Antara Puasa, Keikhlasan dan Etos Kerja

Ikhlas, dalam praktik beribadah, merupakan situasi psikologis yang paling rumit. Ikhlas diibaratkan seseorang yang beramal dengan tangan kanan, maka tangan kiri tidak tahu amalan tangan kanannya. Dalam berpuasa, keikhlasan seseorang ditempa dan diuji melalui banyaknya peristiwa kolektif dan pribadi. Puasa mendidik keikhlasan yang mempribadi, sebab puasa adalah ibadah yang langsung terhubung dengan Tuhan. Hanya Tuhan dan pelaku puasa itu sendiri yang tahu tentang apa dan bagaimana amalan seseorang selama berpuasa, sehingga puasa mendidik hati secara otentik.  

Konsekwensi dari pelaksanaan puasa yang sesuai aturan syariat, maka Tuhan menghargainya dengan mengganjar langsung perbuatan hamba-Nya itu yang melakukan ibadah puasa. Merujuk pada kemuliaan puasa, makna puasa berpeluang mendidik hati untuk belajar ikhlas. Ikhlas adalah masalah otentisitas pribadi, sebab ikhlas disandarkan pada niat yang kuat bagi seseorang sebagai basis penentu perilaku beribadah atau beramal. Ketika orang tidak ikhlas dan mengharap pujian dari orang sekitar maka mereka akan terjebak pada perkara riya’, ibadah yang dilakukan sebab mengharap pujian dan penghargaan dari orang lain. Ibadah yang dilakukan dengan riya’ justru akan menghapus ibadah itu sendiri. Keikhlasan adalah kekuatan yang akan selalu diuji dan ditempa oleh berbagai self interest.
https://aang-zaeni.blogspot.com/2018/01/antara-puasa-keikhlasan-dan-etos-kerja.html

Oleh karena itulah ibadah puasa sebenarnya digerakkan dari kerangka spiritualitas mengenai hakikat pribadi yang otentik. Puasa meletakkan fundasi keimanan dalam ranah spiritualitas yang membebaskan pribadi manusia dari banyaknya kepentingan sendiri. Ikhlas merupakan makna ibadah yang tidak umum, tetapi mempribadi. Artinya bahwa orientasi ibadah bukan ingin mendapat derajat kemuliaan karena mendapat imbalan dari orang lain atau sanjungan karena perbuatan baik seseorang. Puasa mendidik pribadi melepaskan nafsu diperbudak kekuasaan. Orang yang terbiasa makan, maka dalam puasa seseorang diajak untuk melepaskan diri dari hegemoni makanan. Melalui puasa, seorang berlatih menjadi pribadi yang mampu membebaskan diri dari belenggu materialisme, keserakahan, nafsu syahwat dan tidak diperkenankan membentuk hubungan sosial yang timpang pada sesama. Puasa secara substantif mengolaborasi pemaknaan ikhlas sebagai parameter keberhasilan diri dalam mencapai derajat tertinggi di hadapan Tuhan.

Pemaknaan ikhlas yang mempribadi dapat ditransformasi dalam realitas sosial dalam berbagai bentuk prilaku pembebasan. Seseorang tidak akan arogan dalam bekerja, dengan tidak menghargai hasil karya orang lain. Menghilangkan sikap dan sifat egoisme dan budaya untuk menang sendiri, yang menghargai rambu – rambu pertemanan. Bahkan hegemoni kekuasaan di diri seseorang akan hilang seiring dengan tumbuhnya sifat tawadhu, qana’ah dan kesabaran dalam menghadapi prilaku manusia sekitarnya yang berbeda – beda. Karakter positif tersebut diatas muncul dalam etos kerja seseorang lantaran puasa telah menjadi bengkel hati manusia agar secara sengaja diajak untuk beribadah yang berhubungan pada dua (2) dimensi.

Dimensi pertama, tersambung dengan kualitas ibadah langsung dengan Tuhan, dimensi kedua kualitas ibadah yang tersambung dengan nilai – nilai kemanusiaan. Dua dimensi ini perlu diseimbangkan agar terwujud fiddunnya hasanah wafil akhirati hasanah. Ibadah puasa memperkaya kematangan diri sebagai manusia unggul (the mature of personality) yang tidak dihamba oleh materialisme, kekuasaan, atau variasi dari bentuk – bentuk self fulfiing prophecy. Bekerja ikhlas dan bekerja cerdas adalah bagian dari konstelasi dasar ibadah. Seseorang tidak hanya dituntut mampu dan kuat bekerja, namun sabar dan ikhlas dalam menghadapi aneka fenomena kerja yang senantiasa membutuhkan kecerdasan seseorang dalam menyelesaikannya. Itu sebabnya mengapa orang yang berpuasa, dan sabar serta ikhlas dalam puasanya, mampu memenangkan berbagai persaingan hidup dan mampu memenangkan pertarungan jiwanya yang selalu menuntut kepuasan duniawi.

Ikhlas mempribadi dalam matra sosial yang tidak mengurangi hasil dari prilaku sosial. Ia tidak memupuk kepuasan diri untuk menaikkan obsesi derajat pribadi di mata Tuhan atau obsesi derajat pribadi di mata manusia. Obsesi derajat pribadi di mata Tuhan dimaknai bahwa ibadah tidak hanya dilakukan karena surga semata, justru neraca iman kita terdidik guna memupuk self-interest terhadap Tuhan. Ikhlas lebih bermuara pada mencapai ridho Allah yang bermakna tawakal. Bahwa seluruh ibadah yang kita rajut semasa hidup seluruhnya diserahkan menjadi hak prerogratif Allah untuk mengganjarnya, karena yakin bahwa keputusan Allah terhadap amal hamba-Nya adalah mutlak. Surat An-Nisa 146 menjelaskan bahwa: “kecuali orang – orang yang bertaubat dan mengadakan perbaikan, dan berpegang teguh pada (agama) Allah secara tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu bersama – sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada mereka pahala yang besar”.

Ikhlas mendidik kita agar tidak mengukur derajat amalannya untuk menaikkan obsesi derajat di mata manusia sehingga tidak memilih – milih amalan. Ikhlas merupakan ibadah yang bisa ditransformasikan pada dunia sosial untuk memeratakan dan mewujudkan kesejahteraan bersama. Sebuah riwayat mengisahkan, “Ada seorang laki – laki yang mengunjungi saudaranya di kota lain, maka Allah mengutus malaikat di perjalanannya, ketika malaikat tersebut bertemu dengannya, malaikat itu bertanya, “Hendak ke mana engkau ?” maka dia berkata “Aku ingin mengunjungi saudaraku yang tinggal di kota ini.” Maka malaikat itu kembali bertanya “Apakah engkau memiliki suatu kepentingan yang menguntungkanmu dengannya ?” orang itu menjawab, “Tidak, hanya saja aku mengunjunginya karena aku mencintainya karena Allah, malaikat itu berkata “Sesungguhnya aku adalah utusan Allah azza wajalla untuk mengabarkan kepadamu bahwa sesungguhnya Allah mencintaimu seperti engkau mencintai saudaramu itu karena-Nya” (HR. Muslim). Hadits ini mengajarkan keikhlasan yang mempesona. Persaudaran telah dibebaskan dari hukum transaksional.

Disinilah sebenarnya amalan puasa disandarkan pada muara ke-ikhlas-an karena kecintaan terhadap Allah. Karena puasa adalah ajakan agar manusia menyadari dan mau mengukur kecukupan kebutuhan dirinya. Bukankah akan terasa lebih indah jika hubungan baik antara sesama pekeja terjauhkan dari interest pribadi atau kepentingan sesaat?. Bukankah akan terasa lebih indah jika hubungan kerja didasari atas saling menghargai, mencintai, menghormati diantara sesama pekerja?... karena masing – masing pada diri kita telah tumbuh pemahaman, bahwa setiap orang menjadi penting di bidangnya. Puasa mendidik seseorang ikhlas dengan mendaulat diri supaya tidak terjebak kepada kepemilikan absolut.

Puasa mengajak melepaskan dimensi kepemilikan untuk disharingkan ke manusia lain. Hasil sharingnya juga tidak dihitung sebagai prinsip transaksional tetapi dihitung sebagai amal ibadah yang semata – mata ditimbang karena kecintaan terhadap Allah. Suatu amal yang tidak mengharap imbalan popularitas, keuntungan dan kesahajaan karena sanjungan orang lain. Bahwa semua ibadah, termasuk bekerja, telah terfokus untuk mendapat ridha Allah azza wajalla sebagaimana hakikat ibadah puasa yang menjadi rahasia Tuhan dan dirinya sendiri. Puasa mengajak umat untuk keluar dari belenggu egosentrisme. Manusia ditempa untuk mengenali keakuan dan melepaskan egosentrisme. Misalnya dalam etika bekerja, seorang yang berpuasa diperintahkan untuk bekerja tanpa dihantui persaingan jabatan atau pujian dari atasan. Etika itu mengisyaratkan agar ibadah puasa diisi dengan latihan menejemen ego kuasa. Sebuah ranah spritualitas yang dapat disamakan bobotnya dengan belajar ikhlas. Puasa dimaknai melebihi fakta kekuasaan. Karena kita sering terperangkap memupuk diri menjadi manusia – manusia tamak, egosentris, mengejar kepuasan dan kemanjaan hidup. Puasa mengajak manusia untuk mengatur ego agar mampu nrimo. Sebuah entitas kecil dari upaya menuju ikhlas. Ketika nrimo menjadi fokus kepribadian, maka kita akan mudah belajar ikhlas. Untuk menjadi kekuatan transformatif maka ikhlas harus dimulai dari diri sendiri dan puasa merupakan medan pengkondisian agar manusia terbiasa dalam siklus berkecukupan. Saat kita mampu mengukur rasa kebercukupan, maka ikhlas akan membahana menjadi kesadaran otentik tentang situasi tanpa pamrih dalam beribadah/beramal, kecuali hanya mengharap kecintaan kepada Allah azza wajalla.

Bukankah para pendahulu kita telah mencapai derajad kemuliaan dimata Tuhan dan manusia lantaran keihklasan mereka dalam berbuat tanpa pamrih? Mereka adalah manusia – manusia pilihan yang menjadi suri tauladan bagi manusia sesudahnya, dan Allah azza wajalla menyeru kita berpuasa agar dapat menjadi manusia beruntung seperti mereka: “Hai orang – orang yang beriman, diwajibkan atasmu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang – orang sebelum kamu, mudah – mudahan kamu termasuk orang yang beruntung”

Subscribe to receive free email updates: