Indonesia Diantara Tikungan Feodalisme dan Kapitalisme

Indonesia Diantara Tikungan Feodalisme dan Kapitalisme (Sebuah Renungan Historis)

Dalam terminologi guyonan Pramudia Ananta Tour, perjuangan bangsa adalah satu upaya bersama ataupun perorangan baik pikiran ataupun tindakan untuk menggeser dari satu kondisi bangsa dari minus ke plus. Dalam hal ini dicoba untuk mengupas sejarah nasional secara utuh. Karena, untuk memahami perjuangan nasional, seharusnya ada upaya bersama yang dilakukan rakyat pribumi untuk mengentaskan diri dari kondisi krisis bangsa, baik politik, ekonomi, sosial ataupun budaya.

Namun ada perbedaan pemahaman dari terminologi diatas. Sementara ini, pemahaman perjuangan adalah perilaku individu atau kelompok yang melakukan perlawanan terhadap penjajah. Disana kurang dikupas latar belakang kepentingan perlawanan itu untuk dirinya sendiri, kelompoknya, ataupun bangsanya. Maka, produk sejarah yang ada hanya akan menghadirkan romantisme, bukan filosofinya. Lebih keji lagi, makna perjuangan berarti orang pribumi yang mengangkat senjata. Akhirnya, yang menilai bahwa dia pejuang atau tidak adalah sebuah orde (rezim).

Dalam hal ini, tidak di nilai pelaku sejarah penjahat ataupun pejuang, namun ingin mencoba mengurai sejarah nasional dari satu fase sejarah ke fase yang lain secara utuh. Karena menurut Jose Ortega Y Gasset, kita belajar sejarah bukan untuk mengulangi sejarah melainkan untuk meninggalkanya.

Dari gambaran diatas, muncul beberapa pertanyaan yang dirasa cukup esensial untuk kita pecahkan bersama: bagaimana dan seperti apa  sebenarnya gambaran sejarah nasional? Apakah selama ini bangsa kita sudah pernah melahirkan pejuang yang betul-betul melakukan perjuangan dengan tulus demi bangsanya?
http://aang-zaeni.blogspot.com/2017/05/indonesia-diantara-tikungan-feodalisme.html

Ada empat fase sejarah nasional yang akan dipetakan, yakni: fase pra-Islam, zaman Islam, zaman Penjajahan dan Persiapan Kemerdekaan Indonesia. 
  • 1). Zaman Hindu Budha
Perjalanan sejarah akan dimulai dari asal usul manusia Indonesia. Dalam fersi Prof. Soediman Kartohadiprojo, SH., masyarakat Indonesia berasal dari suku Polinisia saja (Prof. Soediman Kartohadiprojo, 1995).

Sementara Agus Sunyoto dalam “Pitutur” mengatakan bahwa orang Indonesia asli adalah pertemuan dari dua suku: suku Polinisia yang berasal dari India yang punya kegemaran merampok, menjarah dan punya pemahaman mistik yang sangat kental, dan ras yang dibawa adalah ras Negroid. Kemudian bertemu dengan suku Qunlun, yakni pecahan ras Mongoloid yang kalah perang dan terusir dari daratan Mongolia.

Dari dua perkawinan ras inilah lahir ras Javanisme yang berkarakter mistik yang kemudian pada prosesnya muncul paham animisme dan dinamisme, suka menjarah dan bermental kalah. Dalam psiko-Historis era sekarang, kita dapat mengatakan bahwa ras ini melahirkan bangsa yang tidak punya mental dasar persaingan (Agus Sunyoto, Kebudayaan Indonesia Hasil Asimilasi Aneka kebudayaan).

Mentalitas yang kemudian terbangun ini pada akhirnya diperkuat dengan datangnya Hindu yang mengajarkan kepercayaan terhadap kelas-kelas sosial. Atau sering dinamakan dengan kasta sosial, yang membagi masyarakat ke dalam lima kelas: brahmana, satria, waisya, sudra dan paria. Disinilah pondasi pertama feodalisme Indonesia dibangun dengan bungkus mistisisme.

Diakui atau tidak, pergulatan agama hindu-budha pernah mengalami masa keemasan. Terbukti, dengan banyaknya kerajaan-kerajaan baik pra atau pasca Majapahit. Namun dalam catatan sejarah, yang paling gemilang adalah zaman Majapahit (1294-1476 M) di bawah bendera Sumpah Palapa Gajah Mada. Pada masa ini Nusantara bersatu dalam genggaman Majapahit. Terlihat disana, kerjasama antara Gajah Mada (golongan non bangsawan) dan Adityawarman (simbol bangsawan) kemudian—yang sering dalam pribahasa Jawa—ditafsirkan sebagai Manunggaling Gusti. Dengan didukung oleh armada angkatan laut yang bagus dan militer yang tangguh, Nusantara pernah manjadi bangsa yang diperhitungkan ditingkat dunia. Hingga arus perdagangan saat itu telah mampu menguasai pasar Asia.

Salah satu item yang cukup penting dalam masa ini adalah pertarungan kelas sosial yang cukum sengit antara kelas bawah dan kelas atas. Sebagai contoh, masa pemerintahan prabu Kertarajasa Jayawardana yang mengangkat tiga patih dari rakyat jelata yakni Nambi, Sora dan Ranggalawe. Akibat sindiran persoalan kelas, pada akhirnya menimbulkan pembangkangan yang berakhir pada pemberontakan.

Sebab runtuhnya Majapahit dalam dalam babad tanah Demak secara umum dapat disimpulkan: pertama, Adanya perebutan kekuasaan antar keturunan raja. Kedua, hanya sebab pertikaian bangsawan, pecahnya Majapahit menjadi negara peri-peri merupakan langkah mundur dari apa yang sudah dilakukan Gajah Mada, Ketiga, pertarungan kelas yang terus menerus menimbulkan perpecahan bangsa. Dan keempat, banyaknya kelas bawah yang masuk Islam juga telah menimbulkan banyak pertikaian kelas.
  • 2). Zaman Islam
Masuknya Islam ke Indonesia dengan gerakan kulturalnya di satu sisi, masuknya Islam telah berhasil mengeliminir sistem feodalisme dan system kasta yang dilestarikan oleh agama Hindu. Namun di sisi lain (politik), justru menjadi neo-feodalisme yang sama-sama membangun relasi kuasa yang berbasis ideologi keagamaan. Bahkan pertikaian yang berbasis keagamaan (SARA)-pun dimulai dari Islam.

Dalam hal ini fakta yang disajikan Pramudia dalam “arus balik”nya mencoba mengungkap awal mula terjadinya gerakan Islam di Tuban yang dipelopori oleh Sunan Rajeg (Rangga Ishak) yang memberontak pada bupati Tuban Wilwatikta.

Adalah suatu langkah mundur yang punya implikasi sejarah yang sangat panjang ketika Rangga Ishak menggunakan spectrum agama dalam menggerakan basis massa. Sejarah ini terulang ketika raja Demak ketiga, Sultan Trenggono, menggunakan politik yang licik dalam menguasai tanah Jawa.

Di satu sisi, aliansi untuk melawan Portugis di Malaka sudah disepakati. Namun Trenggono—selaku komandan—kemudian justru membawa bala tentaranya untuk menyerang negara-negara Jawa untuk patuh terhadapnya. Ia pikir, dengan dibantu Sunan Gunung Jati sukses Majapahit akan terulang di masanya.

Adalah hal yang ambigu dari kebijakan Trenggono adalah kebijakan dia tatkala membangun basis tentara perangnya yang mengandalkan pasukan kuda semata. Sementara pasukan laut yang telah dirintis sedemikian besar oleh kakaknya (Adipati Unus yang kemudian dikenal Pangeran Sabrang Lor)—yang dibunuhnya sendiri—terlalaikan. Padahal, untuk membangun armada yang kuat tidak hanya sebatas membangun basis tentara yang kuat, namun basis ekonomi juga mesti diutamakan. Dari kejadian tersebut, kemudian terjadi friksi yang cukup kuat antara Trenggono dengan ibunya Siti Aisyah yang lebih sepakat dengan gagasan Adipati Unus.

Implikasi yang bisa kita rasakan sampai sekarang dengan apa yang dilakukan oleh Trenggono diantranya adalah sbb:
  • Pemusatan kegiatan ekonomi yang hanya menggarap basis pertanian sebagai tulang punggung ekonomi masyarakat telah melahirkan budaya land laocked. Yakni budaya dengan struktur nalar inwoerd locking dan sangat membelenggu.  Cultur ini tidak mudeng dengan ekonomi pasar karena seluruh jaringan perhubungan dengan dunia luar di putus.
  • “Babad Tanah Demak” adalah salah satu mitos yang dibuat oleh rezim Trenggono untuk membodohi masyarakat. Karena—disengaja atau tidak—telah terjadi pembelokan sejarah dari kenyataan yang sebenarnya. Terlihat disana bumbu dan nuansa magis yang sangat kental. Di wilayah ini, telah terjadi pelembagaan sebuah kebijakan politik yang berbasiskan agama.
  • Kebijakan rezim walisongo dalam strata pendidikan yang berbasiskan pesantren, secara umum terpusat di pedalaman. Hal ini membuat umat Islam tetap terkungkung dibawah fatwa-fatwa suci sang-Sunan Kyai (asal kata: ki aji).
  • Dan pasca kematian Trenggono, kondisi politik-ekonomi tidak jauh berbeda. Bahkan perang saudara terus menerus terjadi dengan gaya berpolitik yang hampir yang sama sampai akhirnya, kerajaan pindah ke Mataram.
3). Zaman Kolonial

Kedatangan (penguasaan) portugis (1511) di Malaka membawa akibat yang fatal. Kekalahan banyak daerah disebabkan salah satunya dalam hal persenjataan meriam. Mereka tidak mampu menjangkau keunggulan Portugis (penjajah daerah) dalam hal Persenjataan dan kekuatan armadan diakibatkan oleh oleh rasio masyarakat pribumi yang tetap terkungkung oleh mitos. Sehingga ketidakmampuan masyarakat lokal untuk bersaing itu kemudian melahirkan watak marsose (menghamba pada kolonial).  Rakyat kecil hanya diposisikan sebagi penyuplai bahan-bahan rempah yang harganya dikendalikan oleh portugis.

Kondisi ini kemudian diperparah dengan kedatangan belanda (1602) yang pada akhirnya melahirkan tiga kelas sosial: kelas atas (kulit putih Eropa), kelas kedua (pedagang arab dan cina), dan kelas ketiga (orang pribumi [inlader]).

Pada abad XIX dan XX berdiri empat kerajaan di Surakarta dan Yogyakarta yang berdiri sendiri dibawah kekuasaan Hindia-Belanda: Keraton Kasusnanan dan Mangkunagaran (surakarta); Kasultanan dan Pakualaman (Yogyakarta).

Melalui kebijakan pecah belah (devide at impera), Belanda berhasil menguasai seluruh pesisir tanah jawa, setelah sebelumnya mampu menumpas menumpas pemberontakan Trunojoyo. Pun kondisi yang sama ketika Inggris menguasai jawa (1811-1816) hingga kemudian lahirlah traktat London(1824). (Takashi Shiraishi, Jaman Bergerak Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926, Jakarta, 1990,).

Pada 1830 adalah akhir dari perang diponegoro. Setelah digunakan perang melawan Diponegoro, kas negara Belanda ludes. Terlihat dalam laporan Javaneche Bank yang malaporkan pada tanggal 31 januari 1827 modal yang dipunyai Belanda yang awalnya F4 juta tinggal F0,5 juta. Akibatnya, lahirlah kebijakan culturstelsel.

Dengan dihadirkanya Gubernur Jendral Van Den Bosch oleh raja Belanda, Willem sekaligus dibukanya sistem tanam paksa sebagai salah satu kebijakanya untuk keluar dari krisis keuangan. Hasil dari sistem ini negeri Belanda mengalami kelebihan anggaran pada tahun 1877 hingga F 800 juta gulden. (Pramudia Ananta Tour, Panggila Aku Kartini Saja, Hastra Mitra).

Pergeseran politik ekonomi Belanda dimulai ketika tahun 1870 dengan kampanye tokoh Multatuli Belanda, Eduard Dowes Deker (1820-1887). Kritiknya terhadap kebijakan tanam paksa akhirnya membuahkan hasil UU agraria pada tahun 1870. Pada titik ini merupakan awal dimulainya liberalisasi di Indonesia. Hal ini ditandai dengan pembangunan jalur kereta api yang pertama yang dikelola oleh Nederlandsch Indische Sporwig (NIS). Disamping itu  para pemodal swasta secara besar-besaran membuka sewa tanah untuk menanam the, tebu, kopi, kina dan tembakau. Pada tahun 1855, di solo disewakan tanah seluas 30. 000 bau, menjadi 160 bau pada tahun 1860. Dan menjadi 200.000 bau pada tahun 1864. Kemudian pada tahun 1870 mencapai 301.000.

Pada pertengahan 1880, terjadi depresi ekonomi yang mana menjadi titik balik perkembangan perkebunan di Eropa. Hal ini disebabkan kesetabilan nilai uang oleh pengaruh suku bunga yang tinggi, yang sangat dipengaruhi oleh naik turunya harga-harga komoditas. Sementara modal-modal hanya dimiliki oleh swasta, sehingga yang terjadi kemudian banyak pabrik yang tidak mampu membangun eksis. Hal ini terjadi sampai tahun 1900. (Takashi Shiraishi).

Bersamaan dengan kondisi ini, pada tahun 1890 seorang pemikir prancis, Ernest Renan, melontarkan konsepnya tentang Nasionalisme. Dari bukunya yang berjudul What is nation, lahirlah konsep negara bangsa di Eropa yang kemudian juga punya implikasi terhadap Hindia-Belanda.

Menyambung dari kondisi di atas C.Th. Van Deventer mengusulkan tulisan yang berjudul “utang budi” yang kemudian diterjemahkan dalam kebijakan Belanda dengan nama kebijakan etis di Hindia-Belanda. Kebijakan ini yang salah satunya adalah memberikan kesempatan terhadap pribumi untuk mengenyam pendidikan. Dari proses pendidikan yang berjalan perlahan ini kemudian menggeser struktur masyarakat Indonesia yang awalnya hanya kalangan priyayi keraton dan rakyat jelata, menjadi kelompok priyayi. Hal ini disebabkan karena adanya kelas professional para birokrat yang kemudian yang secara sosial mendapat sebutan kelompok priyayi (Satria Terminology Hindu).

Meskipun sebelumnya sudah ada kelompok terdidik dari kelompok priyayi seperti: Kartini, Budi Utomo/BO (1908), SDI (1912), dan pada tahun yang sama juga dibangun surat kabar pertama Koran Medan Priyayi yang dipelopori oleh RM Tirto Adisuiryo. Pada awalnya memang masih menjadi pertarungan yang cukup kuat antara kelompok Priyayi Jawa Konservatif dan Priyayi Jawa Liberal (barat maindit). Implikasi lain, munculnya sekretariat seperti Jong Jawa, Jong Sumatra, Jong Islament Bond, Jong Celebes, SI, Muhamadiyah dan lainya.

Bersamaan dengan revolusi Bolshevik yang membawa ideology komunisme di Rusia, telah menjadi inspirasi awal gerakan perlawanan kaum miskin di Indonesia yang ditandai dengan pemberontakan 1926, pasca ini terjadi konsolidasi gerakan yang cukup masif ditingkatan nasional, karena yang terlibat didalamnya tidak hanya dari golongan komunis semata, tapi dari golongan-golongan agama pun ikut didalamnya, walaupun dalam satu sisi komunis sebagi ujung tombaknya. Dan imbas dari gerakan ini adalah penangkapan secara besar-besaran aktifis gerakan komunis ataupun yang bersimpati pada gerakan komunis, sumber resmi menyebutkan ada sekitar 13.000, dan 5.000 diantaranya dihukum ringan, 1.000 dipenjara, 823 dibuang ke Boven Digul, 6.000 dibebaskan dan 9 dijatuhi hukuman mati. (Pramudia Ananta Tour, Cerita Dari Digul, Kepustakan Populer Gramedia, 2001). dan bersamaan dengan banyaknya tokoh PKI yang diasingkan di Digul, peta pergerakan anak bangsa mengalami pergeseran inspiraqtor gerakan, hal ini terbukti dengan munculnya sumpah pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928 yang diusung oleh kelompok nasionalis. Momen ini subenarnya lebih tepat bila dimaknai bahwa sumpah pemuda semakin memperjelas perpecahan elit bangsa kedalam kelompok nasionalis, agama dan komunis. Dari ketiganya sama-sama punya birahi yang sama untuk tampil kedepan.

Dengan perang dunia I (1918) membuat kelompok dunia I sibuk seputar masalah peperangan. Pada akhirnya, kondisi ini memberikan angin segar kepada negara-negara jajahan, termasuk Indonesia. Disamping itu angin segar ini telah melahirrkan Revolusi Asia. Salah satu ujud nyata implikasi ini adalah munculnya sumpah pemuda pada tahun 1928 yang sekaligus menjadi embrio awal lahirnya Indonesia.

Seorang pemikir Amerika,Telcot Person dalam bukunya the setructural action menerapkan teorinya: structural fungsional. Dari proses ini terjadi polarisasi negara-negara imnperialis yang kemudian melahirkan blok Sekutu dan Axis.

Pada tahun 1939 konflik antar blok ini makin menajam. Sementara Indonesia menjadi wilayah perebutan untuk pangkalan dari kedua belah blok itu. Sehingga pada tahung 1942 Indonesia takluk pada Jepang dan menjadi salah satu basis kekuatan Axis. Dan disini dirasakan puncak-puncak kolonialisme.

Dari situasi ini kemudian muncul satu tokoh yang dapat mencuri moment dari satu reses yang terjadi di tingkatan global. Dialah soekarno yang bersama sama telah melahirkan NKRI pada tahun 1945. Dari situ satu babak kemerdekaan Indonesia terjadi karena pengaruh system dunia internasional. (Hasyim Wahid dkk. Telikungan Kapitalisme Global Dalam Sejarah Kebngkitan Indoneis. LkiS. Yogyakarta 1999.)

CATATAN

Satu sisi, feodalisme di Indonesia masih sangat kental. Hal ini dapat dilihat misalnya dalam politik kepartaian saat ini. Bagimana kelas priyayi masih menjadi simbol kekuasaan, dan perebutan politik yang terjadi masih hanya terjadi ditingkatan elit kelompok, dan kecenderungan yang terjadi kemudian basis bawah hanya menjadi korban politik. Dan juga nalar mistik masih sangat mewarnai kehidupan masyarakat kita. Hal ini diperparah dengan bangunan psiko historis yang mengungkung nalar ekonomi kita.
Persoalan lain yang cukup menyakitkan adalah dominasi global terhadap setiap sendi kita baik ekonomi, politik, sosial, budaya juga pengetahuan, yang begitu cepat terus mengalami satu proses perubahan. Sehingga kemudian ketika kita mau mencari sisi ideal untuk keluar dari krisis sangat buntu. Di satu sisi, kita dihadapkan dengan budaya feodalisme yang sangat kuat, sedangkan sisi yang lain kita dihadapkan dengan panorama kapitalisme global yang  jauh lebih kuat.(Tan Malaka. Manifesto Jakarta.)

Subscribe to receive free email updates: