Surat Al-'Alaq Sebagai Sarana Pencerdas Otak

http://aang-zaeni.blogspot.co.id/ Tak terbantahkan, kajian mengenai al-Quran sudah tak terhitung lagi jumlahnya. Secara garis besar kajian al-Quran diklasifikasikan pada tiga kategori: kajian yang bersifat hermeneutis exegesis, estetik dan kultural antropologi. Akan tetapi, kategori ketiga masih tergolong jarang dilakukan oleh peneliti al-Quran pada umumnya. Padahal kajian ini sangat layak dan penting untuk dikaji, sebab ia mencoba menangkap pemaknaan al-Quran melalui resepsi masyarakat terhadapnya yang diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Tulisan ini akan mencoba menggambarkan salah satu aksi masyarakat dalam merespon al-Quran yang telah diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Aksi tersebut berupa “penggunaan ayat pertama sampai ayat kelima dari surat al-‘Alaq untu membantu mencerdaskan otak”. Fenomena ini terjadi di beberapa keluarga yang ada di desa Bulangan kecamatan Dukun Kabupaten Gresik Jawa Timur. Data yang diperoleh adalah hasil dari wawancara penulis kepada beberapa pelaku fenomena dan pencetusnya yang kemudian dianalisis dengan bantuan beberapa kitab yang terkait.

Pelaksanaan Surat Al-'Alaq Sebagai Sarana Pencerdas Otak

Dimulai dari anjuran seorang kyai[1], keluarga Taufiq[2] melakukan suatu amalan memakai beberapa ayat dari surat al-‘Alaq untuk membantu mencerdaskan otak, khususnya anak-anak. Begitu kuat kepercayaan keluarga tersebut terhadap ucapan kyai ini, membuat mereka dengan senang hati melakukan amalan tersebut.

Setiap pagi, sehabis bangun tidur dan sebelum makan, anak-anak dari keluarga ini dibiasakan meminum segelas madu, tidak penuh, dari sebotol madu yang di dalamnya telah dimasukkan sepotong kertas yang bertuliskan:

بسم الله الذى لا يضر مع اسمه شئ فى الارض ولا فى السماء وهو السميع العليم

Sebelum meminum madu tersebut, mereka diwajibkan membaca basmalah dan ayat pertama sampai ayat kelima dari surat al-‘Alaq. Ritual ini lebih dianjurkan lagi ketika anak-anak tersebut akan menjalani ujian sekolah dan semacamnya.

Sebenarnya, setiap orang bisa melakukan amalan, mulai dari penulisan doa dalam sebuah kertas sampai meminum madunya, ini tanpa bantuan dari sang kyai. Akan tetapi, menurut sang kyai, agar amalan ini lebih manjur, akan lebih baik jika si calon pelaku amalan ini sowan dahulu kepada sang kyai. Doa tersebut juga sebaiknya dituliskan oleh sang kyai.
http://aang-zaeni.blogspot.com/2016/10/surat-al-alaq-sebagai-sarana-pencerdas.html

Dasar Amalan Surat Al-'Alaq Sebagai Sarana Pencerdas Otak

Para pelaku amalan mengaku melandaskan amalan ini sepenuhnya kepada ucapan sang kyai. Setelah ditanyakan tentang dasar amalan ini ke sang kyai, ternyata amalan ini memang berlandaskan pada sebuah kitab yang di dalamnya berisi tentang amalan-amalan yang banyak menggunakan ayat-ayat al-Qur’an. Sang kyai mengatakan bahwa kitab tersebut adalah sebuah kitab yang berbau kesufian. Kitab tersebut bernama jadabut.[3]

Beliau memang ahli sufi. Beliau mengatakan bahwa ilmu Tasawuf yang beliau peroleh dari pondok dan kitab tersebut adalah Tasawuf yang berbau kejawen. Bahkan beliau sempat mengatakan bahwa ilmu Tasawuf tersebut adalah ilmunya orang Jawa. Meskipun jika dilihat dari amalan yang sedang diteliti ini, tidak terlihat adanya ciri-ciri yang berbau kejawen, seperti misalnya bacaan-bacaan yang berbahasa jawa dan sebagainya.

Dari kitab tersebut juga diperoleh alasan-alasan mengapa amalan ini dilakukan di pagi hari, setelah bangun dari tidur dan sebelum makan, mengapa memakai doa بسم الله الذى لا يضر مع اسمه شئ فى الارض ولا فى السماء وهو السميع العليم dan mengapa harus melafalkan ayat pertama sampai ayat kelima dari surah al-‘Alaq sebelum meminum madu tersebut. Alasan kenapa harus pagi hari, menurut sang kyai yang berdasarkan kitab jadabut, adalah bahwa pagi hari merupakan awal dari semua kegiatan manusia. Amalan ini berguna untuk membantu memfungsikan dengan lebih baik seluruh organ tubuh, baik badan maupun jiwanya. Sehingga dalam mengerjakan segala sesuatu tidak terkendala oleh apapun, khususnya yang berasal dari diri pelaku.

Selanjutnya, alasan mengapa menggunakan doa tersebut adalah agar bisa lebih meyakinkan si pelaku amalan bahwa segala yang ada adalah atas kehendak Allah, Sang Pencipta Yang Maha Esa. Maka jika manusia (baca: si pelaku amalan) menghendaki sesuatu harus selalu dengan menyebut nama-Nya. Do’a yang ada di dalam madu tersebut seolah-olah juga sebagai penakluk madu tersebut. seolah-olah teks doa tersebut berkata kepada madu tersebut: “Atas nama Allah Swt., kamu akan mampu membantu mencerdaskan peminummu!”.

Alasan lainnya yang bisa menguatkan dipakainya do’a tersebut, menurut penulis, adalah hadis Rasulullah yang berbunyi:

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ حَدَّثَنَا أَبُو مَوْدُودٍ عَمَّنْ سَمِعَ أَبَانَ بْنَ عُثْمَانَ يَقُولُ سَمِعْتُ عُثْمَانَ يَعْنِي ابْنَ عَفَّانَ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ قَالَ بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ لَمْ تُصِبْهُ فَجْأَةُ بَلَاءٍ حَتَّى يُصْبِحَ وَمَنْ قَالَهَا حِينَ يُصْبِحُ ثَلَاثُ مَرَّاتٍ لَمْ تُصِبْهُ فَجْأَةُ بَلَاءٍ حَتَّى يُمْسِيَ[4]

Terakhir, mengenai alasan mengapa harus membaca ayat pertama sampai kelima surat al-‘Alaq. Sang kyai, masih berdasarkan kitab tersebut, mengatakan bahwa ayat ini dipakai sebab kelima ayat tersebut adalah ayat yang pertama kali ditunkan oleh Allah Swt. kepada Nabi Muhammad Saw.. Ayat-ayat ini merupakan ayat-ayat pembuka pintu ilmu ajaran Tuhan, Islam.

Motivasi Pelaksanaan Surat Al-'Alaq Sebagai Sarana Pencerdas Otak

Pelaksanaan amalan ini sebenarnya bisa dilakukan dengan niatan dan keinginan lainnya, seperti untuk menyembuhkan suatu penyakit: kanker, maag, dan lain-lain. Meskipun jika tujuan amalan ini berbeda, ayat al-Qur’an yang dibaca juga berbeda. Hal ini disesuaikan dengan tujuan dari pelaksanaan amalan tersebut.

Tujuan utama pelaksanaan amalan yang sedang diteliti ini adalah untuk membantu mencerdaskan otak si pelaku amalan. Namun, menurut sang kyai, agar tujuan amalan ini bisa lebih cepat tercapainya, si pelaku harus mempunyai keyakinan yang kuat. Si pelaku juga dianjurkan sering-sering membaca kelima ayat pertama surat al-‘Alaq kapan pun dan dimana pun.

                                  Analisis Surat Al-'Alaq Sebagai Sarana Pencerdas Otak

Seputar Madu

Madu, adalah cairan yang dihasilkan oleh pengolahan makanan dari seekor lebah dalam perutnya. Madu tersusun atas beberapa molekul gula seperti glukosa dan fruktosa serta sejumlah mineral seperti magnesium, kalium, potasium, sodium, klorin, sulfur, besi dan fosfat. Madu juga mengandung vitamin B1, B2, C, B6 dan B3 yang komposisinya berubah-ubah sesuai dengan kualitas madu bunga dan serbuk sari yang dikonsumsi lebah. Di samping itu di dalam madu terdapat pula tembaga, yodium dan seng dalam jumlah yang kecil, juga beberapa jenis hormon.

Karena molekul gula pada madu dapat berubah menjadi gula lain (misalnya fruktosa menjadi glukosa), madu mudah dicerna oleh perut yang paling sensitif sekalipun, walau memiliki kandungan asam yang tinggi. Madu membantu ginjal dan usus untuk berfungsi lebih baik. Rendah kalori, jika dibandingkan dengan jumlah gula yang sama, kandungan kalori madu 40% lebih rendah. Walau memberi energi yang besar, madu tidak menambah berat badan. Berdifusi lebih cepat melalui darah, jika dicampur dengan air hangat, madu dapat berdifusi ke dalam darah dalam waktu tujuh menit. Molekul gula bebasnya membuat otak berfungsi lebih baik karena otak merupakan pengonsumsi gula terbesar.

Membantu pembentukan darah, madu menyediakan banyak energi yang dibutuhkan tubuh untuk pembentukan darah. Lebih jauh lagi, ia membantu pembersihan darah. Madu berpengaruh positif dalam mengatur dan membantu peredaran darah. Madu juga berfungsi sebagai pelindung terhadap masalah pembuluh kapiler dan arteriosklerosis.

Membunuh bakteri, sifat madu yang membunuh bakteri disebut "efek inhibisi". Penelitian tentang madu menunjukkan bahwa sifat ini meningkat dua kali lipat bila diencerkan dengan air. Sungguh menarik bahwa lebah yang baru lahir dalam koloni diberi makan madu encer oleh lebah-lebah yang bertanggung jawab merawat mereka-seolah mereka tahu kemampuan madu ini.[5]

Al-Qur’an dan Hadis, dua sumber utama ajaran Islam, juga mencatat tentang keutamaan madu. Beberapa firman Allah yang menyinggung akan madu antara lain:

وَظَلَّلْنَا عَلَيْكُمُ الْغَمَامَ وَأَنْزَلْنَا عَلَيْكُمُ الْمَنَّ وَالسَّلْوَى كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَمَا ظَلَمُونَا وَلَكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ (57)

“Dan kami naungi kamu dengan awan, dan kami turunkan kepadamu "manna" dan "salwa". makanlah dari makanan yang baik-baik yang Telah kami berikan kepadamu; dan tidaklah mereka menganiaya Kami; akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (QS. Al-Baqarah: 57)

Manna oleh beberapa ulama’ memang diartikan dengan madu.[6] Sedangkan salwa berarti burung sebangsa puyuh (السماني).[7] Ayat lain yang menyinggung tentang keutamaan madu adalah:

مَثَلُ الْجَنَّةِ الَّتِي وُعِدَ الْمُتَّقُونَ فِيهَا أَنْهَارٌ مِنْ مَاءٍ غَيْرِ آَسِنٍ وَأَنْهَارٌ مِنْ لَبَنٍ لَمْ يَتَغَيَّرْ طَعْمُهُ وَأَنْهَارٌ مِنْ خَمْرٍ لَذَّةٍ لِلشَّارِبِينَ وَأَنْهَارٌ مِنْ عَسَلٍ مُصَفًّى وَلَهُمْ فِيهَا مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ وَمَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ كَمَنْ هُوَ خَالِدٌ فِي النَّارِ وَسُقُوا مَاءً حَمِيمًا فَقَطَّعَ أَمْعَاءَهُمْ (15)

“(apakah) perumpamaan (penghuni) jannah yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada beubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari khamar yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring; dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Rabb mereka, sama dengan orang yang kekal dalam Jahannam dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong ususnya?” (QS. Muhammad: 15)

وَأَوْحَى رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ أَنِ اتَّخِذِي مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا وَمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ (68) ثُمَّ كُلِي مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ فَاسْلُكِي سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلًا يَخْرُجُ مِنْ بُطُونِهَا شَرَابٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِلنَّاسِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَةً لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ (69)

“Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: "Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia". Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang Telah dimudahkan (bagimu). dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan.” (QS. Al-Nahl: 68-69)

Sedangkan hadis-hadis yang menyinggung mengenai madu antara lain:

حَدَّثَنِي الْحُسَيْنُ حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مَنِيعٍ حَدَّثَنَا مَرْوَانُ بْنُ شُجَاعٍ حَدَّثَنَا سَالِمٌ الْأَفْطَسُ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ الشِّفَاءُ فِي ثَلَاثَةٍ شَرْبَةِ عَسَلٍ وَشَرْطَةِ مِحْجَمٍ وَكَيَّةِ نَارٍ وَأَنْهَى أُمَّتِي عَنْ الْكَيِّ[8]

حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ الْغَسِيلِ عَنْ عَاصِمِ بْنِ عُمَرَ بْنِ قَتَادَةَ قَالَ سَمِعْتُ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنْ كَانَ فِي شَيْءٍ مِنْ أَدْوِيَتِكُمْ أَوْ يَكُونُ فِي شَيْءٍ مِنْ أَدْوِيَتِكُمْ خَيْرٌ فَفِي شَرْطَةِ مِحْجَمٍ أَوْ شَرْبَةِ عَسَلٍ أَوْ لَذْعَةٍ بِنَارٍ تُوَافِقُ الدَّاءَ وَمَا أُحِبُّ أَنْ أَكْتَوِيَ[9]

Jika dilihat dari sumber pengambilan dasar, amalan ini memang didasarkan pada sebuah buku. Akan tetapi, sejauh penelusuran penulis, tidak ada dalil baik dari al-Qur’an maupun al-Hadis yang menjelaskan dan menganjurkan secara konkrit akan amalan ini. Meski demikian, tidak ditemukan juga adanya dalil yang mengisyaratkan larangan melaksanakan amalan seperti amalan ini.

Dari wawancara terhadap beberapa pelaku, amalan ini mempunyai dampak positif. Selain adanya khasiat madu untuk kesehatan tubuh mereka, mereka juga meyakini adanya pengaruh positif dari pembacaan kelima ayat surat al-‘Alaq tersebut, misalnya: bahwa mayoritas pelaku amalan ini mengaku jika sebelum mengerjakan soal-soal dalam ujian mereka melakukan amalan ini, mereka merasa ujian mereka menjadi mudah.

Pemaknaan Ayat Surat Al-Alaq Sebagai Sarana Pencerdas Otak

Menafsiri ayat al-Qur’an dengan melalui fenomena yang terjadi dalam kehidupan masyarakat tentu sangat berbeda dengan penafsiran ayat al-Qur’an yang berbasis pada teksnya. Terkadang, hasil penafsiran yang diperoleh dengan memakai alat budaya atau fenomena yang ada, bisa berbeda dengan teksnya, bahkan bisa jadi penafsiran tersebut tidak berhubungan sama sekali dengan teksnya.

Ayat pertama sampai ayat kelima dari surat al-‘Alaq ini dimaknai oleh pelaku fenomena ini sebagai ayat yang bisa membantu proses pencerdasan otak. Meskipun pada kenyataannya, menurut pelaku fenomena tersebut, ayat-ayat ini tidak bisa independent sebagai pencerdas otak. Ia harus dibantu oleh madu dan doa yang tertulis di kertas yang dimasukkan ke dalam botol madu sebagai perantara merasuknya khasiat ayat-ayat tersebut.

Kesimpulan

Dari semua analisis yang telah dilakukan oleh penulis, amalan ini sah, bahkan menurut penulis baik jika dilaksanakan khususnya oleh anak-anak. Sebab dari segi pemakaian madu sampai penggunaan teks do’a dan pembacaan ayat tidak ditemukan adanya dampak negatif yang ditimbulkan. Malah sebaliknya, madu yang diminum menimbulkan efek positif dari aspek kesehatan si pemakai, meskipun belum ditemukan adanya penelitian secara ilmiyah mengenai khasiat madu yang telah dicampur dengan kertas yang bertuliskan do’a tersebut.

Demikian laporan penelitian amalan pembacaan ayat pertama sampai kelima surat al-‘Alaq untuk membantu mencerdaskan otak. Tulisan ini tentu tidak terlepas dari kesalahan dan kekurangan. Maka, saran dan kritik sangat dibutuhkan oleh penulis. Terimakasih.

Daftar Pustaka

Bukhari. Shahih al-Bukhari, dalam CD Rom Al-Mausu’ah al-Hadis Al-Syarif Global Islamic Software 1991-1997.

----------. Shahih al-Bukhari, dalam CD Rom al-Maktabah al-Syamilah, Versi Edisi 2. 11.

Thabari. Tafsir Al-Thabari, dalam CD Rom al-Maktabah al-Syamilah, Versi Edisi 2. 11.

Zamakhsyari. Al-Kasysyaf, dalam CD Rom al-Maktabah al-Syamilah, Versi Edisi 2. 11.

Catatan Kaki

[1] Kyai tersebut bernama Suyatno. Beliau tinggal di desa Sukolelo Lamongan Jawa timur. Beliau mengaku memperoleh ilmunya dari hasil belajarnya di sebuah pondok yang terletak di daerah Jombang. Sayangnya, beliau tidak menyebutkan nama dari pondok tersebut.

[2] Seorang warga desa Bulangan Dukun Gresik.

[3] Sebenarnya penulis kurang yakin akan nama kitab ini. Hal ini disebabkan oleh wawancara yang dilakukan adalah dengan hanya menggunakan telephone. Patut disayangkan juga, penulis tidak bisa, paling tidak, melihat wujud nyata kitab terseut. Sang kyai bahkan menyatakan bahwa kitab tersebut belum bisa dibaca oleh orang yang tingkat kesufiannya masih rendah.

[4] Bukhari, Shahih al-Bukhari, Kitab al-Ath’imah, No. 5248, dalam CD Rom Al-Mausu’ah al-Hadis Al-Syarif Global Islamic Software 1991-1997. Juga dalam Bukhari, Shahih Bukhari, no. 5248, juz 17, hal 437, dalam DVD Rom Maktabah asy-Syamilah, Versi Edisi 2. 11.

[6] Ibn Wahab, Ibn Zaid, Yunus bin Abdi al-A’la, Ahmad bin Ishaq dan lain-lain berpendapat seperti ini. Meskipun banyak juga yang berpendapat bahwa manna adalah makanan atau minuman manis seperti manisnya madu. Lihat: Thabari, Tafsir Ath-Thabari, juz 2, hal 92, dalam DVD Rom Maktabah asy-Syamilah, Versi Edisi 2. 11.

[7] Lihat: Az-Zamakhsyari, Tafsir Al-Kasysyaf, juz 1, hal 93, dalam DVD Rom Maktabah asy-Syamilah, Versi Edisi 2. 11.

[8] Bukhari, Shahih al-Bukhari, Kitab al-Ath’imah, No. 5248, dalam CD Rom Al-Mausu’ah al-Hadis Al-Syarif Global Islamic Software 1991-1997. Juga dalam Bukhari, Shahih Bukhari, no. 5248, juz 17, hal 437, dalam DVD Rom Maktabah asy-Syamilah, Versi Edisi 2. 11.

[9] Bukhari, Shahih al-Bukhari, Kitab al-Ath’imah, No. 5251, dalam CD Rom Al-Mausu’ah al-Hadis Al-Syarif Global Islamic Software 1991-1997. Juga dalam Bukhari, Shahih Bukhari, no. 5251, juz 17, hal 441, dalam DVD Rom Maktabah asy-Syamilah, Versi Edisi 2. 11.

Subscribe to receive free email updates: