Konsep Mahabbah Rabi'ah Al Adawiyah

Disiplin ilmu keislaman tradisional meliputi ilmu kalam, ilmu fiqh, filsafat dan tasawuf. Keempat disiplin ilmu tersebut memliki karakteristik tersendiri yang membedakan dari yang satu dengan yang lainnya. Tasauf membidangi segi-segi penghayatan dan pengamalan yang bersifat lebih pribadi di mana tekanan orientasinya bersifat esoterik, sedangkan filsafat membidangi hal-hal yang bersifat perenungan spekulatif.

Sejarah perkembangan pemikiran Islam sedikit banyaknya juga ditandai dengan adanya polemik di antara disiplin-disiplin ilmu keislaman tersebut. Perkembangan disiplin ilmu tersebut benih-benihnya dimulai sejak zaman Rasulullah saw. dan berlangsung hingga masa-masa selanjutnya.

Pertentangan politik sekitar pengangkatan khalifah dan gaya hidup sebagian khalifah sesudah khulafâ’ al-rasyiduûn menumbuhkan sikap oposisi keagamaan terhadap regim yang berkuasa saat itu. Dalam keadaan seperti itulah muncul segelintir orang-orang muslim Sunni dengan kecenderungannya pada pola hidup ascetic yang selanjutnya merupakan cikal bakal perkembangan tasauf. Dalam perkembangan selanjutnya tasauf tidak lagi berkembang sebagai gerakan oposisi politik, tetapi dinamika perkembangan gagasan kesufian sendiri yang secara sadar berkembang menjadi mysticisme.

Dalam perkembangan tasauf, para sufi menyuguhkan konsep religio- moral yang disebut maqâmât dan juga teori ahwâl yang bersifat psiko-gnostik yang harus dilalui oleh para sufi. Maqâmât ini bertingkat-tingkat dan tidak disepakati kronologi dan sistimatikanya. Salah satu di antara maqâmât itu ialah al-hubb, yang diperkenalkan oleh Rabi’ah al-Adawiyah.

Tulisan ini secara khusus berusaha mengungkap gagasan cinta (Hubb Ilâhi) yang dilontarkan Rabi`ah, sebagai bagian dari displin ilmu keislaman tradisional. kehadirannya memberi warna tersendiri terhadap perkembangan disiplin Ilmu tasawuf.
https://aang-zaeni.blogspot.com/2018/02/konsep-mahabbah-rabiah-al-adawiyah.html

Riwayat Hidup Rabi’ah al-Adawiyah


Nama lengkapnya Rabi’ah binti Ismail al-Adawiyah, seorang pemuka sufi abad kedua hijriyah. Ia lahir di Basrah tahun 95 H./713-714 M., pendapat lain mengatakan tahun 99 H./717 M.[6] Dia adalah anak keempat, karenanya diberi nama Rabi’ah yang artinya anak keempat, dari suatu keluarga miskin.

Kedua orang tuanya telah meninggal ketika ia masih kecil. Namun hal tersebut tidak membuatnya kehilangan pedoman. Demikian berat cobaan yang dihadapi ia tetap menerimanya dengan sabar dan penuh tawakkal kepada Allah swt.

Pada usia menjelang dewasa, ia pergi dan berpisah dari saudara-saudaranya, namun di tengah perjalanan yang tidak tentu arah, ia ditangkap oleh seorang penjahat lalu menjualnya kepada seseorang dengan harga enam dirham. Sejak saat itu ia menjalani hidupnya sebagai seorang budak. Di siang hari ia harus bekerja berat melayani tuannya dan pada malam hari ia beribadah kepada Allah swt.

Pada suatu malam terjadi suatu peristiwa aneh yang merubah jalan hidupnya; tuannya terjaga dari tidurnya dan melalui jendela melihat Rabi’ah sedang beribadah dan sujud, di atas kepalanya nampak cahaya yang menerangi seluruh rumahnya, dalam ibadahnya Rabi’ah berdoa:

“Ya Allah Engkau tahu bahwa hasrat hatiku adalah untuk dapat memenuhi perintah-Mu. Jika Engkau dapat mengubah nasibku ini, niscaya aku tidak akan beristirahat sekejappun dari mengabdi kepada-Mu”. Melihat kejadian tersebut, sang tuan merasa takut dan tidak dapat memejamkan matanya hingga menjelang fajar. Pada pagi harinya, ia memanggil Rabi’ah dan memerdeka-kannya. Sejak saat itu ia menghirup udara kemerdekaannya sebagai manusia.

Setelah Rabiah bebas, ia memusatkan perhatian pada kegiatan spritual. Di sana ia memiliki suatu majelis yang banyak dikunjungi oleh murid-muridnya yang terdiri dari pada zâhid untuk belajar dan bertukar pikiran.

Pada masanya di kota Bashrah sudah mulai ada halaqah (pengajian), yang dirintis oleh Hasan al-Bashri. Namun tak ditemukan data akurat, Rabi`ah pernah mengikuti halaqah tersebut dan berguru kepada seorang syaikh atau seorang guru. Namun menurut A. J. Arberry, dia murid tokoh zahid, yaitu Abu Sulaiman ad-Darani.

Walaupun demikian Rabi’ah sebenarnya sudah memiliki dasar pengetahuan agama, Sebab sejak kecil Rabi`ah selalu ikut kegiatan ibadah orang tuanya, baik itu ibadah mahdhah atau hanya sekedar membaca al-Qur’an dan berzikir.

Rabi`ah memilih menjalani kehidupannya seorang diri, Rabi`ah tidak pernah kawin, sungguh pun setidaknya ada 2 (dua) orang yang sudah pernah melamarnya untuk berumah tangga.

Dalam hidupnya yang yang diarahkan pada dimensi spritual, Rabia’h al-Adawiyah menjauhi kehidupan duniawi (zuhud, ascetic). Ia hidup dalam kemiskinan dan menolak segala bantuan materi yang diberikan kepadanya. Kehidupan Rabia’ah yang ascetic ini bisa dimaklumi, dengan dua pendekatan, pertama, Rabi’ah  menyadari latar belakang hidup keluarganya sebagai orang yang miskin. Secara psikologis pengalaman masa lalunya sebagai orang yang miskin dan bekas budak membawanya untuk tidak perlu hidup bermewah-mewah. kedua, sebagai seorang sufi, hal pertama yang harus ditempuh sebelum bergumul dalam dimensi spritual ialah  kehidupan yang ascetic.

Rabi’ah al-Adawiyah menghabiskan sisa hidupnya di Bashrah hingga wafatnya tahun 185 H./801 M. Rabi’ah al-Adawiyah tidak meninggalkan ajaran tertulis. Langsung dari tangannya sendiri. Ajarannya hanya dapat diketahui melalui para muridnya dan baru dapat dituliskan beberapa tahun setelah kematiannya.

Konsep Cinta Rabi’ah Al-Adawiyah Dengan Sang Ilahi (al-Mahabbah al-Ilahiyah)

Pengertian yang diberikan kepada mahabbah adalah kecenderungan hati untuk mencintai Allah. Ada juga yang mengartikan mahabbah sebagai ketaatan melaksanakan perintah Allah, menjauhi larangan-larangan-Nya serta ridha terhadap segala ketentuannya. Harun Nasution menyebut pengertian mahabbah dalam terminologi sufisme sebagai berikut:
  • Memeluk kepatuhan kepada Tuhan dan membenci sikap melawan kepada-Nya.
  • Menyerahkan seluruh diri kepada yang dikasihi.
  • Mengosongkan hati dari segala-sesuatu kecuali dari Tuhan
Jadi dapat dipahami bahwa hubb dalam terminologi mistisisme Islam (tasawuf) adalah kecenderungan hati seseorang (sûfi) untuk hanya cinta kepada Allah, mengosongkan bilik-bilik hatinya dari selain Allah, disertai ketaatan melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya

Menurut Imam al-Ghazali, kecintaan kepada Allah dan rasul-Nya adalah fardhu yang ditetapkan berdasarkan dalil-dalil pasti. Munculnya mahabbah ini diinspirasi oleh petunjuk-petunjuk al-Qur’an, antara lain QS al-Ma’idah: 54 dan QS Ali Imran: 30.

Kecintaan kepada Allah adalah tujuan yang tertinggi dari maqamat yang dilalui oleh para sufi. Al-Kalabazi membagi mahabbah ini kepada dua macam, yaitu cinta yang hanya dalam pengakuan saja, dan cinta yang dihayati dan diresapi dalam hati keluar dari lubuk hati. Cinta yang pertama ada pada setiap manusia, sedang cinta yang kedua ditujukan hanya kepada Allah. Cinta yang seperti inilah yang dianut dan diamalkan oleh kaum sufi.

Menurut Margaret Smith, Rabi`ah dinilai orang pertama yang menyatakan doktrin cinta tanpa pamrih kepada Allah. Di dalam sejarah perkembangan tasawuf, hal ini merupakan konsepsi baru di kalangan para sufi kala itu. Untuk mengetahui lebih jauh tentang konsepsi al-mahabbah atau al-hubb menurut Rabi`ah, akan ditelusuri pernyataannya tentang cinta.

Pada suatu waktu Rabi`ah ditanya pendapatnya tentang batasan konsepsi cinta. Rabi`ah menjawab: Cinta berbicara dengan kerinduan dan perasaan. Mereka yang merasakan cinta saja yang dapat mengenal apa itu cinta. Cinta tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Tak mungkin orang dapat menjelaskan sesuatu yang belum dikenalnya. Atau mengenali sesuatu yang belum pernah digaulinya. Cinta tak mungkin dikenal lewat hawa nafsu terlebih bila tuntutan cinta itu dikesampingkan. Cinta bisa membuat orang jadi bingung, akan menutup untuk menyatakan sesuatu. Cinta mampu menguasai hati.

Pada kesempatan yang lain, ada juga orang yang menanyakan cinta kepada Rabi`ah. Rabi`ah juga menjawab, bahwa: Cinta muncul dari keazalian (azl) dan menuju keabadian (abad) serta tidak terlingkupi oleh salah satu dari delapan belas ribu alam yang mampu meminum hatta seteguk serbatnya.

Dalam dialog lain, ada 2 (dua) batasan cinta yang sering dinyatakan Rabi`ah. Pernyataan pertama, sebagai ekspresi cinta hamba kepada Allah, maka cinta itu harus menutup selain Sang Kekasih atau Yang Dicinta. Dengan kata lain, maka pertama, dia harus memalingkan punggungnya dari dunia dan segala daya tariknya.

Lanjutnya kedua, dia harus memisahkan dirinya sesama makhluk ciptaan Allah, supaya dia tak bisa menarik dari Sang Pencipta. Tambahnya ketiga, dia harus bangkit dari semua keinginan nafsu duniawi dan tidak memberikan peluang adanya kesenangan dan kesengsaraan. Karena kesenangan dan kesengasaraan dikhawa-tirkan mengganggu perenungan pada Yang Maha Suci. Terlihat sekali, Tuhan dipandang oleh Rabi`ah dengan penuh kecemburuan sebagai titik konsentrasinya, sebab hanya Dia sendirilah yang wajib dicintai hamba-Nya.

Pernyataan kedua, kadar cinta kepada Allah itu harus tidak ada pamrih apapun. Artinya, seseorang tidak dibenarkan mengharapkan balasan dari Allah, baik ganjaran (pahala) maupun pembebasan hukuman, paling tidak pengurangan. Sebab yang dicari seorang hamba itu melaksanakan keinginan Allah dan menyempurnakannya.

Karenanya, kecintaan seseorang itu bisa saja diubah agar lebih tinggi tingkatannya, hingga Allah benar-benar dicintai. Lewat kadar kecintaan inilah, menurut Rabi`ah dalam penafsiran Margaret Smith, Allah akan menyatakan diri-Nya sendiri dalam keindahan yang sempurna. Dan melalui jalan cinta inilah, jiwa yang mencintai akhirnya mampu menyatu dengan Yang Dicintai dan di dalam kehendak-Nya itulah akan ditemui kedamaian.

Pada hari yang lain, Rabi`ah menyatakan 2 (dua) macam pembagian cinta, sebagai puncak tasawufnya dan dinilai telah mencapai tingkatan tertinggi dalam tahap cinta. Pembagian cinta tersebut, tertuang dalam lirik syairnya:

أحبك حبين حبّ الهوي    #      وحبًّا لأنك أهل لذاكا

فأما الذي هو حبّ الهوي  #       فشغلي بذكرك عمّن سواك

وأمّا الذي انت اهلٌ له     #      فكشفك لي الحجب حتّي أراكا

فلا الحمد في ذاأوذاك لي #      ولكن لك الحمد في ذا وذاكا.

“Aku mencintai-Mu dengan dua cinta Cinta yang timbul dari kerinduan hatiku dan cinta dari anugrah-Mu. Adapun cinta dari kerinduanku Menenggelamkan hati berzikir pada-Mu daripada selain Kamu. Adapun cinta yang dari anugrah-Mu Adalah anugrah-Mu membukakan tabir sehingga aku melihat wajah-Mu Tidak ada puji untuk ini dan untuk itu bagiku Akan tetapi dari-Mu segala puji baik untuk ini dan untuk itu”.

Pembagian cinta ini dinilai sebagai pelengkap keteladanan awal suatu peralihan. Sejak saat itu, lambat laun mempengaruhi karakteristik sufisme, yakni pengalihan sufisme dari pola hidup protes terhadap dominasi duniawi (kemewahan hidup ekonomi dan konflik politik), kepada suatu teori kemaujudan dan tatanan teosofi. Karena tasawuf itu pada dasarnya ekstrim rohaniyah, maka dalam pembagian cinta, Rabi`ah-lah orang yang merintis untuk membelokkan ajaran Islam ke arah mistik yang ekstrim rohaniyah.

Dialah pelopor yang memperkenalkan cita ajaran mistik dalam Islam. Dimaksud, terbukanya tabir penyekat alam ghaib, sehingga sang sufi akan bisa menyaksikan dan mengalami serta berhubungan langsung dengan dunia ghaib dan zat Allah. Kembali ke banyaknya pernyataan cinta Rabi`ah. Muncul pertanyaan, apakah muncul begitu saja, tanpa suatu proses? Dalam penelusuran Muhammad Atiyah Khamis, Rabi`ah telah memperluas beberapa makna ataupun lingkup cinta Ilahi.

Dulu Rabi`ah mencintai Allah sebagaimana lazimnya kebanyakan umat Islam, yaitu didorong karena mengharapkan surga Allah dan sebaliknya takut akan neraka-Nya. Ini ternyata jelas melalui pertanyaan doa Rabi`ah kepada Allah, yaitu … “O, Tuhan, apakah Engkau akan membakar hamba-Mu di dalam neraka, yang hatinya terpaut pada-Mu, dan lidahnya selalu menyebut-Mu, dan hamba yang senantiasa takwa pada-Mu.

Sesudah Rabi`ah menyadari bahwa landasan cinta seperti itu dianggap cinta yang masih sempit, Rabi`ah meningkatkan motivasi dirinya sehingga dia sampai luluh dalam cinta Ilahi.

Artinya, dia mencintai Allah karena memang Allah patut untuk dicintai, bukan karena ketakutan terhadap neraka ataupun disebabkan mengharapkan surga-Nya. Ini terlihat, saat Rabi`ah sakit jama`ah menjenguk dan menanyakan keadaannya, dia menjawab, aku tak tahu penyebab penyakitku ini.

Demi Allah, diperlihatkan padaku surga, lalu aku tertarik untuk memilikinya. Mungkin Tuhan cemburu akan sikapku ini, lalu Dia mencelaku. Dia menghendaki agar aku kembali kepada-Nya dan menyadari kesalahanku. Jadi dia tidak ingin menjadi pekerja wanita yang tidak baik. Terus ada peningkatan lagi. Dia justru minta dibakar api neraka, jika menyembah Allah karena takut neraka dan sekaligus mengharamkan surga, kalau dia mengharapkan surga.

Atas dasar cinta dalam penyembahan Allah, dia berkata, limpahkanlah ganjaran yang lebih baik. Dia minta diberi kesempatan melihat wajah Allah Yang Maha Agung dan Maha Mulia, hingga merasa bahagia berada dekat dengan Allah pada hari kebangkitan. Lantas perasaan bahagia itu diakhiri dengan bagiku (Rabi`ah) cukuplah keridlaan-Mu saja.

إلهى لو كنت أعبدك خوفا من نارك فأحرقني بنار جهنموإذا كنت أعبدك طمعا في جنتك فأحرمنيها وإما كنت أعبدك من أجل محبتك فلآ تحرمني من مشاهدة وجهك

Wahai, Tuhan! Apabika aku beribadah kepada-Mu hanya karena takut kepada neraka-Mu maka bakarlah aku di neraka-Mu. Dan apabila aku beribadah kepada-Mu hanya menginginkan surga-Mu maka keluarkanlah aku dari surga-Mu. Tetapi, jika aku beribadah kepada-Mu hanya untuk-Mu semata, berikanlah kepadaku keindahan-Mu yang abadi .

Begitu tingginya kadar kecintaan Rabi`ah kepada Allah hingga pada gilirannya, dia menilai tidur itu tidak saja sebagai bagian dari rangkaian mata rantai ibadahnya, akan tetapi juga sekaligus sebagai musuhnya yang telah menyebabkan berkurangnya ibadah. Perhatikan petikan berikut ini:Wahai Tuhanku, semua manusia telah tidur nyenyak. Raja-raja telah mengunci pintu istana masing-masing. Suami istri telah berbaring di atas sofanya. Namun, Rabi`ah yang banyak dosa ini masih bersimpuh di hadapan-Mu. Kebesaran dan Kemuliaan-Mu-lah yang membuat aku terus berjaga malam begini.

Begitu terpusatnya cinta Rabi`ah kepada Allah, pada gilirannya cinta bagi Rabi`ah hanya tertuju kepada-Nya. Cinta bagi Rabi`ah itu tenggelam dalam renungan mengenai Allah dan berpaling daripada segala makhluk, hingga tidak ada lagi dalam jiwanya perasaan marah atau benci terhadap musuh. Dalam pendalaman studi Margaret Smith, melalui telaah Tadzkirah al-Awliya’-nya Fariduddin al-Aththar, yaitu “Keberadaanku telah tiada dan jati diriku pun telah lenyap. Aku telah menjadi satu dengan-Nya”

Dalam cinta sempurna seperti itu, ahli sufi tak ada lagi dan hilang diri. Aku menyatu dengan-Nya dan sekaligus milik-Nya., harapanku adalah penyatuan dengan-Nya, sebab itulah tujuan dari keinginanku.

Catatan Kaki

[1] Nucholish Madjid, Islam Doktrin dan Peradaban: Sebuah Telaah Kritis tentang Masalah Keimanan, Kemanusiaan dan Kemoderenan, (Cet. III; Jakarta: Paramadina, 1995), h. 201, 218.

[2] Oposisi keagamaan ini antara lain dipicu oleh adanya ketidakpuasan terhadap praktek pemerintahan Bani Umaiyah yang cenderung diktator, sikap memprioritaskan orang-orang Syiria pada lembaga pemerintahan, dan kehidupan kaum Umawi yang dinilai kurang religius. Lihat: Ibid. h. 256.

[3] Ibid., h. 254-257. Tasauf biasanya dipergunakan untuk menyebut mistik Islam. Penulis Barat biasanya menyebut mysticisme Islam dengan istilah sufisme. Lihat: Harun Nasution, Falsafat dan Mysticisme dalam Islam, (Cet. VIII; Jakarta: Bulan Bintang, 1992), h. 56.  Mysticism berasal dari kata mistik yang akar katanya berasal dari bahasa Yunani, Myein = menutup mata, yang selanjutnya diartikan secara luas yaitu kesadaran terhadap kenyataan Tunggal.

[4] Dalam klasifikasi konsep maqâmât ini, menurut Amin Abdullah, tampak adanya pengaruh cara berfikir filsafat di dalam mengklasifikasi dan mensistimatisasi ajaran al-Qur’ân yang berkaitan dengan dimensi bathiniyah. Lihat: M. Amin Abdullah, Studi Agama: Normativitas atau Historisitas, (Cet. I; Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996), h. 152-153.

[5]  Harun Nasution, op. cit., h. 62-63.

[6] Margareth Smith, “Rabi’ah The Mystic and Her fellow Saints in Islam” diterjemahkan oleh Jamilah Baraja dengan judul: Rabi’ah: Pergulatan Spritual Perempuan, (Cet. I; Surabaya: Risalah Gusti, 1997), h. 7

[7] Karena kemiskinannya al-Attar, seorang penyair dari Parsi, mengemukakan bahwa pada malam ketika ia dilahirkan di rumahnya tidak ada makanan, tidak ada minyak untuk penerangan bahkan secarik kain untuk membungkusnyapun tidak ada. Oleh karena itu Ibu Rabi’ah mengatakan kepada suaminya agar ke rumah tetangganya untuk meminjam lampu buat penerangan dan kain, akan tetapi suaminya pulang dengan tangan hampa karena tetangga yang didatangi tidak berkenan untuk membuka pintunya. Lihat: Wahid Bakhsh Rabbani, Islamic Sufism, (5th Edition. 1st Publisher; Kuala Lumpur: A. S. Noordeen, 1995), h. 322.

[8] Harun Nasution, et. al., Ensiklopedi Islam di Indonesia, (Jakarta: Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Departemen Agama RI, 1992/1993), h. 973.

[9] Abdul Mun`im Qandil, “Rabi’ah al-Adawiyah ‘Adarau al-Basrah al-Batul” terj. Mohd. Royhan Hasbullah dan Mohd. Sofyan Amrullah, Figur Wanita Sufi: Perjalanan Hidup Rabi’ah Al-Adawiyah dan Cintanya kepada Allah, cet. III, (Surabaya: Pustaka Progressif, 2000) h. 3-4

[10] A. J. Arberry, Sufism terj. Bambang Herawan, Pasang-Surut Aliran Tasawuf, (Bandung: Mizan, Sya`ban 1405/Mei 1985), h.51

[11] Abdul Mun`im Qandil, op. cit., h. 63

[12] Abu Bakr Muhammad al-Kalabazi, Al-Ma’rûf Li Mazhab Ahl al-Tasawwuf, di-tahqîq dan di-ta’lîq oleh Mahmud Amin al-Nawâwî, (Beirut: Dâr al-Kutub al-Ilmiyah, 1993), h. 131

[13] Harun Nasution, Falsafat …, op. cit., h. 70.

[14] Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali (selanjutnya disebut al-Gazali), Ihyâ Ulûm al-Dîn, juz IV, (Beirut: Dâr al-Kutub al-Ilmiyah, 1992), h. 311.

[15] Ibid.

[16] Abu Bakr Muhammad al-Kalabazi, loc. cit.

[17] Margaret Smith, op. cit., h. 107

[18] Abdul Mun`im Qandil, op. cit., h.188

[19] Margaret Smith, op. cit., h.113

[20] Ibid., h.122

[21] Ibid., h. 123

[22] Simuh, Tasawuf dan Perkembangannya dalam Islam, (Jakarta: Rajagrafindo Persada, 1996), h.30

[23] Muhammad Atiyah Khamis, Rabi’ah al-Adawiyah, (Jakarta;Pustaka Firdaus,2000) h.59

[24] Qamar Kailani, Fii at-Tashawwuf al-Islaam, (t.t.: Dar al-Ma`aarif, 1976) h. 89

[25] Abdul Mun`im Qandil, op. cit., h.195

[26] Margaret Smith, op. cit., h.124

[27] Ibid.,


Sumber: https://www.tongkronganislami.net/konsep-mahabbah-al-ilahiyah-rabiah-al-adawiyah/

Subscribe to receive free email updates: