PERKEMBANGAN PEMIKIRAN

Perkembangan PemikiranI’jaz Al-quran” Pada Masa Klasik
Sejak awal III H./IX M., fenomena ketidamampuan manusia menandingi al-Quran baik dari segi makna maupun struktur ini muncul dalam literatur Islam, dengan istilah i’jaz. Hingga sampai saat ini kata i’jaz menjadi terminologi ilmiah yang mengandung pengertian bahwa, secara agama fenomena ini memang mukjizat Allah, yakni bukti kenabian Muhammad Saw. dan kewahyuan al-Quran. Jadi manusia memang benar-benar tidak akan pernah memiliki kemampuan untuk menandinginya.
Sejak abad III H. tulisan-tulisan tentang i’jaz masih terus berkembang. Gagasannya mengakar pada sebuah pengertian bahwa ia adalah salah satu bentuk mukjizat yang menjadi bukti kenabian Muhammad Saw. akan tetapi, segi-segi mukjizat ini masih terus menjadi bahan pembicaraan di antara para pemikir Islam.
AL-RUMMANI
Di antara pemikir itu adalah al-Rummani, pengarang kitab al-Nukat fi I’jaz al-Quran, salah satu karya ilmiah pertama yang menggunakan kata i’jaz dalam judulnya. Masalah utama yang dibahas dalam buku itu adalah pembuktian keunikan balaghah al-quran. Al-Rummani yang berpaham mu’tazilah berpandangan bahwa ide i’jaz memiliki tujuh segi, yaitu:
1. Tidak tertandinginya al-Quran, meski banyak faktor yang mendorong untuk menandinginya.
2. Tantangan al-Quran yang berlaku untuk umum.
3. Al-Shorfah, yakni Allah memalingkan manusia dari menandingi al-Quran.
4. Balaghah al-Quran, yaitu kefasihan dan pengaruh estetikanya yang efektif.
5. Terdapatnya informasi dan berita yang benar tentang peristiwa masa depan.
6. Karakter al-Quran yang menyalahi kebiasaan, bukan puisi bukan prosa.
7. Pembandingan al-Quran dengan segala mukjizat yang pernah dikenal oleh agama lain.
Al-Rummani tidak menjelaskan secara rinci dan panjang lebar ketujuh segi i’jaz tersebut kecuali tentang balaghah al-Quran. Pertama ia mendefinisikan balaghah sebagai berikut: “penyampaian makna ke dalam hati dalam bentuk lafal yang paling indah. Kemudian dilanjutkan dengan menyebutkan unsur-unsur balaghah yang berjumlah sepuluh, yaitu: a) al-ijaz, b) al-Tasybih, c) al-istiarah, d) al-Ta’alum, e) al-Fawashil, f) al-Tajanus, g) al-Tashrif, h) al-Tadhmin, i) al-Mubalaghah, j) Husn al-bayan.
AL-KHATABI (w. 388 H/998 M)
Ulama Sunni ini hidup semasa dengan al-Rummani, ia menolak pemikiran al-Sharfah sebagai segi i’jaz al-quran, sebagaimana yang ia ungkapkan dalam kitabnya Bayan I’jaz al-Quran. Al-sharfah berarti bahwa manusia sebenarnya mampu membuat yang semisal dengan al-Quran, namun dipalingkan oleh Allah untuk melakukan hal itu. Demikian juga dengan berita masa depan, ia tidak menganggapnya sebagai segi i’jaz.
Al-Khatabi menerima ide keunikan balaghah al-Quran sebagai segi i’jaz. Dia mengatakan bahwa perkataan itu memiliki tiga unsur, yaitu: 1) lafal pemangku, 2) makna yang berdiri padanya, 3) sistem pertalian antar keduanya yang merangkai. Dia meyakini bahwa manusia tidak akan mampu menandingi al-Quran. Karena al-Quran itu tersusun dari lafal-lafal yang paling fasih, paling kuat, dan paling lembut. Makna-maknanya sangat maju sesuai dengan topiknya, dan strukturnya tidak terungguli oleh struktur apapun, baik dari segi keindahan susunan maupun eratnya pertalian.
Di akhir pembahasannya ia menunjukkan pengaruh kuat balaghah al-Quran pada jiwa dan hati yang sering dilupakan oran. Dia menganggap pengaruh kejiwaan ini sebagai salah satu wajah i’jaz al-Quran yang lahir dari sekumpulan keunikan balaghah yang dimilikinya.
AL-BAQILLANI (w. 403 H./1013 M.)
Dalam karyanya yang berjudul I’jaz al-Quran ia memaparkan bahwa balaghah dan keistimewaan bahasanya masuk dalam I’jaz al-Quran. akan tetapi, Al-Baqillani tidak hanya membatasi segi i’jaz pada keunikan balaghah saja. Ia juga mengakui informasi al-Quran tentang hal gaib dan peristiwa depan serta pemberitaan orang-orang terdahulu sebelum nabi Muhammad sebagai segi i’jaz. Letak kemukjizatannya adalah bahwa berita ini disampaikan oleh orang yang buta huruf, tidak tahu baca tulis dan tidak pernah baca satu kitab pun sebelum al-Quran.
Dalam kitabnya tersebut Al-Baqillani juga membandingkan khutbah dan surat Nabi serta kata-kata indah dari para sahabat yang dibandingkan dengan keindahan al-Quran. dia juga mengkritik secara sastrawi terhadap Muallaqah Imru’ al-Qais dan kasidah Lamiyyah al-Buhturi, dua kasidah panjang yang terbilang sebagai mutiara syair Arab.
Menurut Al-Baqillani, i’jaz tidak bertumpu pada balaghah itu sendiri. Hal itu karena balaghah ada yang bisa diciptakan oleh manusia, sedangkan balaghah yang terdapat dalam al-Quran tidak bisa ditiru oleh manusia.
QADHI ABDUL JABAR (w. 415 H./1025 M.)
Menurutnya, uslub al-Quran merupakan segi utama i’jaz, kefasihannya membuat bangsa Arab lemah hingga tidak mampu menandinginya. Dalam bukunya Al-Mughni fi Abwab al-Tawhid wa al-A’dl, pada jilid yang ke 16 ia mengatakan bahwa fashahah adalah produk keistimewaan lafal dan makna. Qadhi Abdul Jabar tidak mengabaikan pentingnya makna, dia hanya menegaskan bahwa fashahahlah yang memberikan keistimewaan, sementara kefasihan al-Quran berada pada tingkat paling tinggi.
Banyak pakar sebelumnya yang membahas masalah pemilihan kata dan penataannya, atau yang biasa disebut dengan nazham, dalam buku-buku yang mereka beri judul Nazham al-Quran. seperti buku Al-Jahizh yang sudah tak ada bekasnya, buku Al-Sijistani, Al-Balkhi, dan Ibn al-Ikhsyid. Akan tetapi yang membahas masalah ini secara panjang lebar kemudian merumuskan secara teoritis dan metodelogis adalah Al-Jurjani.
ABDUL QAHIR AL-JURJANI
Melalui dua kitabnya yaitu: Dala’il Al-I’jaz dan Asrar Al-Balaghah, Al-Jurjani mempertalikan masalah nazham dengan majaz-majaz balaghah dan pola-pola keindahan bad’i. Menurutnya kata tunggal itu tidak memiliki keistimewaan pada dasarnya. Demikian juga makna, tidak memiliki wujudnya sendiri tanpa kata-kata. Oleh karena itu, tidak mungkin menetapkan derajat balaghahnya dalam keadaan tunggal. Sebaliknya, derajat itu hanya mungkin diketahui dalam kondisi terhimpun dalam sebuah nazham (struktur). Dari sini jika susunan kata berubah maka berubah pula maknanya.
Atas dasar itu semua, uslub yang paling bagus adalah uslub yang mampu mewujudkan sebagus mungkin nazham bagi makna yang dimaksudkan. Yakni dengan cara memilih kata yang paling mampu mengekspresikan maksud dan meletakkannya dalam susunan yang paling laik bagi makna tersebut. Al-Quran dalam pandangan al-Jurjani menggunakan nazham paling bagus dan indah. Oleh karena itu, begitu mendengarnya orang Arab langsung menyadari bahwa mereka tidak mampu untuk mendatangkan yang semisalnya.
Dari sini al-Jurjani bisa dianggap sebagai salah satu pemikir muslim pertama yang mengkaji nazham Al-Quran secara mendalam, menganalisanya secara panjang lebar dan memaparkan teori makna dalam kajian estetika dan stilistika Arab, jauh mendahului kajian-kajian Barat Modern. Setelah Jurjani muncul para pakar lain yang lebih sistematis dalam menulis topik ini, seperti Fakhruddin Al-Razi dan Al-Sakkaki.
ZAMAKHSYARI (w. 538 H./1144 M.)
Di bidang tafsir tidak ada pakar yang lebih baik daripada Al-Zamakhsyari dalam menggunakan ilmu Balaghah untuk memahami teks al-Quran, kemudian menyoroti i’jaz dan keindahan uslubnya. Tafsirnya Al-Kasysyaf meski mengandung ide-ide muktazilah, tafsir ini tetap disanjung oleh banyak kalangan. Tafsirnya terus menyambung, mencakup seluruh al-Quran; ayat demi ayat. Setiap kalimat dan ungkapan dia kupas secara beruntun.
Maknanya dia tafsirkan, unsur-unsur uslubnya yang memberikan pengaruh keindahan dan balaghah yang luar biasa ia analisis. Selain itu dia juga berulang kali menunjukkan keutamaan nazham al-Quran yang unggul dan tiada bisa ditandingi oleh manusia.
Setelah Az-Zamakhsyari, banyak pengarang muncul, namun mereka tidak memberikan sumbangan yang bearti terhadap pemahaman i’jaz. Dalam periode itu, ilmu Balaghah dibagi menjadi tiga bagian, yaitu ilmu Ma’ani, ilmu bad’i, dan ilmu Bayan. Akan tetapi apa yang meyusup ke dalam ilmu ini hanya berupa kerumitan yang mandul dan diskursus-diskursus yang gersang membuatnya semakin jauh dari maksud estetik dan sastrawi.

(diringkas dari: al-Quran Yang Menakjubkan, karya Prof. Dr. Issa J. Boullata, Ciputat: Lentera hati, hal. 4-16

Subscribe to receive free email updates: