Teks Khutbah Jumat Terindah Lengkap dengan Doa Pembuka & Penutupnya Tentang Hati-Hati dengan Waktu


إنَّ الحَمْدَ لله، نَحْمَدُه، ونستعينُه، ونستغفرُهُ، ونعوذُ به مِن شُرُورِ أنفُسِنَا، وَمِنْ سيئاتِ أعْمَالِنا، مَنْ يَهْدِه الله فَلا مُضِلَّ لَهُ، ومن يُضْلِلْ، فَلا هَادِي لَهُ.
أَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه.
اَللَّهُمَّ صَلِّى عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَ هُدًى
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

Islam adalah agama kerja, artinya, sebuah din yang meletakkan kerja sebagai suatu amal yang harus dilakukan oleh seorang yang islam dan beriman. Dalam al-Quran kata-kata ‘aml disebut berulang-ulang, belum lagi dengan pengungkapan lewat kiasan.

Terkadang banyak orang secara sepihak menyimpulkan bahwa Islam tidak bersikap progresif terhadap budaya kerja. Hal itu disebabkan karena didalam Islam ada takdir dan itu wajib diimani. Takdir inilah yang sering difahami secara negatif, karena adanya pemahaman bahwa dalam Islam kerja tidaklah penting, karena kondisi ekonomi, kaya dan miskinnya telah ditentukan oleh Allah. Inilah bias dari teologi jabbariyah yang menganggap bahwa manusia tidak punya faktor/upaya penentu.
https://aang-zaeni.blogspot.com/2016/10/teks-khutbah-jumat-terindah-lengkap.html

Allah menciptakan manusia supaya bekerja dan berusaha menghasilkan sesuatu yang diperlukan bagi kehidupannya, darimana saja yang ada di segenap penjuru dunia, agar ia dapat memperoleh manfaat baginya serta seluruh umat di muka bumi ini. Orang-orang saleh terdahulu dapat mencapai kejayaan yang tinggi serta keluhuran dan keagungan yang belum pernah dicapai oleh generasi sekarang, disebabkan karena ketekunan dan kegigihan mereka. Sementara generasi kita sekarang prestasinya tidak pernah menanjak, masih terlalu jauh dari cita-cita yang dikehendaki. Semua itu tiada lain karena generasi kita malas dan bosan untuk bekerja dan melakukan sesuatu yang bermanfaat, juga rasa pesimis untuk meraih berbagai prestasi.

Ada beberapa hal yang sering manusia lupakan, diantaranya pertanyaan: Kenapa manusia diciptakan? Apa kepentingan dan tugas mereka dalam kehidupan ini? Sering sekali manusia melupakan pertanyaan-pertanyaan ini sehingga mereka hidup dalam penuh kelalaian, hidup hanya dipergunakan untuk bersenang-senang, makan, minum, dan kesenangan-kesenangan lain yang bersifat dunia. Mereka sama sekali tidak memikirkan tentang proses kejadian dirinya yang hina, sehingga ketika ajal menjemputnya penyesalanlah yang menghinggapinya dimana saat itu penyesalan sudah tidak berarti lagi. Nah, dari sinilah perlunya iman yang kuat dalam diri kita supaya kita dapat berhati-hati dengan waktu, pandai-pandailah memanfaatkannya! Ingatlah! Hari-hari kita jangan lewati begitu saja, sesaat demi sesaat, semua berlalu begitu cepatnya. Begitulah. Diri kita berpindah dari pagi ke petang, dan dari petang hingga pagi kembali. Apakah kita pernah bermuhasabah (introspeksi) terhadap diri kita sendiri pada suatu hari? Sehingga kita bisa melihat lembaran-lembaran hari-hari kita, dengan amal apa kita membukanya dan dengan amal apa pula kita menutupnya?

عن ابن عباس رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إغتنم خمسا قبل خمس: شبابك قبل هرمك ، وصحّتك قبل سقامك، وغناك قبل فقرك، وفراغك قبل شغلك، ، وحياتك قبل موتك.

Artinya: “Dari Ibn Abbas ra. Berkata: Rasulullah SAW bersabda: Manfaatkanlah lima kesempatan sebelum datang lima kesempatan yang lain: jagalah mudamu sebelum tuamu, jagalah sehatmu sebelum sakitmu, jagalah kayamu sebelum miskinmu, jagalah sempatmu sebelum sempitmu, dan jagalah hidupmu sebelum matimu. (HR. Hakim. Sanadnya shahih dari Ibnu Abbas)[3].

“Time is money”,“al-waktu ka al-saif”. Waktu adalah uang, waktu adalah pedang, waktu adalah perjalanan yang tidak akan pernah kembali, itulah ungkapan yang sering kita dengar untuk menghargai waktu. Waktu adalah kehidupan. Tidak ada yang lebih berharga dalam kehidupan ini setelah iman selain “waktu”. Waktu adalah benda yang paling berharga dalam kehidupan seorang muslim. Ia tidak dapat ditukar oleh apapun. Ia juga tidak dapat kembali jika sudah pergi. Sungguh sangat merugi orang yang menyia-nyiakan waktunya. Firman Allah: Artinya: 1. Demi masa. 2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, 3. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.(al-‘Ashr: 1-3).

Dalam sebuah sya’ir dikatakan:

ألا ليت شباب يعود يوما فأخبره بما فعل المصيب[4]

Dalam Islam, waktu bukan hanya sekadar lebih berharga dari pada emas. Atau seperti pepatah Inggris yang menyatakan time is money. Lebih dari itu, waktu dalam Islam adalah "kehidupan", al-waqtu huwa al-hayah, demikian kata as-Syahid Hasan Al-Banna[5]. Oleh karena itu, Rasulullah saw memerintahkan umatnya agar memanfaatkan waktu yang tersisa dengan lima hal. Sungguh telah merugi orang-orang yang tidak bisa memanfaatkannya.

Pertama, masa muda. Masa muda adalah masa keemasan seorang manusia. Ia merupakan masa ideal untuk melakukan apa saja: mengukir prestasi dan menggapai cita-cita. Bahkan, masa muda adalah masa yang harus "dipertanggungjawabkan" di hadapan Allah. Hal ini dijelaskan oleh Nabi saw: "Tidak akan tergelincir dua kaki anak Adam pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang empat perkara: tentang usianya untuk apa ia habiskan, masa mudanya untuk apa ia habiskan, hartanya dari mana ia peroleh dan kemana ia belanjakan dan tentang ilmunya apa yang diperbuatkan dengan ilmunya tersebut" (HR. Al-Bazzar dan Al-Thabrani).

Hadirin sidang Jamaah Jumat yang dimuliakan oleh Allah SWT

Dalam Islam, masa muda adalah bagian dari "umur". Ia dianggap sebagai masa yang dinamis, energik, cekatan dan kuat, karena ia merupakan "kekuatan" di antara dua kelemahan: kelemahan anak-anak dan kelemahan masa tua. Hal ini dijelaskan oleh Allah swt dalam firman-Nya: Artinya: "Allah, Dia-lah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban..." (Qs. Ar-Rum [30]: 54).

Oleh karenanya, Islam memiliki perhatian khusus kepada para pemuda. "Suatu ketika, khalifah Umar radhiyallahu 'anhu duduk dengan para sahabatnya. Ia berkata kepada mereka: "Berangan-anganlah kalian!" Salah seorang dari mereka berkata: "Aku berangan-angan, seandainya rumah ini dipenuhi oleh emas untuk aku infakkan di jalan Allah." Umar lalu berkata: "Berangan-anganlah (lagi) kalian!" Salah seorang lagi berkata: "Aku berangan-angan sekiranya rumah ini dipenuhi dengan permata agar aku infakkan di jalan Allah dan bersedekah dengannya." Lalu Umar berkata lagi: "Berangan-anganlah (lagi) kalian!" Mereka lalu berkata: "Kami tidak tahu lagi apa yang harus kami katakan wahai Amirul mukminin?" Umar berkata: "Aku justru berangan-angan agar ada orang-orang seperti Abu 'Ubaidah bin Al-Jarrah, Mu'adz ibn Jabal dan Salim budak Abu Hudzaifah, agar aku dapat meninggikan "kalimat Allah" dengan bantuan mereka."

Bukankah Mu'adz ibn Jabal seorang faqih yang diutus oleh Rasul ke Yaman? Ketika itu usianya masih muda. Begitu juga dengan Salim: ia termasuk salah seorang perawi hadits. Usianya juga masih muda. Dalam sejarah Islam juga dikenal Muhammad Al-Fatih, pembebas kota Konstantinopel. Saat itu usianya tidak lebih dari 22 tahun. Usamah ibn Zaid pergi ke medan perang ketika usianya masih 15 tahun. Padahal ketika usinya 14 tahun semangat jihadnya sudah berapi-api: ia ingin cepat berada di shaf para mujahid Allah. Namun Nabi saw melarangnya, karena masih teramat muda. Ia juga pernah menjadi pemimpin pasukan Rasul, padahal saat itu para sahabat senior seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq ada. Namun Rasul saw mempercayakan kepadanya.

Hadirin sidang Jamaah Jumat yang dimuliakan oleh Allah SWT

Adalah hal yang ironis jika masa muda dihabiskan untuk "berfoya-foya". Apalagi dihabiskan untuk melakukan hal-hal yang tidak produktif. Dan, na'udzubillah, jika sampai melakukan tindak kriminal yang tidak diridhai oleh Allah, seperti mengkonsumsi NAZA (Narkotika dan Zat Adiktif) dan hobi "mencekek leher botol" alias mabuk-mabukan. Ini sama artinya menghancurkan umat. Tidak dapat dibayangkan jika para pemuda justru tidak produktif. Apa yang akan dipersembahkan untuk Islam?

Kedua, masa sehat. Pepatah Arab menyatakan:

الصحة تاجن على رؤوس الأصِح لا ير يها إلا المرضى

Artinya: “Kesehatan adalah mahkota di atas kepala orang yang sehat dan tidak ada yang dapat melihatnya kecuali orang yang sakit”

Itulah kesehatan. Manusia terkadang lupa akan arti dan makna kesehatan, kecuali setelah kesehatan itu hilang darinya. Ketika "sakit" datang menggantikannya, barulah ia sadar bahwa kesehatan itu mahal. Masa sehat sebaiknya digunakan untuk beramal saleh: membantu orang tua, menuntut ilmu, mengamalkan ilmu. Kalau masa sakit sudah tiba, tidak akan pernah sempurna melakukan apapun: ibadah terganggu, pekerjaan terbengkalai, semangat menurun, dan sebagainya. Maka manfaatkanlah ‘masa sehat’ dengan sebaik-baiknya.

Ketiga, masa kaya. Kekayaan adalah "titipan Allah". Maka, ia tidak layak untuk disombongkan dan dibanggakan. Selagi masih ada waktu dan kesempatan, pergunakanlah kekayaan itu untuk berbakti kepada Allah. Karena, jika sudah jatuh miskin, kesempatan untuk beramal saleh pun sirna. Maka, segeralah nafkahkan harta yang ada, sebelum semuanya sia-sia. Utsman ibn Affan adalah contoh ideal dalam berinfak. Ia membeli sumur Maimunah untuk kepentingan kaum Muslimin. Begitu juga dengan Abdurrahman ibn 'Auf. Ia adalah contoh konglomerat yang dermawan: orang kaya tapi takut harta. Lain lagi dengan Abu Bakar Ash-Shiddiq: ia meninggalkan "seonggok batu" untuk keluarganya. Ia menyisakan Allah dan Rasul-Nya untuk keluarganya. Beliau bahkan berlomba dengan Umar ibn Khaththab. Akhirnya ia menang, karena Umar ibn Khaththab menafkahkan setengah dari hartanya, sedangkan ia menafkahkan seluruh hartanya di jalan Allah.

Keempat, masa luang. Waktu luang adalah kesempatan emas untuk mengin-ventarisir kebajikan. Waktu luang ini akan sia-sia jika tidak dikontrol. Ia akan terbuang begitu saja jika tidak langsung dimanfaatkan. Oleh sebab itu makanya Nabi saw mengingatkan: "Ada dua nikmat yang kebanyakan manusia tertipu di dalamnya: kesehatan dan waktu luang (kekosongan)" (HR. Bukhari dari Ibnu Abbas). Waktu luang adalah "kekosongan": kosong dari kegiatan yang positif. Jangan biarkan waktu itu kosong melompong dan berlalu tanpa makna. Bukankah waktu luang bias diisi dengan membaca Alquran, shalat Dhuha, shalat Witir, shalat Tahajjud, dan sebagainya. Janganlah waktu luang itu dikhianati dengan "senda gurau" yang tak bermakna. Karena jumlah waktu itu sama di mana saja, 24 jam. Waktu 24 jam ini seharusnya bisa dibagi, idealnya dibagi tiga, yaitu: sebagian untuk kesehatan (istirahat, olah-raga, bercanda seperlunya), sebagian lagi untuk jasmani (makan dan minum) dan sepertiga terakhir untuk Allah. Imam Ibnu Jarir al-Thabari menurut al-Khathib al-Baghadadi dari al-Samsiy, setiap harinya mampu menulis sekitar empat puluh lembar.

Jangan berleha-leha dalam memburu kebaikan. Imporlah segala jenis kebaikan, lalu eksporlah ia ke akhirat sana. Al-Tu'adatu fi kulli syain khairun illa fi a'mal al-akhirah (Berlaku santai dalam setiap sesuatu itu baik, kecuali dalam amal akhirat), kata Umar ibn Khaththab.

Imam Nawawi ra memberikan nasehat yang sangat berharga: "Hendaklah bagi seorang penuntut ilmu untuk mengumpulkan ilmu di waktu luang dan semangat yang menggebu-gebu, masa muda dan ketika tubuh masih kuat, ketika keinginan masih menggunung dan kesibukan masih sedikit sebelum tiba hal-hal yang tanpa makna".

Kelima, hidup. Kesempatan hidup hanya sekali. Umur begitu singkat. Kita mengira umur itu begitu panjang. Padahal ia hanya terdiri dari tiga helaan nafas: nafas yang lalu, yang sudah kita hempaskan; nafas yang sedang kita hirup dan akan kita hembuskan; dan terakhir nafas yang akan datang. Kita tidak tahu apakah nafas yang akan datang itu nafas kita yang terakhir atau tidak. Nafas-nafas itu begitu cepat berlalu. Maka sangat merugi kalau nafas-nafas itu kita biarkan terhambur tanpa arti. Padahal dalam satu menit kita bisa membaca surat Al-Fatihah dan surat Al-Ikhlas. Kita juga bisa berdzikir: mengucapkan subhanallah, Al-hamdulillah dan Allahu Akbar, dan sebagainya. Kita hidup di dunia laksana seorang musafir. Tidak ada yang berharga bagi seorang musafir selain "bekal". Maka sejatinya, dunia ini adalah "pohon yang rindang", tempat berteduh sang musafir. Jika ia tertipu dengan indahnya pohon tempatnya berteduh, ia tidak akan sampai pada tujuan. Mau tidak mau, kita semua akan menuju kepada pintu kematian. Maka, sebelum pergi ke sana, kita berusaha untuk memanfaatkan hidup ini dengan sebaik-baiknya. Nilai seorang Muslim bukan dinilai dari panjang pendeknya umur yang diberikan oleh Allah. Tapi akan dinilai dari apa yang diperbuatnya untuk Allah, untuk Islam. Umur yang panjang bukan jaminan kebaikan. Bisa jadi umur yang panjang malah semakin membuka pintu-pintu maksiat. Bisa jadi umur yang singkat, jika di-manage dengan baik, malah menjadi sangat bermanfaat.

خير الناس من طال عمره وحسن عمله، وشر الناس من طال عمره وساء عمله

Artinya: “Sebaik-baik manusia adalah yang panjang usianya dan baik amalnya. Dan sejelek-jelek manusia adalah yang umurnya panjang namun jelek amalnya”. (HR. Ahmad dan al-Turmudzi dari Abu Bakrah).

Hadirin sidang Jamaah Jum'at yang dimuliakan oleh Allah SWT

Kematian adalah suatu peristiwa yang mesti terjadi pada semua makhluk hidup sebagai tanda habisnya masa kontrak di dunia. Firman Allah surat al-Imran ayat 185.

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

Artinya: “ setiap makhluk (berjiwa) pasti mengalami mati).”

Dunia ini adalah tempat berbuat dan berbuat, tempat untuk berusaha dan bekerja, tempat untuk melakukan perbuatan baik dan meninggalkan perbuatan jahat. Tempat untuk mencari bekal untuk kehidupan akhirat kelak. Firman Allah: Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah Telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.

Hadirin sidang Jamaah Jumat yang dimuliakan oleh Allah SWT

Pertanyaan Sepanjang Masa

Supaya manusia termotivasi untuk bisa memanfaatkan waktunya dengan sebaiknya, ada tiga pertanyaan mendasar mengenai keberadaan dan tujuan manusia di dunia ini dan pertanyaan itu berlaku sepanjang masa. Tiga pertanyaan tersebut akan membekas dalam hati manusia jika ia menjawabnya dengan penuh perenungan.

Pertanyaan pertama, darimana aku? Adapun untuk pertanyaan ini adalah merupakan simpul akidah, yang menurut kaum materialis mereka tidak mempercayainya, kecuali kalau disana terdapat inderia. Mereka menganggap bahwa dunia dan isinya ini muncul dengan sendirinya. Sedangkan bagi orang yang beriman, pertanyaan ini akan memberi atsar yang kuat baginya. Pertanyaan ini akan mengingatkan dia bahwa dia hanyalah makhluk yang tidak sempurna, makhluk yang hina yang tidak pantas untuk menyombongkan diri, makhluk yang tidak mampu apa-apa kecuali Allahlah yang menghendakinya.

Pertanyaan kedua, untuk apa aku diciptakan? Mengenai pertanyaan kedua ini merupakan pertanyaan yang wajib dijawab oleh setiap orang setelah mengetahui bahwa ia didunia ini hanyalah makhluk bagi Allah dan makhluk yang dipelihara oleh Allah Sang Pemelihara alam ini. Yaitu melalui penjabaran: untuk apa manusia diciptakan? Kenapa manusia diberi keistimewaan yang lebih dibanding makhluk yang lain? Dan apa kepentingan mereka diatas bumi ini? Perlu diketahui, bahwa manusia diciptakan di dunia ini dengan berbagai kelebihannya, bukan hanya sekedar untuk memenuhi hawa nafsu belaka tapi Allah jadikan manusia dimuka bumi ini adalah sebagai khalifah, sebagaimana firman-Nya:

Artinya: “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."

Hal pertama yang harus diketahui manusia sebagai khalifah dimuka bumi adalah mengenal Allah dengan benar dan menyembah-Nya dengan sebenar-benar penyembahan. Karena manusia diciptakan dimuka bumi sebagai khalifah adalah untuk beribadah hanya kepada Allah. Firman Allah:

Artinya: 56. Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. 57. Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan. 58.Sesungguhnya Allah dialah Maha pemberi rezki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.(Q.S. adz-Dzariyat 56-58)

Pertanyaan ketiga, kemanakah tujuanku? Pertanyaan ketiga ini bagi kaum materialis, mereka memberikan suatu jawaban, tetapi hal itu justru menurunkan martabat kemuliaan manusia menempati kedudukan binatang. Mengenai tempat kembali manusia setelah menjalani kehidupan bermasyarakat, dengan sederhana sekali mereka mengatakan: secara mutlak mereka akan hancur dan binasa, mereka dilipat oleh bumi sebagaimana penguburan bermilyar binatang dan makhluk lainnya di dalam perut bumi. Jasad ini akan kembali ke unsur-unsur penciptaannya yang pertama. Jadi mereka akan kembali menjadi debu yang diterbangkan oleh angin. Begitulah cerita kehidupan manusia menurut mereka. Tiada keabadian dan pembalasan, tiada perbedaan antara yang berbuat baik dan yang berlaku jahat. Berbeda dengan orang mukmin, tentu mereka sudah mengerti kemana tujuan mereka pergi. Mereka menyadari bahwa dunia ini hanya sesaat.

Dari tiga pertanyaan diatas, jika seseorang bisa merenungkannya dengan penuh penghayatan, maka ia akan menjadi seorang yang rajin dan bisa memanfaatkan waktunya dengan baik, sehingga tidak akan timbul penyesalan dikemudian hari.

Anjuran Islam untuk Bekerja Allah telah menanggung rizki makhluk-Nya.

Artinya: “ dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah lah yang memberi rizkinya, Dan dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya, semua tertulis dalam kitab yang nyata.” (Q.S. Huud:6)

Akan tetapi, Allah tidak akan mengubah suatu kaum jikalau kaum itu sendiri tidak mau mengubahnya. Frman Allah:

Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sehingga kaum itu mengubah keadaan mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung baginya. (Q.S. ar-Ra’d: 11).

Dari pernyataan itulah, secara implisit Allah menyatakan bahwa setiap manusia harus mencari rizkinya dengan jalan bekerja dan beraktivitas. Islam memberikan apresiasi bagi umatnya yang gigih bekerja. Apresiasi itu ditunjukkan dengan prinsip-prinsip sebagai berikut:

a. Perintah untuk giat bekerja setelah selesai ibadah. Firman Allah: Artinya: “Apabila shalat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.”(Q.S. al-Jumu’ah: 10).

Perintah Allah itu memberikan dua pelajaran penting, diantaranya:

Pertama: setiap selesai ibadah haruslah bekerja untuk mencari apa yang dianugerahkan Allah. Ibadah saja tidak cukup, berdoa meminta rizki tapi tidak berusaha dan bekerja untuk mencarinya adalah suatu sikap yang tidak ada tuntunannnya. Kedua: dalam bekerja haruslah didasari dengan ibadah dan ingat kepada Allah, sehingga banyaknya rizki dan kesibukan tidak menggoyahkan keimanan seseorang dan menjadi seorang yang materialistis.

b. Perintah untuk selalu beraktifitas dan dilarang menganggur. Firman Allah: Artinya: “ Maka apabila kamu telah selesai melakukan (suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.”(Q.S. al-Insyrah: 6-7)

Dalam ayat lain Allah memerintahkan Nabi Muhammad untuk menyuruh kaumnya beraktivitas (bekerja) sesuai dengan keadaannya masing-masing. Firman Allah surat az-Zumar ayat 39: Artinya: “Katakanlah (Muhammad), “Wahai kaumku! Berbuatlah menurut kedudukanmu, akupun berbuat (demikian). Kelak kamu akan mengetahui.”

c. Larangan meminta-minta, dalam sebuah hadits dikatakan bahwa “tangan diatas lebih baik daripada tangan dibawah”. Lebih baik bekerja meskipun pekerjaan itu dipandang oleh orang sebagai pekerjaan kasar dibanding harus meminta-minta dari rumah ke rumah atau di pinggir jalan.

d. Dalam berusaha seorang muslim tidak boleh berputus asa.

Dari uraian diatas, dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa dalam konsep Islam, bekerja merupakan suatu aktivitas yang bukan hanya bersifat duniawi saja, melainkan juga ukhrawi. Artinya, bahwa Islam melibatkan aspek transendental dalam beribadah, sehingga bekerja tidak hanya bisa dilihat sebagai gejala prilaku ekonomi, tetapi juga prilaku ibadah. Keduanya dilakukan sekaligus dalam satu waktu. Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui. Maka manfaatkanlah waktu yang ada, supaya tidak ada penyesalan di kemudian hari.


اللَّهُمَّ صَلِّ وسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ وسَلّمْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، فِي العَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنْ خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ، وَعَنْ أَزْوَاجِهِ أُمَّهَاتِ المُؤْمِنِيْنَ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنْ المُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

Pada Khutbah kedua ini, marilah kita menundukkan kepala untuk seganap berdoa kepada sang Pemberi segala hal, Yang menyediakan waktu untuk manusia, yang memberikan kesemptan kepada kita untuk selalu memperbaiki diri, memperbanyak amal hingga memberi kita rezeki yang melimpah..

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَقَرَابَتِهِ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّاتِهِ أَجْمَعِيْنَ
رَبَّنَا وَٱجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِن ذُرِّيَّتِنَآ أُمَّةً مُّسْلِمَةً لَّكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلتَّوَّابُ ٱلرَّحِيمُ

“Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami) sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah : 128)

رَّبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ ٱلْمَصِيرُ ﴿الممتحنة
رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِّلَّذِينَ كَفَرُوا۟ وَٱغْفِرْ لَنَا رَبَّنَآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْحَكِيمُ

”Ya Tuhan kami hanya kepada Engkaulah kami bertawakal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali. Ya Tuhan kami janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir. Dan ampunilah kami ya Tuhan kami. Sesungguhnya Engkau, Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Mumtahanah :4-5)

ٱللَّهُمَّ رَبَّنَآ أَنزِلْ عَلَيْنَا مَآئِدَةً مِّنَ ٱلسَّمَآءِ تَكُونُ لَنَا عِيدًا لِّأَوَّلِنَا وَءَاخِرِنَا وَءَايَةً مِّنكَ ۖ وَٱرْزُقْنَا وَأَنتَ خَيْرُ ٱلرَّٰزِقِينَ

”Ya Tuhan kami, turunkanlah kiranya kepada kami suatu kehidupan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami yaitu bagi orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau, beri rezeki kami dan Engkaulah Pemberi rezeki yang paling utama.” (QS. AL-Maaidah :114)

رَبَّنَا ظَلَمْنَآ أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ ٱلْخَٰسِرِينَ

”Ya Tuhan kami, kami telah dzalimkan diri kami sendiri, Jika Engkau tidak mengampuni kami dan Engkau rahmatkan kami, tentulah kami menjadi orang yang rugi.” (Al A'raf :

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Subscribe to receive free email updates: