Semangat Beragama Yang Harus Dipahami Didalam & Diamalkan Adalah

Tantangan beragama di zaman modern ini menampakkan model baru berupa merosotnya spritualitas. Hal demikian terlihat banyak dalam masayarakat Muslim, seiring dengan besarnya gelombang cobaan Muslim berupa perkembangan zaman, teknologi serta pola perekonomian yang kian jauh dari pengelolaan perekonomian Islam.

Kemodernan dalam wujud modernisasi menjadi kegalauan sekaligus kekaguman manusia modern. Bahkan kaum agamawan pun saat ini banyak yang mulai mengoreksi kembali pola dan ajaran keagamaan yang dipraktikkan oleh umatnya; karena tidak jarang sejumlah tragedi kemanusiaan terjadi dengan mengatasnamakan agama.

Di sini, kemajuan teknologi seolah tak seirama dengan pemahaman keagamaan manusia modern. Dengan demikian, perlunya kembali –atau minimal merenungkan lagi- ke pola keberagamaan era Awal pra mupun ketika pewahyuan. Bahkan, hal demikian terlihat dalam sejarah lahirnya agama besar lainnya, yang dibawa oleh seorang dengan laku kehidupan sederhana, memahami dan menghayati hidup. Demikian diresapi dengan cinta, kasih terhadap lainnya.
http://aang-zaeni.blogspot.com/2017/01/semangat-beragama-yang-harus-dipahami.html

Dalam Islam, hal demikian sangat cair terutama dimasa Madinah, Nabi berhijrah dengan melakoni kehidupan kesederhanaan serta para sahabat besar mengikutinya. Itulah uswah yang berjalan langsung dan ditiru hampir oleh semua sahabat.

Konsep agama sebagai sebuah bukti kecintaan dilakoni pula oleh para sufi. Bagi para sufi, cinta tidak dapat didefinisikan, meskipun jejak-jejaknya dapat dilukiskan. Cinta adalah soal perasaan, dan tasawuf pun juga adalah soal perasaan. Namun, cinta sejati tidak akan terbangun tanpa pengetahuan yang utuh terhadap apa yang dicintai. Pada poin tersebu, maka seorang muslim yang beriman seharusnya menyadari dan menumbuhkan semangat cinta dalam beragama, hingga menjadi muslim yang nilai sufi keberagamaannya menjadi piranti iman, menerangi hati dan kehidupan.

Dalam al-Qur’an terdapat begitu banyak keterangan tentang cinta atau hubb, seperti yang mengatakan:
, ...Maka Allah akan mendatangkan satu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya (QS. Al-Maidah: 54). Adalah keyakinan umat Islam bahwa Allah Maha Mencintai, sebagaimana Dia adalah Maha Pengasih dan Maha Pemaaf, seperti ditegaskan dalam ayat-ayat berikut ini,...Sesungguhnya Tuhanku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih (QS. Hud: 90) dan, Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS. Al-Buruj: 14).
Kesufian yang menjadi pola fikir keberagamaan kaum Muslim bukanlah hal yang elit, dilakoni oleh orang tertentu saja, melainkan hal yang sesestinya dilakoni oleh semua umat Muslim. Pesan yang terkandung dalam ajaran ini mengandung dua arti atau makna unik secara timbal balik. Pertama, sepenuhnya bermakna vertikal, yakni Allah mencintai manusia, lalu manusia mencintai Allah.

Artinya, cinta kepada Allah merupakan persyaratan untuk mendapatkan balasan cinta dari Allah, dan semua ahli mahabbah memandang bahwa yang menumbuhkan rasa cinta kepada Allah justru cinta Allah kepada manusia. Ketika manusia mulai mencintai-Nya, maka cinta-Nya akan bertambah hingga memampukan mereka untuk meneladani Nabi Saw., menyucikan dan menumbuhkan jiwa, mengingat Allah terus-menerus, dan menjadi manusia yang sempurna (insan al-kamil).

Kedua, bermakana horizontal sekaligus vertikal. Yaitu kesadaran seorang hamba untuk mencintai sesama makhluk Tuhan, yang itu dilakukan dalam rangka demi Tuhan pula. Secara maknawi, tipe cinta yang kedua ini sangat ideal yang tentunya sesuai dengan tuntunan syari’at. Hanya saja, pada tipe kedua inilah ditemukan sisi-sisi paradoks konsep cinta yang menekankan adanya kedamaian, halus atau lembut, indah, dan rukun, tetapi juga kadangkala menjelma menjadi kasar dan “beringas”. Untuk poin agama dan nuansa cinta sufistik ini, sebagai Muslim perlu menanyakan lagi, jika ekpesi agama kita adalah kekerasan, maka sudah tulus kah kita beragaman dengan mencintai?

Subscribe to receive free email updates: