib, dan soal tentangnya bid'ah.
lihat disini : imam malik hanya menulis kata istiwa (لاستواء) bukan memberikan makna dhahir jalasa atau duduk atau bersemayam atau bertempat (istiqrar).

Dilanjutkan -Aku telah mendengar Abdullah ibn Wahb berkata: Suatu ketika kami duduk bersama Malik ibn Anas, tiba-tiba seseorang masuk seraya berkata: ”Wahai Abu Abdillah, ar-Rahman ‘Ala al-’arsy istawaa, bagaimanakah istawaa-Nya?”. Ia (Abdullah ibn Wahb) berkata: ”Saat itu al-Imam Malik mengeluarkan keringat dingin sambil menunduk karena marah atas pertanyaan tersebut, lalu ia mengangkat kepala sambil berkata: ”ar-Rahman ‘Ala al-arsy Istawaa, sebagaimana Dia mensifati diri-Nya demikian, tidak boleh dikatakan baginya bagaimana, karena pertanyaan bagaimana bagi-Nya dihilangkan (Artinya mustahil, karena “bagaimana” hanya untuk mempertanyakan sifat benda), engkau adalah seorang yang berpemahaman buruk dan seorang ahli bid’ah, keluarkanlah orang ini!”. Ia (Abdullah ibn Wahb) berkata: ”Maka saat itu juga orang tersebut dikeluarkan -dari majelis Al-Imam Malik-” (Lihat al-Bayhaqi dalam al-Asma’ Wa ash-Shifat, halaman. 408).

dilanjutkan, imam Malik berkata : laa yuqaalu 'anhu kaifa ,wa kaifa 'anhu marfuu'un (tidak boleh ditanya 'bagaimana Allah beristiwaa (bersemayam) dan Allah bebas dari pertanyaan "bagaimana". Bagaimana adalah merupakan pertanyaan bagi sifat makhluk. Contohnya : duduk ( bagaimana duduk) menetap (bagaimana menetap) ,bertempat (bagaimana bertempat).

2. Imam Abu Hanifah Tolak Aqidah Sesat “Allah Bersemayam/Duduk/Bertempat Di Atas Arsy.

Demikian dibawah ini teks terjemahan nash Imam Abu Hanifah dalam hal tersebut (Rujuk kitab asal sepertimana yang telah di scan di atas) :

“ Berkata Imam Abu Hanifah: Dan kami (ulama Islam ) mengakui bahawa Allah ta’ala ber-istawa atas Arasy tanpa Dia memerlukan kepada Arasy dan Dia tidak bertetap di atas Arasy, Dialah menjaga Arasy dan selain Arasy tanpa memerlukan Arasy, sekiranya dikatakan Allah memerlukan kepada yang lain sudah pasti Dia tidak mampu mencipta Allah ini dan tidak mampu mentadbirnya sepeti jua makhluk-makhluk, kalaulah Allah memerlukan sifat duduk dan bertempat maka sebelum dicipta Arasy dimanakah Dia? Maha suci Allah dari yang demikian”. Tamat terjemahan daripada kenyataan Imam Abu Hanifah dari kitab Wasiat.

Amat jelas di atas bahwa akidah ulama Salaf sebenarnya yang telah dinyatakan oleh Imam Abu Hanifah adalah menafikan sifat bersemayam (duduk) Allah di atas Arasy.

Semoga Mujassimah diberi hidayah sebelum mati dengan mengucap dua kalimah syahadat kembali kepada Islam.

3. Imam Syafi'i:

انه تعالى كان ولا مكان فخلق المكان وهو على صفته الأزلية كما كان قبل خلقه المكان لايجوز عليه التغيير
Maknanya: sesungguhnya Dia Ta’ala ada (dari azali) dan tempat belum dicipta lagi, kemudian Allah mencipta tempat dan Dia tetap dengan sifatnnya yang azali itu seperti mana sebelum terciptanya tempat, tidak harus ke atas Allah perubahan. Dinuqilkan oleh Imam Al-Zabidi dalam kitabnya Ithaf al-Sadatil Muttaqin jilid 2 muka surat 23
4. Imam Ahmad bin Hanbal :

-استوى كما اخبر لا كما يخطر للبشر

Maknanya: Dia (Allah) istawa sepertimana Dia khabarkan (di dalam al Quran), bukannya seperti yang terlintas di fikiran manusia. Dinuqilkan oleh Imam al-Rifae dalam kitabnya al-Burhan al-Muayyad, dan juga al-Husoni dalam kitabnya Dafu’ syubh man syabbaha Wa Tamarrad.

وما اشتهر بين جهلة المنسوبين الى هذا الامام المجتهد من أنه -قائل بشىء من الجهة أو نحوها فكذب وبهتان وافتراء عليه
Maknanya: dan apa yang telah masyhur di kalangan orang-orang jahil yang menisbahkan diri mereka pada Imam Mujtahid ini (Ahmad bin Hanbal) bahawa dia ada mengatakan tentang (Allah) berada di arah atau seumpamanya, maka itu adalah pendustaan dan kepalsuan ke atasnya. (Imam Ahmad) Kitab Fatawa Hadisiah karangan Ibn Hajar al- Haitami
Ibnu Katsir Dalam Tafsirnya :
Ibnu katsir membungkam wahhaby (2) : Tafsir ayat “istiwaa”
Tarjamahannya :

{kemudian beristawa kepada arsy} maka manusia pada bagian ini banyak sekali perbedaan pendapat, tidak ada yang memerincikan makna (membuka/menjelaskannya) (lafadz istiwa) dan sesungguhnya kami menempuh dalam bagian ini seperti apa yang dilakukan salafushalih, imam malik, imam auza’i dan imam atsuri, allaits bin sa’ad dan syafi’i dan ahmad dan ishaq bin rawahaih dan selainnya dan ulama-ulama islam masa lalu dan masa sekarang. Dan lafazh (istawaa) tidak ada yang memerincikan maknanya seperti yang datang tanpa takyiif (memerincikan bagaimananya) dan tanpa tasybih (penyerupaan dgn makhluq) dan tanpa ta’thil (menafikan) dan (memaknai lafadz istiwa dengan) makna dhahir yang difahami (menjerumuskan) kepada pemahaman golongan musyabih yang menafikan dari (sifat Allah) yaitu Allah tidak serupa dengan makhluqnya”

Wahai mujasimmah wahhaby!!

lihatlah ibnu katsir melarang memaknai ayat mutasyabihat dengan makna Zhahir Ayat karena itu adalah pemahaman mujasimmah musyabihah!

bertaubatlah dari memaknai semua ayat mutasyabbihaat dengan makna dhahir!!

Kemudian Ibnu katsir melanjutkan lagi :
''Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat'' [al-Syuraa: 11].
Bahkan perkaranya adalah sebagaimana yang dikatakan oleh para imam, diantaranya Nu’aim bin Hammad al-Khuza’i, guru al-Bukhari, ia berkata: “Siapa yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya, ia telah kafir, dan siapa yang mengingkari apa yang Allah mensifati diri-Nya, maka ia kafir, dan bukanlah termasuk tasybih (penyerupaan) orang yang menetapkan bagi Allah Ta’ala apa yang Dia mensifati diri-Nya dan Rasul-Nya dari apa yang telah datang dengannya ayat-ayat yang sharih (jelas/ayat muhkamat) dan berita-berita (hadits) yang shahih dengan (pengertian) sesuai dengan keagungan Allah dan menafikan dari Allah sifat-sifat yang kurang; berarti ia telah menempuh hidayah.

Inilah selengkapnya dari penjelasan Ibnu Katsir. Berdasarkan penjelasan ibnu katsir :

- Ayat mutasyabbihat harus di tafsirkan dengan ayat syarif (ayat muhkamaat) atau ayat yang jelas maknanya/bukan ayat mutasyabihat!! Tidak seperti wahhaby yang menggunakan ayat mutasyabihat untuk mentafsir ayat mutasyabbihat yang lain!!!! ini adalah kesesatan yang nyata!

- Ibnu Katsir mengakui ayat istiwa adalah ayat mutasyabbihat yang tidak boleh memegang makna dhahir dari ayat mutasyabihat tapi mengartikannya dengan ayat dan hadis yang – jadi ibnu katsir tidak memperincikan maknanya tapi juga tidak mengambil makna dhahir ayat tersebut.

- disitu imam ibnu katsir, imam Bukhari dan imam ahlsunnah lainnya tidak melarang ta’wil.

“…dan selain mereka dari para imam kaum muslimin yang terdahulu maupun kemudian, yakni membiarkan (lafadz)nya seperti apa yang telah datang (maksudnya tanpa memperincikan maknanya) tanpa takyif (bagaimana, gambaran), tanpa tasybih (penyerupaan), dan tanpa ta’thil (menafikan)….”

sedangkan wahaby melarang melakukan tanwil.

2. Sekarang akan disebutkan sebahagian penafsiran lafaz istawaa dalam surah ar Ra’d:

1- Tafsir al Qurtubi

(ثم استوى على العرش ) dengan makna penjagaan dan penguasaan

2- Tafsir al-Jalalain

(ثم استوى على العرش ) istiwa yang layak bagi Nya

3- Tafsir an-Nasafi Maknanya:

makna ( ثم استوى على العرش) adalah menguasai Ini adalah sebahagian dari tafsiran, tetapi banyak lagi tafsiran-tafsiran ulama Ahlu Sunnah yang lain.

4- Tafsir Ibnu Katsir, darussalam -riyadh, Jilid 2 , halaman 657, surat ara’ad ayat 2):

(ثم استوى على العرش) telah dijelaskan maknanya seperti pada tafsirnya surah al Araf, sesungguhnya ia ditafsirkan sebagaimana lafadznya yang datang (tanpa memrincikan maknanya) tanpa kaifiat (bentuk) dan penyamaan, tanpa permisalan, maha tinggi

Subscribe to receive free email updates: