Tata Cara Pelaksanaan Khutbah Jumat yang Benar Sesuai Sunnah

Khutbah adalah salah satu sendi pokok Dakwah Islam. Sejak awal kelahiran islam, khutbah sudah menjadi santapan rohani yang paling banyak diminati dan dinikmati oleh kaum Muslimin. Bahkan, Rasulullah sendiri menjadi khutbah sebagai sarana utama dakwah beliau. Saya sudah pernah mempublish tata cara khutbah jumat, tapi yang versi latinnya. Maksudnya tidak menampilkan tulisan arab melainkan bacaan dalam huruf latin. Berikut ini adalah Tata Cara Pelaksanaan Khutbah Jumat yang Benar Sesuai Sunnah:

1). Khatib naik ke atas mimbar setelah tergelincirnya matahari (waktu dzuhur), kemudian memberi salam dan duduk.

2). Muadzin mengumandangkan adzan sebagaimana halnya adzan dzuhur.

3). Khutbah pertama: Khatib berdiri untuk melaksanakan khutbah yang dimulai dengan hamdalah dan pujian kepada Allah SWT serta membaca shalawat kepada Rasulullah SAW. Kemudian memberikan nasehat kepada para jama’ah, mengingatkan mereka dengan suara yang lantang, menyampaikan perintah dan larangan Allah SWT dan RasulNya, mendorong mereka untuk berbuat kebajikan serta menakut-nakuti mereka dari berbuat keburukan, dan mengingatkan mereka dengan janji-janji kebaikan serta ancaman-ancaman Allah Subhannahu wa Ta’ala. Kemudian duduk sebentar

4). Khutbah kedua: Khatib memulai khutbahnya yang kedua dengan hamdalah dan pujian kepadaNya. Kemudian melanjutkan khutbahnya dengan pelaksanaan yang sama dengan khutbah pertama sampai selesai.

5). Khatib kemudian turun dari mimbar. Selanjutnya muadzin melaksanakan iqamat untuk melaksanakan shalat. Kemudian memimpin shalat berjama’ah dua rakaat dengan mengeraskan bacaan.
https://aang-zaeni.blogspot.com/2018/03/tata-cara-pelaksanaan-khutbah-jumat.html

Adapun rukun khutbah Jumat paling tidak ada lima (5) perkara.
  • 1). Rukun Pertama: Hamdalah
Khutbah jumat itu wajib dimulai dengan hamdalah. Yaitu lafaz yang memuji Allah SWT. Misalnya lafaz alhamdulillah, atau innalhamda lillah, atau ahmadullah. Pendeknya, minimal ada kata alhamd dan lafaz Allah, baik di khutbah pertama atau khutbah kedua. Contoh bacaan:

إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا و مِنْ َسَيّئَاتِ
أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ

Innal hamdalillahi nahmaduhu wa nasta’iinuhu wa nastaghfiruhu wa na’uudzubillaahi min syuruuri anfusinaa wa min sayyiaati a’maalinaa mayyahdihillaahu falaa mudhillalahu wa mayyudhlilfalaa haadiyalahu
  • 2). Rukun Kedua: Shalawat kepada Nabi SAW
Shalawat kepada nabi Muhammad SAW harus dilafadzkan dengan jelas, paling tidak ada kata shalawat. Misalnya ushalli ‘ala Muhammad, atau as-shalatu ‘ala Muhammad, atau ana mushallai ala Muhammad. Contoh bacaan: Allahumma sholli wa sallam ‘alaa muhammadin wa ‘alaa alihii wa ash haabihi wa man tabi’ahum bi ihsaani ilaa yaumiddiin.
  • 3). Rukun Ketiga: Washiyat untuk Taqwa
Yang dimaksud dengan washiyat ini adalah perintah atau ajakan atau anjuran untuk bertakwa atau takut kepada Allah SWT. Dan menurut Az-Zayadi, washiyat ini adalah perintah untuk mengerjakan perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Sedangkan menurut Ibnu Hajar, cukup dengan ajakan untuk mengerjakan perintah Allah. Sedangkan menurut Ar-Ramli, washiyat itu harus berbentuk seruan kepada ketaatan kepada Allah.Lafadznya sendiri bisa lebih bebas. Misalnya dalam bentuk kalimat: “takutlah kalian kepada Allah”. Atau kalimat: “marilah kita bertaqwa dan menjadi hamba yang taat”.
Contoh bacaan:

يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

yaa ayyuhalladziina aamanuu ittaqullaaha haqqa tuqaatihi wa laa tamuutunna ilaa wa antum muslimuun
Ketiga rukun di atas harus terdapat dalam kedua khutbah Jumat itu.
  • 4). Rukun Keempat: Membaca ayat Al-Quran pada salah satunya
Minimal satu kalimat dari ayat Al-Quran yang mengandung makna lengkap. Bukan sekedar potongan yang belum lengkap pengertiannya. Maka tidak dikatakan sebagai pembacaan Al-Quran bila sekedar mengucapkan lafadz: “tsumma nazhar”.

Tentang tema ayatnya bebas saja, tidak ada ketentuan harus ayat tentang perintah atau larangan atau hukum. Boleh juga ayat Quran tentang kisah umat terdahulu dan lainnya. Contoh bacaan:

فَاسْتبَقُِوا اْلخَيْرَاتِ أَيْنَ مَا تَكُونوُا يَأْتِ بِكُمُ اللهُ جَمِيعًا إِنَّ اللهَ عَلىَ كُلِّ شَئٍ قَدِيرٌ

Fastabiqul khairooti ayna maa takuunuu ya’ tinikumullahu jamii’an innallaaha ‘alaa kulli syaiin qodiiru (QS. Al-Baqarah, 2 : 148)

أَمّا بَعْدُ

Selanjutnya berwasiat untuk diri sendiri dan jamaah agar selalu dan meningkatkan taqwa kepada Allah SWT, lalu mulai berkhutbah sesuai topiknya. Memanggil jamaah bisa dengan panggilan ayyuhal muslimun, atau ma’asyiral muslimin rahimakumullah, atau “sidang jum’at yang dirahmati Allah”.

Karakter Kemuliaan Seorang Muslim
……. isi khutbah pertama ………
Jamaah sidang jum’at yang dirahmati Allah..
.
Segala puji atas limpahan karunia Allah yang tak pernah habis-habisnya kita rasakan dan nikmati, sebagai ungkapan kesyukuran kita, marilah kita perbaiki hubungan kita dengan Allah SWT dengan meningkatkan kualitas iman dan taqwa kepada Allah, menjadikan setiap gerak dan langkah kita mencari keridhoan Allah semata.

Sholawat serta salam kita hadiahkan kepada baginda Rasulullah SAW, teladan umat semesta, panutan dalam merealisasikan ketaqwaan dalam kehidupan nyata dalam bermasyarakat dan bernegara.

Kaum muslimin rahimakumullah

Dalam kehidupan sehari-hari yang kita jalani, berbagai macam cara yang ditempuh oleh manusia untuk mencari sesuatu yang dapat melegakan jiwanya, mencari kemuliaan di tengah-tengah manusia. Berbagai cara dilakukan, baik dengan cara yang terhormat ataupun bukan, yang sesuai dengan tununan syari’at ataupun bukan. Bahkan kadang tak memperdulikan nilai-nilai norma dalam agama dan masyarakat. Ketika kebutuhan jiwa terpenuhi, perasaan bahagiapun tersegarkan, kemudian merasa bangga dan mulia, namun kadang kala kebanyakan orang melupakan hakikat dan karakteristik kemuliaan yang sebenarnya yang Allah SWT gambarkan di dalam Al-Quran.

Diantara begitu banyak nilai kemuliaan yang disampaikan di dalam Al-Quran, ada beberapa karakter yang akan khatib sampaikan pada kesempatan khutbah jum’at kali ini. Karakteristik pertama yang diungkapkan Al-Qur’an adalah : orang-orang yang mulia yaitu mereka yang berjalan dimuka bumi dengan rendah hati, tak dibuat-buat, tak pamer, tak sombong, tidak pula memalingkan pipi ketika bertemu. Karena berjalannya manusia sebagaimana halnya seluruh gerakan, adalah ungkapan dari kepribadian dan perasaan-perasaan yang ada dalam dirinya, sehingga jiwa yang tenang, lurus, mulia, serius, dan mempunyai tujuan, akan menampilkan sifat-sifat ini dalam cara berjalan orang tersebut. Al-Qur’an menggambarkan: “yaitu orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati” (Al-Furqon :63)

Maksud ayat ini sebagaimana penjelasan Ustadz Sayid Qutb :”Bukankah makna kalimat ini adalah bahwa mereka berjalan dengan gontai, kepala tertunduk, lemah dan lesuh, seperti dipahami sebagian orang yang ingin menampilkan ketakwaan dan kesholihan. Rasulullah sendiri jika berjalan maka Beliau berjalan dengan tegap,Beliau adalah orang yang paling cepat berjalan, paling baik jalannya, dan paling tenang.”

Abu Hurairoh berkata: “ saya tak melihat sesuatu yang lebih indah dari Rasulullah, seakan-akan matahari berjalan diwajah Beliau. Saya tak melihat orang yang lebih cepat jalannya dari Rasulullah., seaka-akan bumi tertekuk bagi Beliau, sehingga ketika kami berusaha mengejar ritme berjalan Beliau, kami melakukannya dengan cukup sulit, padahal Beliau berjalan dengan tenang tanpa kesulitan.”

Kaum muslimin jamaah shalat jum’at yang dimuliakan Allah SWT

Karakteristik kemuliaan yang kedua bagi orang beriman adalah: mereka adalah orang-orang yang tersibukkanmalam-malam mereka dengan sujud kepada Zat yang maha mulia. Mereka berjaga ditengah malam ketika manusia tidur, mereka bersujud dan berdiri mengerahkan hati mereka ke Arsy Ar-Rahman yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan. Allah SWT berfirman: “Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ketempat yang mulia” (Al-Isra ;79). Orang-orang yang mulia tak pernah mengharapkan dari manusia, karena sumber kemuliaan adalah dari Allah semata.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

karakteristik yang ketiga adalah: Kesederhanaan dan keseimbangan dalam kehidupan mereka. Hal ini diungkapkan oleh Al-Qur’an sebagaimana firman Allah: “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (Harta) mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” (Al-Furqon:67).

Ini adalah sifat Islam yang diwujudkan dalam kehidupan pribadi dan masyarkat juga menjadi arah pendidikan dan hukum islam yang dibangun atas dasar keseimbangan dan keadilan. Seorang muslim tidaklah bebas mutlak dalam menginfakkan dan membelanjakan harta pribadinya sekehendak hatinya seperti yang terdapat dalam sistem kapitalis dan pada bangsa-bangsa yang hidupnya diatur oleh hukum ilahi dalam semua bidang. namun penggunaan uang itu terikat dengan aturan menyeimbangkan antara dua perkara yaitu, antar sikap berlebihan dalam menginfakkan dan terlalu menahan. Karena sikap berlebihan atau terlalu menahan harta menghasilkan ketidak seimbangan di tengah masyarakat dan bidang ekonomi, menahan harta menimbulkan masalah-masalah demikian juga melepaskannya tanpa kendali. Padahal harta itu adalah alat soisal untuk mewujudkan kepentingan-kepentingan sosial.

Sementara Islam mengatur segi kehidupan ini dengan memulainya dari jiwa individu, sehingga meniadakan keseimbangan itu sebagai satu karakter dari karakter-karakter keimanan, Allah SWT berfirman : “ ... dan adalah ( pembellanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian)” (Al-Furqon:67)

Jama’ah yang dirahmati Allah SWT

Karakter yang keempat adalah: Orang-orang yang mulia senantiasa menjaga kemurnian tauhid di dalam dadanya. Menjaga kehormatan orang lain dan menjaga dirinya dari perbuatan dosa-dosa besar. Hhal ini degambarkan oleh Allah dalam firmannya: “ dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah dan tiidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah( membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar. Dan tidak berzina. Barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan dosan(nya).” (Al-Furqon:68)

Mentauhidkan Allah adalah pondasi akidah islamiyah menghindarkan diri dari menganiaya orang lain, membunuh manusia tanpa hak adlah persimpangan jalan antara kehidupan sosial yang tenang yang padanya kehidupan manusia dihormati dan dihargai dengan kehidupan hutan yang padanya seorang tak merasa aman terhadap nyawanya. Adapun mencegah diri dari perbuatan zina merupakan persimpangan ialah antara kehidupan yang bersih yang padanya manusia merasakan peningkatan dirinya dari perasaan hewani yang hitam pekat.

Karena ketiga Sifat ini menjadi persimpangan jalan antara kehidupan yang pantas bagi manusia yang mulia di mata Allah dengan kehidupan yang murah dan rendah hingga  ke tingkatan hewan,. Maka Allah menyebutnya dalam karakter-karakter para hamba Allah. Mereka adalah makhluk yang paling mulia disisi Allah.

Setelah di itu menutup khutbah pertama dengan do’a untuk seluruh kaum muslimin dan muslimat. Contoh bacaannya: barakallahu lii wa lakum fill quraanil azhiim wa nafa’nii wa iyyaakum bima fiihi minal aayaati wa dzikril hakiim. Aquulu qowlii hadzaa wa astaghfirullaaha lii wa lakum wa lisaa iril muslimiina min kulli danbin fastaghfiruuhu innahu huwal ghafuurur rahiimu.

Lalu duduk sebentar untuk memberi kesempatan jamaah jum’at untuk beristighfar dan membaca shalawat secara perlahan.Setelah itu, khatib kembali naik mimbar untuk memulai khutbah kedua. Dilakukan dengan diawali dengan bacaaan hamdallah dan diikuti dengan shalawat. Contoh bacaan:

إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَلِيُّ الصَّالِحِينَ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا خَاتَمُ الأَنْْْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.,

Innal hamdalillahi robbal’aalamiin wa asyhadu an laa ilaaha illahllaahu wa liyyash shalihiina wa asyhadu anna muhammadan khaatamul anbiyaai wal mursaliina allahumma shalli ‘alaa muhammadan wa ‘alaa aali muhammadin kamaa shollayta ‘alaa ibroohiima wa ‘alaa alii ibroohiim, innaka hamiidum majiid.Wa barok ‘alaa muhammadin wa ‘alaa aali muhammadin kamaa baarokta ‘alaa ibroohiima wa ‘alaa alii ibroohiim, innaka hamiidum majiid. Ammaa ba’adu..

Selanjutnya di isi dengan khutbah baik berupa ringkasan, maupun hal-hal terkait dengan tema/isi khutbah pada khutbah pertama yang berupa washiyat taqwa.
……. isi khutbah kedua ………
ayyuhal muslimun

Diantara karakter kemuliaan yang digambarkan Al-Qur’an terhadap hamba beriman adalah : Mereka tidak memberi kesaksian palsu maupun ucapan dusta dan tidak menyibukkan diri dengan hal-hal yang tidak berfaedah. Karena orang yang beriman mempunyai urusan tersendiri yang menyibukkannnya dari kelalaian, hura-hura dan berbicara kosong. Orang-orang beriman tak memiliki waktu kosong untuk bermain-main yang tidak berarti. Karena ia disibukkan dengan tuntutan keimanannya, dakwahnya dan beban-beban tugasnya yang ia tanggung. Allah berfirman: “ dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui(saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.”(Q.S. Al-FurqonL: 72)

Hadirin Jamaah shalat yang berbahagia

Orang-orang yang mulia juga adalah orang-orang yang segera sadar ketika diingatkan dan mudah mengambil pelajaran jika diberi nasehat terbuka hatinya untuk menerima ayat-ayat Allah yang mereka terima dengan pemahaman dan mengambil pelajaran. Sehingga mereka mengimaninya dengan keimanan yang penuh dengan kesadaran bukan fanatisme dan tidak menenggelamkan wajah! Jika mereka bersemangat membela aqidah mereka , membela agama mereka, membela saudara seiman mereka, maka hal itu mereka lakukan dengan sikap semangat seorang yang mengetahui penuh kesadaran dan hati terbuka. Allah SWT berfirman: “Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagi orang-orang yangg tuli dan buta.” (Q.S Al-Furqon:73)

Kaum muslimin yang dimuliakan Allah SWT

Karakteristik yang terakhir digambarkan oleh Al-Quran melalui firman Allah: “Dan orang-orang yang berkata:” Ya, Tuhan kami, anugerahkan kepada kami ,istri-istri kami, dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa.”(AlFurqon:74).

Ini adalah perasaan fitrah keimanan yang mendalam. Perasaan seorang untuk menambah bilangan orang-orang yang berjalan di jalan Allah. Tidak cukup kesholihan adalah milik pribadi, orang-orang beriman juga selalu menyenandungkan doa-doa untuk menambah jumlah orang-orang menyembah Allah, dan yang pertama adalah keturunan dann pasangan mereka. Karena mereka itu adalah orang-orang yang terdekat dengan mereka. Mereka itu adalah amanah yang paling pertama yang akan ditanyakan kepada mereka.

Mereka juga berkeinginan agar orang-orang beriman merasakan bahwa ia menjadi telladan bagi kebaikan dan dijadikan contoh oleh orang-orang yang ingin menuju Allah. Dalam hal ini, tidak ada indikasi kesombongan atau merasa hebat karena seluruh rombongan berada dalam perjalanan menuju Allah. Itulah hamba-hamba Allah yang maha penyayang yang akan mendapat kemuliaan sesungguhnya berupa surga di sisi Allah.
  • 5). Rukun Kelima: Doa untuk umat Islam di khutbah kedua
Pada bagian akhir, khatib harus mengucapkan lafaz yang doa yang intinya meminta kepada Allah kebaikan untuk umat Islam. Misalnya kalimat: Allahummaghfir lil muslimin wal muslimat  Atau kalimat Allahumma ajirna minannar. Contoh bacaan do’a penutup: Allahummagh fir lilmuslimiina wal muslimaati, wal mu’miniina wal mu’minaatil ahyaa’I minhum wal amwaati, innaka samii’un qoriibun muhiibud da’waati.
Robbanaa laa tuaakhidznaa in nasiinaa aw akhtho’naa. Robbanaa walaa tahmil ‘alaynaa ishron kamaa halamtahuu ‘alalladziina min qoblinaa.Robbana walaa tuhammilnaa maa laa thooqotalanaa bihi, wa’fua ‘annaa wagh fir lanaa war hamnaa anta maw laanaa fanshurnaa ‘alal qowmil kaafiriina. Robbana ‘aatinaa fiddunyaa hasanah wa fil aakhiroti hasanah wa qinaa ‘adzaabannaar. Walhamdulillaahi robbil ‘aalamiin.

Selanjutnya khatib turun dari mimbar yang langsung diikuti dengan iqamat untuk memulai shalat jum’at. Shalat jum’at dapat dilakukan dengan membaca surat al a’laa dan al ghasyiyyah, atau surat bisa juga surat al jum’ah, al kahfi atau yang lainnya.

اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِ
هِ وَمَنْ
 تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَ
نِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ
. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ.
رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلََى اّلذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.
رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَ
ةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.
العالمين والحمد لله رب.
أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ، إِنَّهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحيمُ

Subscribe to receive free email updates: