Teks Khutbah Idul Adha Singkat 2016 Idul Adha dan Dinamika Sosial di Tanah Air

Teks Khutbah Idul Adha Singkat 2016 Idul Adha dan Dinamika Sosial di Tanah Air

بسم الله الرحمن الرحيم
السلا م عليكم ورحمة الله وبركاته
الله اكبر3× الله اكبر3× الله اكبر3×. الله اكبر ولله الحمد. الحمد لله الذى هدانا لهدا وماكانا لنهتدى لولا ان هدان الله من يهدى الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادى له. اشهد ان لااله الا الله وحده لا شريك له واشهد ان محمدا عبده ورسوله. اللهم صل وسلم وبارك على نبينا محمد وعلى اله وصحبه اجمعين. اما بعد. فيا عبادلله اوصيكم واياي بتقوى الله وطا عته لعلكم تفلحون. قال سبحانه وتعالى فى كتابه الكريم. اعود بالله من الشيطان الرجيم: ياايها الدين امنوا اتقواالله حق تقا ته ولاتمتن الا وانتم مسلمون.

Allahu Akbar 3 X wa lillahil hamd

Kaum muslimin dan muslimat yang berbahagia

Terpuji Tuhan Maha Perkasa, Maha Kuasa, dan Maha Luar Biasa. Tiada yang kita besarkan sepanjang hari, pagi dan petang, di mesjid dan di kantor, di keramaian kota dan di kesunyian malam, kecuali nama-Mu ‘Allahu Akbar’. Kalimat takbir ini mengingatkan kita kembali bahwa tidak ada yang lebih besar daripada kebesaran Allah.

Kebesaran apapun di dunia ini bukan bandingan akan kebesaran-Nya. Tiada bangsa besar, tiada negara besar, tiada pembesar yang pantas dipersamakan kebesarannya dengan Allah. Kebesaran-Mu ya Allah membuat dunia ini tiada berarti, membuat batu jadi luluh dan besi jadi meleleh. Segala kekuatan dan kekuasaan lumpuh di hadapan-Mu.
http://aang-zaeni.blogspot.com/2016/09/teks-khutbah-idul-adha-singkat-2016.html

Khutbah Idul Adha Singkat

Sejak cahaya fajar 10 Dzulhijjah menyingsing di ufuk timur, umat Islam di seluruh dunia, di seluruh benua dan samudera, di delapan penjuru mata angin, bangkit bersama mengumandangkan ucapan takbir, membahana memecah angkasa sampai ke langit biru.

Bau parfum insan-insan beriman yang datang berlebaran hari ini menebar bau mewangi semekar bunga-bunga di taman, sebagai pertanda umat Islam mengenang kembali suatu peristiwa yang sangat bersejarah yang telah dialami oleh Nabi Ibrahim as. bersama istri (Sitti Hajar) dan anaknya (Ismail).

Sebagaimana tersebut dalam sejarah, bahwa Nabi Ibrahim telah lama merindukan datangnya seorang anak sebagai penerus cerita dan pelanjut sejarah. Bertahun-tahun beliau menanti dengan penuh kesabaran, akhirnya Allah mengaruniakan kepadanya seorang putera bernama Ismail.

Nabi Ibrahim sangat menyayangi puteranya itu, Ismail menjadi buah hati belahan jantung dalam keluarganya. Setelah Ismail memasuki usia remaja, datanglah ujian dari Allah untuk menguji keimanan Nabi Ibrahim. Allah swt. memerintahkan kepada Nabi Ibrahim untuk menyembelih anak yang dicintainya. Setelah Ibrahim yakin akan perintah Allah ini melalui mimpinya yang berkali-kali, maka Ibrahim memanggil putarenya seraya berkata :

يَاَ بُنَيَّ إِنِّى أَرَى فِى المَنَامِ اَنِّي اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى

Artinya : ‘Wahai anakku sesungguhnya aku melihat di dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Bagaimana menurut pendapatmu?’

Ismail anak yang shaleh memberikan jawaban yang meyakinkan kepada ayahnya :

يَا اَبَتِ افْعَلَ مَاتُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي اِنْ شَاءَ اللهُ مِنَ الصَّابِرِيْنَ

Artinya : ‘Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar’. (Q. S. Ash-Shaffat : 102).

Setelah itu Ibrahim bersama dengan anaknya Ismail, berjalan seiring, selangkah dari kota Makkah menuju ke Mina, tetapi sebelum sampai ketempat yang dituju tiba-tiba ditengah jalan Nabi Ibrahim bertemu dengan seseorang yang menanyakan maksudnya, setelah Ibrahim menyampaikan tujuannya untuk menyembelih anaknya, maka orang itu berkata pulang saja, bukankah hal itu mimpi belaka ? Nabi Ibrahim mengetahui bahwa yang datang mengganggu itu adalah iblis syetan laknatullah, menyamai sebagai manusia.

Nabi Ibrahim mengambil batu-batu kerikil melempari syetan itu sehinggga ia lari tunggang langgang disuatu tempat yang dinamai Jumratul Wula seteleh berjalan kurang lebih 400 meter dari tempat yang pertama datang lagi seorang manusia, juga menghalang-halangi dengan mengumukakan beberapa alasan antara lain Iblis berkata :”Apakah engkau tidak memperhatikan betapa cantinya parasnya anakmu, dan betapa gagahnya dan halusya budi pekertinya”

Nabi Ibrahim as., berhasil menundukan godaan syetan itu, lalu mengambil batu-batu kerikil melempari syetan itu sehingga lari jauh yang dinamai Jumratul Ustha Nabi Ibrahm kembali melanjutkan perjalanannya kurang lebih 400 meter dari tempat kedua ia bertemu lagi manusia lain yang juga menghalang-halangi perintah Tuhan.

Kemudia Nabi Ibrahim kembali mengambil batu-batu kerikil melempari syetan itu sehingga lari jauh dan akhirnya dinamai Jumratul Aqabah, dengan adanya peristiwa tersebut didalam pelaksanaan ibadah Haji, disyariatkan pada jamaah Haji untuk melempar 3 Jumarah yaitu, Jumratul Wula, Jumratul Ustha dan Jumratul Aqbah.

Dengan izin dan Ridha Allah keduanya telah tiba dengan selamat yaitu di Jabal Qurban, tempat lokasi penyembelihan, keduanya sudah siap. Nabi Ibrahim telah siap dengan pedangnya yang terhunus ditangan kanannya, sedangkan Ismail juga sudah siap merebahkan dirinya, menggelengkan kepalanya diatas batu besar, membuka lehernya siap untuk disembelih.

Alahu Akbar 3x

Saudara-saudara sekalian, sekedar untuk meringankan penderitaan maka Ismail memintah kepada ayahnya sebelum ia disembelih, ada beberapa hal yang diusulkan oleh Ismail anatara lain : whai ayahku hendaklah ayah menginkat kedua tanganku dan kedua kakiku, ayah, baju yang menutupi badangku agar dibuka saja dan ditutpkan kemukaku, hai ayah segerakanlah memenuhi perintah Allah, namun sebeum ayah menyembelihku, segeralah ayah mengasah pedangnya lebih dahulu, agar lebih tajam supaya tidak terlalu lama aku merasakan sakit akibat yang timbul karena penyembelihan itu. Dan sekiranya ibuku rindu kiranya baju ini dapat dicimunya.

Saudaraku….

Sekarang tibalah saatnya untuk penyembelihan, baru saja Ismail merebahkan dirinya, menggalakan kepalanya diatas sebuah batu besar Nabi Ibrahim as. Sementara mengayungkan pedangnya yang tajam dan mendekatkan keleher anaknya …… sambil membaca Bismillahi wallahu Akbar, tiba-tiba malaikat Jibril as, segera turun kebawah dari puncak Jabal Qurban itu dengan membawa seekor kibasy atau domba yang amat bagus, gemuk sehat yang didatangkan dari Syurga, dan malaikat Jibril berkata “Wahai Ibrahim sembelilah domba ini, sebagai ganti anakmu Ismail itu, makanlah sebahagian daginnya, dan jadikanlah hari ini sebagai hari raya bagimu berdua, dan sedekahkanlah sebahagian daginnya kepada kaum fakir miskin sebagai ibadah Qurban”.

Keduanya pulanglah kerumahnya dengan membaca kalimat takbir Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar disepanjang jalan sampai tiba didepan rumahnya, lalu ketika itu ibu Ismail Sitti Hajar terperanjat setelah mendengar gema takbir yang berkumandang dari jauh, yang semaking lama semaking jelas bahwa suara yang suci itu datang dari lidah yang diucapkan oleh suaminya dan anaknya sendiri.

Setelah nyata kepada Sitti Hajar bahwa anaknya kembali dengan selamat iapun bangkit, kemudian berlari-lari dengan penuh kegembiraan mennyambut kedatangan anaknya dan suaminya itu, Sungguh Sitti Hajar seorang wanita yang taat kepada Suaminya dan Ismail taat kepada kedua orang tuanya.

Allahu Akbar 3 X, wa lillahil hamd.

Saudara-saudara seiman dan sekeyakinan !

Dalam situasi bangsa kita sekarang ini yang sedang menghadapi berbagai permasalahan nasional, membuat peringatan Hari Raya Idul Adha ini menjadi sangat berarti. Banyak pelajaran penting dari peristiwa yang sangat bersejarah ini yang dapat kita terjemahkan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam beberapa waktu terakhir ini, betapa kita semua turut prihatin, terkadang sampai meneteskan air mata, menyaksikan bencana demi bencana, kerusuhan demi kerusuhan yang datang silih berganti menimpa ibu pertiwi. Bencana Banjir yang terjadi dipulau Jawa, kerusuhan yang pernah terjadi di Ambon, diposo dan lain-lain, telah menimbulkan kerugian yang tidak sedikit, kita teringat dengan apa yang telah difirmankan oleh Allah dalam surat Al-Israa ayat 16, yang berbunyi :

وَإِذَا اَرَدْنَا اَنْ نُهْلِكَ قََرْيَةً اَمَرْنَا مُتْرَفِيْهَا فَفَسَقُوْا فِيْهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا القَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيْرًا

Artinya : ‘Apabila Kami (Tuhan) menghendaki untuk menghancurkan suatu negeri, Kami berikan kesempatan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu, lalu mereka berbuat fasiq di negeri itu, maka sudah sepatutnyalah berlaku hukuman bagi mereka, maka Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya’.

Dalam suarat Ar-Rum ayat 41, Allah swt. berfirman :

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
Artinya : '‘Telah nampak kerusakan di darat dan di laut, akibat perbuatan manusia, sampai Allah menimpakan kepada mereka, akibat dari apa yang telah mereka lakukan, supaya mereka kembali kepada jalan yang benar’'

Sebagai anak bangsa, kita sangat menyayangkan kalau berbagai kerusuhan yang terjadi di tanah air justru diciptakan oleh orang-orang yang mengatasnamakan kebenaran, demokrasi, dan supremasi hukum. Orang-orang seperti inilah yang dijelaskan oleh Allah dalam surah Al-Baqarah ayat 11, yang berbunyi :

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ

Artinya : ‘Kalau dikatakan kepada mereka janganlah kamu membuat keruskan di muka bumi, mereka menjawab kami adalah orang-orang yang melakukan perbaikan’

Jika kita kaji secara mendalam, maka akan terlihat adanya beberapa faktor yang menyebabkan munculnya berbagai kerusuhan di tanah air. Faktor-faktor tersebut antara lain : sikap arogansi yang ditunjukkan oleh seseorang atau sekelompok orang, adanya usaha untuk mengadu domba sesama bangsa Indonesia, dan distribusi kekayaan yang tidak merata. Ketiga faktor ini bertentangan dengan semangat yang terkandung dalam peringatan Hari Raya Idul Qurban.

Sikap arogansi yang ditunjukkan oleh seseorang atau kelompok tertentu di tanah air, bertentangan dengan sikap yang telah dicontohkan oleh Nabi Ibrahim. Ketika Nabi Ibrahim mendapat perintah dari Allah untuk menyembelih leher anaknya, sudah jelas-jelas merupakan perintah Allah. Tetapi, kenapa Nabi Ibrahim masih mau meminta pendapat anaknya ?

Jawabnya, karena Nabi Ibrahim bukanlah orang yang mementingkan diri sendiri, Ibrahim paham bahwa suatu persoalan bagaimanapun kecilnya, tetapi menyangkut orang lain haruslah dimusyawarahkan sekalipun dengan orang yang berada di bawah kekuasaannya.

Bukankah berbeda dengan sikap sebahagian orang di antara kita yang tidak mau mendengarkan saran dan pendapat orang lain. Kalau mereka diperingati untuk tidak melakukan kerusakan, mereka justru berbalik memberikan jawaban pembelaan dengan mengatasnamakan kebenaran.

Adanya usaha-usaha provokasi untuk mengadu domba sesama bangsa Indonesia dan umat Islam secara internal, bahkan berusaha menjauhkan umat Islam sendiri dari melaksanakan perintah Allah, juga telah dialami oleh Nabi Ibrahim bersama istri dan anaknya sebelum melaksanakan kurban. Berkali-kali iblis datang menggoda Nabi Ibrahim agar membatalkan niatnya melaksanakan perintah Allah.

Iblis juga memprovokasi Siti Hajar dan Ismail agar tidak menuruti keinginan Nabi Ibrahim. Akan tetapi, sejarah telah menunjukkan bahwa ketiga manusia pilihan ini tidak terpengaruh oleh tipu daya iblis dan mereka secara bersama-sama melaksanakan perintah Allah. Dewasa ini, ada suatu indikator sosial yang menunjukkan bahwa ada potensi perpecahan yang cukup besar di antara umat Islam sendiri.

Dalam kondisi yang demikian, hendaknya umat Islam tidak mengedepankan emosi dalam menyikapi setiap permasalahan. Kalau mengedepankan emosi daripada akal, maka umat Islam akan menjadi lahan empuk para provokator sehingga terjadilah perpecahan di kalangan umat Islam sendiri.

Distribusi kekayaaan yang tidak merata bertentangan dengan makna Hari Raya Idul Qurban. Setelah Nabi Ibrahim menyembelih binatang pengganti anaknya, dagingnya dibagi-bagikan kepada fakir miskin. Tindakan ini mengandung makna pemerataan. Pemerataan ini sangat kita butuhkan untuk mengobati ‘luka-luka sosial’ berupa kesenjangan ekonomi yang dapat menjadi faktor pendorong munculnya berbagai bentuk kerusuhan.

Sebenarnya, kekayaan alam ini memang disediakan oleh Allah untuk dinikmati secara bersama. Akan tetapi, ada orang atau sekelompok orang yang mengambil bagian yang terlalu banyak melebihi porsi yang seharusnya sehingga yang lain tidak kebagian jatah. Jangan heran, kalau ada orang sakit perut karena kelaparan, sementara ada orang sakit perut karena kekenyangan.

Allahu Akbar 3X, wa lillahil hamd

Untuk memberantas ketiga faktor di atas, maka ada suatu karakter yang dimiliki oleh Nabi Ibrahim yang patut kita contoh. Karakter tersebut adalah keberanian Nabi Ibrahim melawan kebathilan dan kemauan untuk berkorban dalam menegakkan kebenaran. Nabi Ibrahim rela dibakar hidup-hidup oleh Raja Namrud dalam kobaran api demi menegakkan kebenaran Ilahi.

Nabi Ibrahim rela berpisah dengan ayah kandungnya yang bekerja sebagai pembuat berhala demi mempertahankan nilai-nilai tauhid yang diperjuangkannya. Bahkan, Nabi Ibrahim rela mengorbankan anaknya sendiri demi melaksanakan perintah Allah.

Kaum muslimin dan muslimat yang berbahagia

Dalam usaha menegakkan kebenaran ini, ada suatu fenomena sosial yang cukup memprihatinkan di kalangan umat Islam. Ketika kepentingan Islam diabaikan dan kebenaran Ilahi dinjak-injak, kita diam saja tidak melakukan apa-apa. Sebaliknya, ketika kepentingan kelompoknya tidak tercapai atau bendera organisasinya dikucilkan, mereka berjuang mati-matian atas nama Tuhan.

Kalau umat Islam lebih berpegang teguh kepada anggaran dasar organisasinya daripada kebenaran Islam. Kalau umat Islam lebih berpegang teguh kepada faham kelompok dan jamaahnya daripada petunjuk-petunjuk Alquran. Kalau umat Islam lebih berpegang teguh kepada misi perjuangan partainya daripada ketentuan-ketentuan Ilahi, maka pada saat itu kepentingan Islam secara umum akan terabaikan.

"Kehancuran rakyat disebabkan kehancuran raja-raja (pemerintah), kehancuran
raja-raja disebabkan kehancuran ulamak, kehancuran ulamak disebabkan kecintaan
mereka kepada harta dan kedudukan. Barangsiapa yang dikuasai oleh dunia,
maka tidak akan mampu menghapus kekejian, lalu bagaimana terhadap para pembesar dan raja? Kepada Allah kita memohon pertolongan."

Bukan tidak boleh orang Islam berorganisasi, sebab organisasi merupakan tempat untuk merancang strategi perjuangan Islam. Tidak ada halangan bagi orang Islam untuk membentuk jamaah dan kelompok tertentu, sebab jamaah dan kelompok merupakan wadah untuk melakukan pembinaan bagi komunitas umat Islam.

Tidak ada larangan bagi orang Islam untuk berpartai, sebab partai merupakan alat untuk memperjuangkan aspirasi umat. Yang tidak boleh kita lakukan, jangan sampai dengan organisasi itu, ada orang merasa organisasinyalah yang paling Islam sementara organisasi lain kafir semua. Yang tidak kita harapkan, jangan sampai dengan jamaah dan kelompok yang dibentuk, ada orang mengklaim bahwa kelompoknyalah yang paling berhak masuk syurga kelompok lain masuk neraka.

Yang tidak boleh terjadi, jangan sampai dengan partai yang dipilihnya, ada orang menganggap partainyalah yang paling benar partai lain salah. Kalau fanatisme kelompok semakin menonjol, maka umat Islam akan kehabisan energinya untuk memperdebatkan masalah-masalah yang tidak prinsip. Sebaliknya, mereka lupa membahas agenda-agenda yang lebih besar untuk membangun kejayaan Islam. Untuk itu, Allah swt. berfirman :

واعتصموا بحبل الله جميعا ولاتفرقوا

Artinya : “Berpegang teguhlah kepada tali (agama) Allah dan jangan bercerai berai” (Q. S. Ali Imran : 103).

Keberanian Nabi Ibrahim dalam menegakkan kebenaran dan melawan kebathilan ini hendaknya menjadi pelajaran yang amat berharga bagi umat Islam hari ini. Jauhkanlah ambisi-ambisi pribadi dan kelompok dalam memperjuangkan kebenaran, karena Allah tidak menyukai kepalsuan dan kemunafikan.

Allah tidak akan meridhai suatu perjuangan yang hanya menjadikan agama sebagai alat untuk memperoleh kepentingan duniawi. Dalam menegakkan kebenaran tersebut, diperlukan kebersamaan di kalangan umat Islam sehingga memiliki barisan yang kokoh dalam membumikan ajaran-ajaran Islam. Perbedaaan organisasi, kelompok, dan partai di antara kita, jangan dijadikan sebagai penghalang untuk memperkokoh ukhuwah Islamiyah.

Perlunya menegakkan kebenaran ini, telah dijelaskan oleh Rasulullah saw. melalui sabdanya :

. ليس من قوم يعمل فيهم بمنكر ويفسد فيهم بقبيح فلم يغيروه ولم ينكروه الا حق علي الله ان يعمهم بالعقوبة جميعا ثم لايستجا ب لهم (رواه احمد)

Artinya : '‘Kalau di suatu kaum terdapat kemunkaran dan kejahatan, lalu mereka tidak mencegah kemunkaran itu, mereka tidak melawan kejahatan itu, maka Allah akan mengumumkan adzabnya atas mereka semua; kemudian daripada itu Allah tidak akan mengabulkan do’a mereka’'. (H. R. Ahmad).

Allahu Akbar 3 X, wa lillahil hamd

Kaum muslimin dan muslimat yang berbahagia

Semoga dengan semangat Hari Raya Idul Qurban ini kita mampu mengatasi berbagai ujian dan cobaan. Marilah dengan semangat Idul Qurban kita menyongsong masa depan yang lebih anggun dan manusiawi di bawah pancaran nilai-nilai Islam.

Bagi mereka yang memiliki kemampuan hendaklah mereka berkurban karena Allah. Pada Hari Raya Idul Qurban ini umat Islam diharapkan bukan saja memotong leher binatang, tetapi yang lebih penting adalah memotong (menghilangkan) sifat-sifat kebinatangan.

Allahu Akbar 3 X, wa lillahil hamd

بارك الله فى القران الكريم, ونفعنى واياكم بالايات والدكر الحكيم, انه هو السميع العليم, فا ستغفرالله لى ولكم انه هو الغفورالرحيم

Subscribe to receive free email updates: