MELESTARIKAN IDE BESAR CAK NUR DAN TANTANGANNYA

MELESTARIKAN IDE BESAR CAK NUR DAN TANTANGANNYA
Mungkin saya bisa dianggap sebagai orang yang terlambat mengenal seorang Nurkholis Madjid atau Cak Nur, lebih akrabnya kita menyebutnya. Saya baru mengenal beliau setahun setelah kematiannya, lebih tepatnya ketika saya mulai menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di kampus Ciputat, kampus yang dahulu pernah dinikamti oleh Cak Nur. Itupun saya mengenalnya hanya sebatas pada diri seorang Cak Nur sebagai tokoh kontroversial keislaman di ranah pemikiran Indonesia, intelektual yang mengibarkan bendera sekulerisme, pluralisme, dan liberalisme atau yang lebih dikenal dengan singkatan “sipilis”.Ketika masih di pesantren salaf, saya dan juga santri-santri yang lain mendengar jati diri Cak Nur secara samar-samar, tak jelas. Seorang Cak Nur yang terkonotasikan secara negatif, seorang muslim yang mencoba menghancurkan Islam dari dalam, cendekiawan Islam yang mengumandangkan paham sesat dan menyesatkan, sarjana Islam yang mencoba mengacak-acak ideologi dan syariat Islam yang telah mapan, atau dengan bahasa yang lebih vulgar adalah seorang muslim yang sesat dan menyesatkan muslim yang lain. Asumsi yang bernada negatif ini mungkin disebabkan oleh minimnya akses yang mampu mengantarkan saya dan juga santri yang lain untuk mengetahui pemikiran Cak Nur secara langsung ataupun melalui tulisan-tulisannya. Selain itu, pesantren hanya menyediakan kitab-kitab klasik atau sering kita sebut “kitab kuning”, untuk buku- buku karya intelektual muslim modern tidak pernah dapat diakses oleh para santri, bahkan seolah-olah pihak pesantren melarang para santri untuk mengkaji karya mereka, termasuk juga karya-karya pemikiran Cak Nur. Hal ini pula yang mengakibatkan persepsi saya terhadap Cak Nur juga bernada negatif saat itu.
Ketika memasuki dunia kampus, saya mulai meghirup udara kebebasan berpikir yang dahulu juga pernah dirasakan oleh Cak Nur. secara perlahan-lahan namu pasti—dengan tersedianya fasilitas yang memudahkan untuk mengetahui ide-ide pemikirannya—nurani ini tergerak untuk mencoba menyelami dan memahami hakikat Cak Nur serta pemikiran-pemikirannya yang sebenarnya. Apa benar anggapan tentang beliau yang saya dengar selama di pesantren? Apa benar persepsi negatif tentang Cak Nur yang dilontarkan oleh mereka yang membenci gagasan Cak Nur? Apa benar Cak Nur seorang muslim yang sesat dan menyesatkan? Apa betul Cak Nur orang yang pinter namun keblinger? Apakah benar ia menodai Islam dengan paham “sipilis”nya?.
Setelah mencoba membaca dan memahami pemikiran Cak Nur–baik melalui tulisan-tulisannya secara langsung, melalui tulisan orang-orang yang mengaguminya yang mencoba menjabarkan dan menafsirkan maksud pemikirannya, dan bahkan melalui coretan-coretan mereka yang menganggap Cak Nur sebagai penyeru paham sesat dalam Islam—saya kaget sekaligus tercengang, ternyata salah besar asumsi tentang Cak Nur yang saya peroleh selama ini. Ternyata ia bukanlah orang yang sesat apalagi menyesatkan, ia bukanlah pembawa paham yang mencoba menghancurkan Islam dari dalam. Sesungguhnya Cak Nur merupakan prototipe seorang muslim yang kaffah, intelektual muslim yang mencoba mengobarkan api semangat kebangkitan terhadap saudara muslim yang lain. Bahkan Cak Nur bagi saya—kalau boleh membandingkan—lebih muslim, lebih sempurna keislamannya dari pada mereka yang menganggap dirinya sebagai seorang muslim namun mengkafirkan muslim lain yang tak sepaham dengannya, sedangkan Cak Nur sendiri tidak pernah menganggap sesat apalagi mengkafirkan saudaranya yang tak sejalan dengannya.
Itulah sepintas tentang saya dan Cak Nur. Saya merasa tercerahkan ketika membaca tulisan-tulisannya, melalui beliau, saya menemukan Islam yang sesungguhanya, Islam yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, Islam yang mampu menjawab perkembangan zaman, Islam yang sangat toleran terhadap sesama.
Seribu hari yang lalu Cak Nur telah meninggalkan kita semua. Meskipun beliau telah tiada, namun pemikirannya tetap hidup hingga sekarang, ide-idenya menyatu di jiwa kita, semanagat keislamannya masih tetap tercium harum. Yang menjadi persoalan mendasar adalah sejauh mana kaum muda dan mahasiswa mengapresiasikan cita-cita yang telah dirintis oleh Beliau? Sudah sampai mana kita meneruskan estafet perjuangannya? Atau malahan kita telah berbelok arah dari jalan yang telah dilaluinya semasa ia hidup? Atau kita telah meninggalkan pemikirannya yang cemerlang tersebut? Untuk menjawab semua itu sebenarnya terdapat beberapa permasalahan yang cukup mendasar dan fundamental dihadapi kaum muda khususnya para mahasiswa yang mencoba mengapresiasi dan menghayati ide-ide maupun gagasan-gagasan besar pemikiran Cak Nur pasca kematiannya, permasalahan tersebut yaitu:
Pemahaman terhadap Cak Nur secara absurd
Saat ini, Pemuda dan mahasiswa cenderung memahami konsep pemikiran Cak Nur secara absurd, tidak jarang dari mereka yang mengenal Cak Nur sebatas sebagai tokoh sekuler dan liberal, mereka baru memahami gagasan Cak Nur hanya kerangka luarnya, mereka belum mampu menangkap maksud dan tujuan inti dari pemikiran Cak Nur, dan tidak jarang dari mereka salah memahami cita-cita yang telah digagasnya. Pemahaman yang dangkal ini di kemudian hari bisa menjadi bumerang bagi kita sendiri yang mengagumi dan mencoba melestarikan pemikiran Cak Nur. Salah interpretasi kita terhadap pemikirannya tersebut akan menjadi senjata bagi mereka yang membenci Cak Nur, mereka akan mengecam bahwa pemikiran Cak Nur memang sesat. Alaih-alih ingin meneruskan, mengembangkan, dan melestarikan pemikiran Cak Nur, malah justru sebaliknya, akan menghancurkan dan mematikan pemikirannya.
Romantisasi masa lalu berlebihan
Mengenang sejarah memang perlu, apalagi sejarah yang membanggakan, tetapi jika dikenang secara berlebihan akan berdampak tidak baik pula. Saat ini, pemuda dan para mahasiswa banyak yang membanggakan kesuksesan yang pernah diraih oleh Cak Nur semasa ia hidup. Terlebihnya, teman-teman mahasiswa yang aktif di organisasi yang pernah dibesarkan dan dinahkodai oleh Cak Nur, yaitu Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Di HMI, mungkin bisa dikatakan sosok Cak Nur adalah Nabi bagi mereka, nabi yang telah memberikan pencerahan bagi para pengikutnya. Sayangnya, romantisasi ini tidak dibarengi dengan mencoba untuk mengikuti dan meniru keberhasilan yang diraihnya. Mereka hanya melihat keberhasilan yang telah dicapai Cak Nur, tetapi mereka tidak pernah berpikir bagaimana beliau bisa memperoleh kesuksesan seperti itu, mereka tidak pernah melihat kerja keras dan usaha yang dilakukannya, apalagi mencoba menerapkan dan mengaplikasikan dalam kehidupan mereka. Romantisasi yang berlebihan ini akan menjadikan Cak Nur dan pemikirannya sebagai sejarah yang hanya untuk diingat dan dikenang, jika sikap ini terus dibiarkan maka pemikiran besar Cak Nur akan hilang, dan Cak Nur tinggal sebuah nama sebagai tokoh sekuler.
Pergeseran dari Budaya Kultural Menuju Budaya Struktural
Saat ini, mahasiswa bisa dikatakan lebih condong terhadap budaya struktural, mereka lebih bersikap pragmatis. Mayoritas mahasiswa yang berkecimpung di organisasi intra maupun eksra kampus lebih fokus kepada permasalahan politik dari pada intelektual keilmuan. Hari-hari mereka hanya dihabiskan untuk berbicara seputar politik praktis, bagaimana cara memenangkan pemilu, bagaimana memiliki kader yang banyak dan sebagainya. Aktifitas mereka terlihat hanya ketika diselenggarakan hajatan besar kampus, yaitu Pemira, Pemilihan BEM dan Senat. Sikap ini jauh bertolak belakang dengan situasi yang dihadapi Cak Nur ketika menjadi mahasiswa. Saat itu, selain aktif di organisasi, Cak Nur dan teman-temannya menghabiskan waktunya dengan berbagai macam kajian dan diskusi baik seputar keislaman, kenegaraan, maupun pemikiran tokoh-tokoh intelektual. Ketika itu, hampir di tiap sudut kampus terdapat sekumpulan mahasiswa yang sedang melakukan diskusi maupun kajian.
Tiga permasalahan mendasar yang dihadapi para mahasiswa tersebut harus segara dicarikan solusinya, supaya ide besar Cak Nur tetap hidup dan lestari. Sebenarnya permasalahan tersebut saling berkaitan, baik antara pemahaman mahasiswa yang absurd, romantisasi yang berlebihan serta bergesernya mahasiswa kepada budaya struktural. Pertama, pemahan terhadap Cak Nur secara dangkal dapat diatasi dengan merubah budaya struktural menjadi budaya kultural, dengan menghidupkan kembali iklim kampus yang bernuansa keintelektualan dan keilmuan, serta dengan mengadakan kajian dan diskusi seputar keislaman terutama pemikiran yang telah digagas oleh Cak Nur. Dengan demikian pemikiran Cak Nur tetap lesatari dan berkembang. Kedua, romantisasi dengan kebesaran yang dimiliki Cak Nur tidak menjadi masalah, asalkan sikap romantis tersebut bisa membangkitkan diri kita untuk menjadi lebih semangat dalam memahami, menyebarkan, dan melestarikan pemikiran Cak Nur. Yang terakhir, budaya struktural dan sikap pragmatis harus segera dirubah menuju budaya kultural, budaya yang bernilai keilmiahan dan keislaman. Organisasi kepemudaan dan organisasi yang ada di kampus harus mulai merubah sikap dari politik praktis menuju sikap yang mampu membentuk jiwa intelektual.
Demikianlah pandangan saya sebagai mahasiswa yang mengagumi Cak Nur dan pemikirannya, dan mencoba mengapresiasikan dan melestarikan ide-ide besarnya. Jika kita tak ingin gagasan besar Cak Nur mati setelah kepergiannya, marilah kita merubah kebiasan kita yang salah selama ini, marilah kita menuju jalan yang seharusnya, jalan yang telah ditunjukkan oleh Cak Nur

Subscribe to receive free email updates: