Membentuk Karakter Pribadi Muslim Melalui Pendidikan Qur'ani

Pendidikan dalam sejarah peradaban manusia adalah salah satu komponen kehidupan yang paling dominan dalam mengantarkan kepada peradaban baru. Aktifitas ini telah dan akan terus berjalan semenjak manusia pertama ada di dunia sampai berakhirnya kehidupan di muka bumi ini. Sebagaimana telah dijelaskan dalam al-Qur’an bahwa pendidikan mulai berproses semenjak Allah swt. menciptakan manusia pertama Adam di surga dimana Allah telah mengajarkan kepada beliau semua nama-nama yang oleh para malaikat belum dikenal sama sekali (Q.S Al Baqarah: 31-33).

Pentingnya sebuah pendidikan dalam masyarakat ini karena kehidupan manusia bersifat dinamis, sehingga problematika hidup juga akan terus berkembang. Disinilah fungsi sebuah pendidikan yang diharapkan menjadi sarana untuk bisa merespon perkembangan dan mencari solusinya.

Imam Al-Ghazali menyatakan bahwa hakekat pendidikan adalah untuk mendapatkan kebahagiaan di dunia dengan ilmu, mengabdi dan mendekatkan diri kepada Allah SWT sehingga mendapatkan kebahagiaan di akherat, yakni surga.Dari sini sangat jelas bahwa sesungguhnya hakikat pendidikan adalah untuk mencari ilmu yang sebanyak-banyaknya sebagai bekal mengarungi bahtera hidup yang demikian luas.

Oleh karenanya dalam Islam, ilmu pengetahuan mendapatkan perhatian serius, mengingat peranannya yang sangat penting bagi kehidupan manusia sehingga berhukum wajib bagi siapa saja untuk mendapatkan ilmu pengetahuan kemudian mengapresiasikannya dalam kehiduapan riil. Terkait dengan diskusi keilmuan, al-Qur’an menjelaskan:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
“Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majelis", maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberikelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan" (al-Mujâdalah [58]: 11).
Dari ayat ini, setidaknya ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan. Pertama, ilmu itu akan mengantarkan manusia beraih keimanan yang sempurna. Kedua, ilmu itu dapat mengangkat manusia lebih tinggi derajatnya dibandingkan mereka yang tidak berilmu. Dalam hal ini ciri-ciri manusia yang berilmu diantaranya adalah mempunyai kesiapan untuk menerima hal-hal yang baru dan tidak terkungkung oleh prejudice yang selama ini ada dalam benaknya serta berlapang dada dalam menerima kritik maupun pujian.

Ketiga, ilmu itu akan dapat diperoleh dengan baik apabila manusia memperhatikan mau memikirkan, mengamati, dan mencerna segala sesuatu yang sudah dicptakan oleh Allah dalam semesta ini. Keempat, kalimat terkahir dalam ayat ini, yakni "Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan," merupakan isyarat bahwa ilmu adalah sesuatu yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Dengan kata lain, ilmu adalah amanah yang penggunaannya selalu dipantau oleh Allah.
http://aang-zaeni.blogspot.com/2017/01/membentuk-karakter-pribadi-muslim.html

Dalam banyak kesempatan al-Qur’an menjelaskan, setidaknya ada tiga potensi yang terkandung dalam ilmu pengetahuan. Pertama, potensi untuk mengetahui dan membuka cakrawala baru. Ia memiliki kemampuan untuk mengungkap hakikat sesuatu yang semula masih misteri (tidak diketahui) menjadi sesuatu yang rasional-ilmiah. Kedua, potensi untuk mengalahkan, menundukkan, dan menaklukkan pihak lain.
Pihak lain di sini bisa berarti manusia atau entitas lain di luar subyek. Di sinilah pepatah "knowledge is power" menemukan momentum dan titik kebenarannya. Beberapa potensi ini akan memberikan manfaat yang luar biasa demi sebuah perubahan peradaban manusia yang lebih maju.

Pendidikan merupakan proses untuk mencetak manusia -beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlaq mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan bertanggungjawab- sempurna yang diorientasikan untuk terbentuknya individu yang memahami realitas diri dan realitas masyarakat sekitarnya sehingga tercipta sebuah perubahan yang signifikan dalam hidupnya.

Proses inilah yang akan melahirkan manusia berkualitas, beriman, dan bermoral. Karena hanya dengan terbentuknya manusia-manusia paripurna seperti yang digambarkan di atas, maka dengan sendirinya akan terjaga pula pluralitas dan perubahan dalam harmoni dan kesinambungan hidup yang mencerdaskan, dan pada gilirannya akan terwujud keadilan dan kemakmuran bagi seluruh masyarakat.

Baca Juga:
  1. Kebenaran dan Kemurnian Ajaran Islam yang Banyak Disepelekan     
  2. Semangat Cinta Beragama Sebagai Piranti Kehidupan
Hasil akhir yang diharapkan dari pendidikan di dalam Islam tidak hanya bertujuan untuk mengembangkan kemampuan konseptual pada diri pribadi seorang muslim menjadi ilmuwan dan pekerja profesional, akan tatapi juga bertujuan untuk membentuk karakter dan pribadi Muslim yang tangguh dengan watak dan budi pekerti yang luhur. Jika poin demikian secara istiqomah kita resapi dan jalani, maka mewujudkan manusia yang bertakwa, cedas terampil, berbudi luhur dan mencerminkan sikap yang agamis bukan hanya mimpin dan isapan jempol. 

Artikel Membentuk Karakter dan Pribadi Muslim Melalui Pendidikan Qur'ani ini ditulis oleh Aang Zaenal Alfian

Subscribe to receive free email updates: