BALAGHAH dan STILISTIKA


A.    Latar Belakang
Kajian linguistik Arab dengan segala cabang nya merupakan ilmu yang telah matang dan berkembang, Tamâm (1981: 14) mengemukakan bahwa kajian linguistik Arab telah memenuhi sarat dari sebuah Ilmu al-madbȗth ilmu yang telah matang dengan memenuhi empat persyaratan dari sebuah ilmu pengetahuan. Para ulama Islam terdahulu berpendapat bahwa kajian mengenai linguistik Arab yang dilakukan oleh ulama terdahulu telah matang, sehingga kajian yang dilakukan oleh ulama al-mutakhir masih seputar kajian ulama terdahulu (Tamâm, 2007:14). Munculnya al-Lugahah al-wasfiy merupakan sebuah pandangan baru bagi linguisti Arab, sekaligus memberikan sebuah corak baru bagi kajian bahasa Arab yang luas dan berkembang meskipun mendapat corak khusus dari pengaruh barat dari segi metode dan mewarnai kajian al-uslȗb pada saat ini, meliputi keterkaitan bahasa dengan kajian sastra.
Ilmu al-Balâghah merupakan ilmu yang berkembang dan telah tersusun rapi, meskiun kemunculan ilmu balâghah muncul setelah ilmu nahwu, dan ilmu al-balâghah merupakan sebuah  Ilmu al-madbȗth,  menurut Al-Marâghi (1950: 27) kematangan ilmu balâghah ditandai oleh al-Sakâkî, dan  buku yang dikarang beliau adalah miftâh al-ulȗm. Beliau juga yang telah membangun struktur ilmu  balaghah seperti halnya struktur bangun ilmu al-nahwu.
Lalu bagaimana dengan dengan kajian Ilmu al-uslȗb, menurut Syukri I’yâd(1992: 5) ilmu ini masih baru, dan dasar ilmu ini adalah ilmu balâghah. Meskipun kajian ini dari segi metodologi masih baru, dan mucul pada tahun 1980 di beberapa kampus Arab yaitu di Universitas Riyâdh, namun kebudayaan Arab telah memiliki warisan intelektual yang sangat berharga yaitu balâghah yang memiliki hubungan erat dengan ilmu Ilmu al-Uslȗb. apa ilmu Ilmu al-Uslȗb, hubungan Ilmu al-Uslȗb dengan ilmu lainnya, bagaimana Ilmu al-Uslȗb al-adabiy, dan bagaimana dengan Ilmu al-Uslȗb al-Ilmiy.
B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana definisi al-Uslȗb ?
2.      Bagaimana hubungan al-Uslȗb dengan ilmu lainnya?
3.      Bagaimana al-Uslȗb al-Adabiy?
4.      Bagaimana al-Uslȗb al-Ilmiy?
5.      Bagaimana Analisis al-Uslȗb?

C.    Tujuan dan Manfaat
1.        Tujuan
a)      Untuk mengetahui definisi al-Uslȗb.
b)      Untuk mengetahui hubungan al-Uslȗb dengan ilmu lainnya.
c)      Untuk mengetahui al-Uslȗb al-Adabiy.
d)     Untuk mengetahui al-Uslȗbal-Ilmiy.
e)      Untuk Mengetahui al-Uslȗb.
2.        Manfaat
a)      Dapat menambah pengetahuan ihwal definisi al-Uslȗb.
b)      Dapat menambah pengetahuan tentang hubungan al-Uslȗb dengan ilmu lainnya.
c)      Dapat menambah pengetahuan tentang al-Uslȗb al-Adabiy.
d)     Dapat menambah pengetahuan tentang al-Uslȗbal-Ilmiy.
e)      Dapat melatih analisis al-Uslȗb.

D.       Metode Penulisan
 Metode penulisan makalah yang penulis gunakan adalah  studi pustaka dengan melakukan penyusunan dari berbagai sumber  literature kamus dan pemanfaatan jaringan internet.




BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian al-Uslȗb
kata al-Uslȗb berasal dari kata  سَلِبyang bermakna al-Tharîq, kata al-Uslȗb juga berarti al-Kifâyah yang berarti cara atau metode, kemudian al-Uslȗb fî al-kalâm, dan al-fanu min al-qoul  (Ma’Luf 2005: 343) (Munawir, 2002: 647). Berdasarkan penjelasan tersebut, ditemukan kata al-Uslȗb fî al-kalâm dan  al-fanu min al-qoul  yang keduanya berarti gaya bahasa.
Kemudian Ba’labaki (1990:  478) menjelaskan bahwa Uslȗb secara istilah  adalah:
الأسلوبية دراسة الأسلوب, علم الأسلوب, أو علم الأساليب, فرع من علم البلاغة فرع من علم اللغة يعنى بدراسة أسلوب الفرد أو الجماعة, وهو ينقسم باعتبار موضوعية إلى أسلوبية عامة و أسلوبية أدبية وأسلوبية لغوية وأسلوبية صوتية, كما قد يميّز في الدراسة بين أسلوبية الكاتب و أسلوبية المتكلم.
Lalu Ilmu al-Uslȗb di dalam bahasa Indonesia dipadankan dengan istilah stilistika, dimana stilistika merupakan sebuah ilmu yang mengkaji karya sastra, dan bahasa yang digunakan dalam karya sastra, ilmu ini merupakan ilmu interdisipliner antara linguistik dan kesusastraan, atau penerapan bahasa dalam kajian kesusastraan (Kridalaksana, 2009: 227).
Adapun teknik dalam teknik pemakaian bahasa lisan maupun tulis adalah retorika, menurut keyraf (2000: 3)  retorik disamping sebagai teknik dan seni di dalam pemakain bahasa lisan maupun tulis, retorika bertujuan untuk menerangkan sebuah kaidah-kaidah yang menjadi landasan dari sebuah tulisan baik pidato, prosa, dan ceramah yang bertujuan untuk memperngaruhi orang lain.
Berdasarkan pemaparan di atas, bisa dipahami bahwa Ilmu al-Uslȗb atau stilistik merupakan ilmu yang mengkaji karya sastra dan linguistik sebgai alatnya, sedangkan retorik adalah bagaimana menyusun sebuah ragam bahasa baik tulis maupun lisan.Keterkaitan al-Uslȗb dengan ilmu balâghah, dimana balâghah merupakan sebuah alat dalam kajian Ilmu al-Uslȗb. I’yâd(1992: 6) meskipun ilmu ini masih baru, namun ilmu ini merupakan pandangan baru dari kajian balâghah
 Lalu bagaimana Ilmu al-Uslȗb menurut pandangan al-udabâ, meskipun ilmu ini masih relatif baru, namun pada saat ini kalimat ini memiliki makna yang sangat luas I’yâd (1992: 12-13);
1.      Kata al-Uslȗb merupakan kata yang memiliki makna yang luas. Ketika kita membicarakan suatu Ibârah qashîrah, qith’ah kâmilah, kumpulan syair, dan natsar atau prosa, maka hal itu menunjukan
a)      Bagaimana pemilihan kata (al-alfâdh), metode penyusunan (tharîqat al-tartîb)
b)      Bagaimana dengan makna maknanya (al-ma’ani) dan narasi (al-sardu).
2.      Kata al-Uslȗb merupakan sebuah kualitas yang ditujukan pada nilai-nilai kesusastraan, pentepan hukum baik penerimaan atau penolakan yang dibarengi dengan deskripsi dari karya sastra tesebut, pada sebuah ungkapan فلان عندع أسلوب   kata ini memiliki arti bahwa fulân  تستحسن طريقته في الكتابة. Contoh tersebut merupakan pemberian hukum kepada seseorang dalam hal menulis, namun tanpa dibarengi dengan deskripsi.
3.      Kata al-Uslȗb menunjukan sebuah kualitas yang membedakan sebuah kualitas sastra dengan yang lainnya. Jika فلان عنده أسلوب  ungkapan ini bukan penilaian, namun al-Uslȗb menjadi sebuah pembeda dari al-Uslȗb  yang lainnya.
 Seorang pemikir Prancis abad 18 Buffan dalam I’yâd(1992: 14) menyatakan bahwa setiap manusia memiliki al-Uslȗb al-khâsh, atau gaya tersendiri dalam bertutur,  dengan kata lain bahwa al-Uslȗb hua al-insân nafsuhu, atau al-Uslȗb adalah diri manusia itu sendiri.
Landasan terori tentang ilmu al-Uslȗb di dalam kajian balâghah modern, kajian al-Uslȗb merupakan kajian analisis kegiatan kesusastraan, dengan mengungkap nilai-nilai estetika, seni, kajian ini berangkat dari struktur bahasa dengan anggapan bahwa sastra merupakan fan qouliy yang mengandung nilai, nilai dari segi al-tharîqah al-ta’bîriyah, konten, perbedaan atau ciri khas (Darwîsy, 2008: 13). Metode al-ta’bîr yang dianalisis dalam karya sastra memiliki banyak jenis, di antaranya adalah:
1.      Musikalitas, meliputi;
a)       Al-îqa’ (ritme)
b)      Al-nabr (nada)
c)      Hadatsu ta’bîr (Corak ekspresi)
d)     Al-intâj al-adabiy fî jins al-syi’ri
2.      الطريقة التى تعتمد على الحوار تصنفه في جنس المسرح
3.      الطريقة التى تعتمد على السرد و الوصف تصنفه في الجنس القصصي بصفة عام
Dan secara alami bahwa karya sastra bisa dikaji bukan hanya dari segi struktur ungkapan syakl ta’bîriy namun berangkat dari sebuah pemikiran, makna, isi, pesan kemanusian, atau pesan dari sebuah masyarakat, dan seni. Darwîsy (2008: 15) mengemukakan bahwa objek yang dikaji bukan hanya pada unsur makna, seni, estetik saja namun perilaku dan situasi tertentu di dalam masyarakat itu sendiri sebagai identitas dari sebuah kebudayaan. Beliau menjelaskan kembali bahwa semua unsur tersebut tercermin dalam prodak kesusastraan.

B.        Kajian al-Uslȗb
1.         Ilmu al-Uslȗb dan Bahasa
Apa yang dikaji oleh al-Uslȗb, kaitan dalan hal makna, menurut Ibnu Khaldun (dalam Iyad, 1992: 24) bahwa al-Bunyah al-dzihniyah merupakan struktur makna yang bersumber pada syair dan natsar, sebagaimana diungkapkan oleh Noam Chomsky seorang linguis mentalis, bahwa di dalam bahasa terdapat struktur dalam atau deep structure. Hal serupa dikemukakan kembali oleh Sausure dalam (I’yad, 1992: 28-29) mengungkapkan dua konsep yaitu al-lugah dan al-qoul, beliau mengemukakan bahwa al-lugah merupakan sistem lambang berupa pengetahuan bahasa yang dipahama sesorang.
 Adapun al-qoul adalah wujud bahasa yang sesungguh yaitu tuturan yang yang dicapkan seseorang, dalam berbagai keadaan. Setiap orang memiliki ciri yang khusus dalam menggunakan setiap bahasa, baik dari segi pelafalan dan struktur. Setiap orang juga memiliki  institusi bahasa, yang membantu seseorang dalam dalam memahami dan mengunakan bahasa. Setiap orang juga memiliki cara yang khusus dalam membuat kalimat-kalimat dan konjungsi diantara keduanya, hal tersebut merupakan sebuah gaya atau al-uslub yang dimiliki seseorang dalam berbahasa.
 Al-Muthalib (1994: 185) kajian uslȗb pada abad ini meliputi dua konsep utama. Pertama, dirâsah al-shilah baina al-syakl wa al-fikr, yaitu kajian antara struktur bahasa dan pemikiran, secara khusus kajian ini telah dilakukan oleh ulama terdahulu dalam al-khithâbah. Kedua, al-uslub merupakan gaya seseorang, dan mengetahui hubungannya antara al-ta’bîrât al-fardiyah dan masyarakat. Setiap masyarakat bahasa memiliki cara khusus dalam menggunakan bahasa. I’yâd (1992: 22) mengemukakan bahwa hubungan antara Ilmu al-Uslȗb dan Bahasa. Berdasarkan pandangan ulama terdahulu terhadap bahasa, mereka berpandangan bahwa bahawa cendrung berubah sehingga diperlukan sebuah penetapan.

2.   Ilmu al-Uslȗb dan Balâghah
Sebagiman kita ketahui bahwa hubungan ilmu uslȗb dan ilmu balâghah terdapat tanda kesamaan di antara keduanya. Jika kita telaah sebuah definisi dari ilmu ma’âni (al-Qizwâniy, t.t: 15) dan (Nurbayan dan Zaemudin, 2007: 1) dan  yaitu;
علم يعرف به أحوال اللفظ العربي التي بها يطابق مقتظى الحال
Sebuah ilmu untuk mengetahui keadaan bahasa Arab sesuai dengan tuntutan situasi dan kondisi. Lalu kita perhatikan dengan ungkapan muqtadha al-hâl  dengan kalimat al-mauqif  (afective) terdapat perbedaan medasar antara pandangan ilmu uslȗb terhadap al-mauqif  dan muqtadha al-hâl  dalam pandangan ilmu balâghah. I’yâd(1992: 43) mengemukakan bahwa dengan kedua aspek tersebut kita bisa menemukan beberapa cara lita’bîr al-ma’na. karena seorang penutur (mutakalim) bisa memilih satu dari berbagai cara, meskipun menurut pandangannya banyak cara yang sesuai, dan semuanya melalui afeksi.
Tujuan akhir dari ilmu uslȗb adalah mengungkap berbagai bentuk struktur secara komprehensif meliputi jens-jenis mufradat, struktur, dan secara khusus adalah makna, dan hal tersebut sebagaimana dideskripsikan di dalam ilmu balâghah. Dan ilmu balâghah juga menyajikan metode tertentu dalam penggunaan kata seperti dalam isti’ârah, majâz al-mursal, dan kinâyah. Pengkajian selanjutnya adalah meliputi nilai-nilai dari motede-metode ekspresi tersebut (Ali,1992: 43).
Kajian tentang pola-pola kalimat al-khabariyah dan al-istifhâmiyah, metode penyusunan kalimat dengan uslȗb hadzaf, taqdîm dengan nilai-nilainya. Hal tersebut bisa kita gunakan untuk analisis model dari syair. I’yâd(1992: 44) menjelaskan keterkaitan kedua ilmu tersebut, lebih jelasnya bisa kita lihat antara ilmu balâghah dan al-lugahah al-qadîm, serta hubungan antara ilmu al-lugah al-hadîts dan ilmu al-uslȗb.  berdasarkan pemaparan di atas bisa kita kethui:
Tabel 1. Perbedaan pendekatan
 No.
   
علم اللغة القديمة و علم البلاغة
   
علم اللغة الحديثة و علم الأسلوب
 1.
   
Pendekatan terhadap bahasa, ilmu bahasa klasik (prespektif) memandang bahwa bahasa merupakan sesuatu tetap atau tidak berubah
   
Sedangkan, pandamgan ilmu bahasa modern (deskriptif) memandang bahasa sesuatu yang berubah dan berkembang.
 2.
   
Pandangan Ilmu balâghah, mengkaji perbedaan tharîqah al-ta’bîr dengan mempertimbangkan muqtadha al-hâl, perbedaan tersebut tidak keluar dari probabilitas yang tetap.  Sebagai contoh, apakah penyajian tentang al-taqdîm dan al-ta’khîr di dalam al-natsar memiliki kesamaan dengan syair. Dan apakah  penyajian al-taqdîm dan al-ta’khîr pada saat ini masih sama dengan penyajian pada abad ke 2 atau  ke3 H. lalu bagaimana perkembangan penyajian saja’ pada masa pra Islam hingga abad ke 10 H. mengapa para penulis mengabaikan hal tersebut, padahal terdapat peralihan waktu dan situasi.
   
Ilmu al-uslȗb, berpandangan seperti halnya ilmu  bahasa modern, yang mengkaji phenomena kebahasaan. Dengan dua motode utamanya;
a)   Afqiyah, yaitu kajian secara horizontal, mengkaji sebuah fonemena kesusastraan pada masa tertentu.
b)   Ra’siyah, metode kajian secara vertical. Mengkaji fenomena kesusastraan dari masa ke masa.
 Jika kita melihat pandangan tersebut, terdapat persamaan dengan kajian linguistic modern, yaitu kajian sinkronik yang pada masa tertentu, dan diakronik kajian bahasa dari masa kemasa.
3.      
   
Sifat dari al-mu’âyari atau prespektif pada ilmu balâghah;
a)   Al-qawânîn di dalam ilmu al-balâghah, bersifat ketat dan ditetapkan secara mutlak, tidak menerima adanya perubahan, tanpa meninjau masa ke masa, bai’ah. Individu, dan penetapan kaidah sama dengan penetapai kaidah pada ilmu al-nahw.
b)  Bisa kita pahami bahwa Al-qawânîn di dalam ilmu al-balâghah berpijak pada pemilihan adat al-tarkîb nahwiyah yang benar, sekaligus menjadi syarat dari sebuah kalâm balîgh, atau kalâm fashîh.

   
Sifat dari al-washf atau deskriptif, pada ilmu uslȗb;
Pijakannya adalah melakukan pencatatan phenomena-penomena, dan menerima segala jenis perubahan, dan lebih terkonsentrasi pada bayân al-dilâlah pada pandangan penutur, pendengar, pembicara, dan penulis.
lebih jelasnya, sifat dari pandangan ini tidak mengedepankan aspek benar dan salah, pada aspek kesusastraanya.
4.
   
Pengembangan ilmu balâghah yang dilakukan oleh para ulama terdahulu hingga saat ini, terfokus pada aspek manthiqiy sebagai landasan berfikir ilmiah.
Situasi, kondisi, dan mentalitas seorang pembicara (mukhâthab) merupakan unsur yang sangat penting dan menjadi domain utama sebagai kriteria kebenaran muthabaqoh li muqtadha al-hâl.
Sebagai sarat dari sebuah kesusastran.
   
Sedangkan ilmu uslȗb yang dikembangkan pada saat ini al-mauqif  bisa dikatakan ‘asyadu ta’qîdan muqtadha al-hâl, dalam arti, aspek wijdâniy  lebih mendominasi aspek akal. Sebagaimana diungkapkan oleh ulama psikologis saat ini unsur wijdâniy pada manusia merupakan faktor yang sangat berpengaruh dari pada faktor akal, dengan berbagai faktor lainnya, seperti  aspek perkembangan, gender, usia, linggkungan, dan pranata social yang ikut membentuk dan memperngaruhi sebuah karya sastra.

Berdasrkan pemaparan diatas, bisa dipahami keterkaitan antara balâghah dan ilmu uslȗb memiliki keterkaitan erat, yaitu pada aspek objek kajian karya sastra. Adapun perbedaannya adalah pada aspek pendekatan.


C.    Al-Uslȗb al-Adabiy
Bisa dipahami bahwa al-uslȗb al-adabiy merupakan al-tharîqah al-faniyah yang dilakukan oleh para penyair atau sastrawan lainnya (www.ibtesama.com, 2013). Sedangkan menurut Qathan di dalam (2009, wwv.V3bir.com) adalah;
الأسلوب الأدبي هو الأسلوب الذي يعبر به الشعراء في قصائدهم وكتاب النثر الفني في كتاباتهم )المقال القصة المسرحية الخطبة الرسالة(. الأسلوب الأدبي هو أسلوبٌ تعبيريٌّ فنيٌّ، تُكتَبُ به الأجناس الأدبية المختلفة، من مقالة وخطبة ورسالة وقصيدة وقصة ومسرحية. هدفه التعبير عما يجول في نفس الكاتب من أفكار وعواطف، والتأثير في نفوس الآخرين، وتحقيق الإفادة والإمتاع في آن معاً
 Adapun krakteristik dari al-uslȗb al-adabiy adalah;
     خصائص الأسلوب الأدبي :  التشبيه والتعابير المجازية , يوظف فيه النغم الموسيقي مثل السجع والجناس حتى يستلذ المستمع الحديث حسا ومعنى . يوظف فيها عواطفه وأحاسيسه ويجسدها حتى يتأسى به المستمع. يوظف المفردات والعبارات القوية والمفهومة حسب وضعية الوصف (www.ibtesama.com, 2013) .

Berdasarkan pemaparan di atas yang menjadi karakteristik al-uslȗb al-adabiy adalah;
 1) Tuturan yang mengandung aspek majâz dan tasybîh. 2) memiliki unsur nada yang harmonis (saja’, jinâs) sehingga pendengar menikmati  dari segi rasa dan makna. 3) di dalamnya terdapat unsur emosi, atau al-awâtifa, rasa dan berwujud sehingga menghibur para penikmatnya. 4) Berdasarkan bentuk deskripsinya terdapat kata, ungkapan, dan keterpahaman yang kuat (www.ibtesama.com, 2013).
Lalu Qathan di dalam (2009, wwv.V3bir.com) menjelaskan beberapa karakteristik al-uslȗb al-adabiy adalah sebagai berikut;
خصائص الاسلوب الادبي:  1) يتحدث عن موضوعات ليست ذات طابع علمي. 2) خلوه من الارقام والمصطلحات والإحصاءات العلمية. 3)  دقة اختيار الالفاظ، والتأنق في الاسلوب. 4)  استخدام الصور الخيالية «علم البيان». 5)  استخدام المحسنات البلاغية «علم المعاني، علم البديع». 6) ظهر فيه شخصية الأديب وآراؤه وثقافته. 7) 7 يقصد الى الامتاع بجانب الإفهام ونقل الأفكار. 8)  يتنوع فيه الاسلوب بين الخبر والإنشاء لأغراض بلاغية.
Berdasarkan pemaparan Qathan, maka karakteristik al-uslȗb al-adabiy adalah sebagai berikut;
1.      Topik yang dibicarakan bukanlah pada ranah ilmiyah;
2.      Terlepas dari tanda nomor, istiah-istilah, dan hitungan yang bersifat ilmiyah;
3.      Keakurasian dalam pemilihan kata, dan keelokan dalam gaya;
4.      Penyajian figure imajinatif (ilm al-bayân)
5.      Penyajian al-muhasinât al-balâghiyah (ilmu al-ma’âniy dan ilmu al-badî’
6.      Tercermin identitas, pandangan-pandangan, dan latar belakang budaya dari pengarang.
7.       Ditujukan untuk sebuah kenikmatan dari aspek pemahaman, dan menyampaikan gagasan.
8.      Keragaman dalam penggunaan gaya bahasa antara insyâ’I dan khabariy.untuk tujuan retorik.

 Jadi penggunaan penggunaan al-uslȗb baik al-uslȗb al-adabiy atau al-uslȗb al-ilmiy terdapat karakteristik yang khas di antara kedanya, baik dari segi fungsi, tujuan. Ibrahim dalam (2012, www.alukah.net) mengemukakan beberapa karakteristik al-uslȗb al-adabiy diantaranya adalah;
خصائص الأسلوب الأدبي: 1)  الممازجة بين الأسلوب الخبري والأسلوب الإنشائي، مما يكسب الكلام حيوية ولهجة حميمة منعشة.  2)  الاستعانة بالصور والأخيلة التي تنقل المتلقي إلى أجواء يسرح فيها الخيال، وتحيا فيها الطبيعة والأشياء، وتتجسد المجردات بهدف الإيضاح والتأكيد والإقناع والتأثير، ونقل تجربة الكاتب نقلاً أفضل.   3) إبراز ذاتية الكاتب، والتعبير عن عواطفه ومشاعره وأحاسيسه  ورؤاه وآرائه ونظرته الخاصة إلى العالم. 4)- العناية بتحسين الكلام، وذلك باستخدام بعض المحسنات البديعية كالجناس والطباق والمقابلة والتورية. 5)  الحرص على موسيقى اللفظ والتأليف، ويتجلى ذلك في جرس الكلمات والوزن والقافية والسجع، وفي الموسيقى الداخلية المنسجمة المناسبة لمضمون النص. 6)  اختيار الألفاظ الفصيحة المناسبة للموضوع، البعيدة عن الابتذال، التي تدل على الذوق العالي والتمكن اللغوي وسعة الثقافة. 7)  الابتعاد عن الأرقام وكثرة الأعلام والمصطلحات العلمية ما   أمكن ذلك.
          Pemaparan Ibrahim, diketahui bahwa karakteristik al-uslȗb al-adabiy adalah;
 1) keterpaduan antara al-uslȗb insyâ’i dan al-uslȗb al-khabarriy, sehingga ungkapan yang diperoleh seakan akan hidup, hangat, dan menyegarkan. 2) Dengan suguhan figurative, imajinasi yang menggerakan  penerima (pembaca) menuju suasana yang terbawa oleh imajinasi, menghidupkan latar dan objek, membentuk sesuatu yang abstrak dengan tujuan untuk menjelaskan, mempengaruhi, menegaskan, dan meyakinkan dengan mentransformasikan pengalaman penulis. 3) menyajikan identitas penulis baik dari aspek emosi, rasa, latar belakang, dan secara khusus adalah pandangan penulis terhadap dunia. 4) menarik perhatian karena keindahan ungkapannya, yaitu dengan  menyajikan al-muhasinât al-badî’iyah seperti al-jinâs, al-thibaq, al-Muqâbalah, dan al-Tauriyah. 5) Keelokan musikalitas dalam lafadz, penyusunan, yaitu kejelsan bunyi kata baik al-wazn, al-qâfiyah, al-saja’.  Unsur dalam pada musikalitas memiliki kesesuaian dan keharmonisan dengan makna teks. 6) pemilihan kata-kata fasih yang memiliki kesesuaian dengan tema, serta terlepas dari kesalahan, yang mengindikasikan bahwa kekuatan al-dzauq, keakurasian bahasa, dan luasnya kebudayaan. 7) terbebas dari konsep-konsep angka, tanda, istilah-istilah ilmiyah dan lain-lain.

Berdasarkan pemaparan di atas diketahui bahwa al-uslȗb al-adabiy merupakan gaya, dengan tujuan untuk mempengaruhi  dan meyakinkan secara bersamaan, dengan bantuan imajinasi dan figure untuk mentransformasikan perasaan, dan emosi seorang sastrawan kepada pembaca. Keelokan dalam menyusun sebuah ungkapan yang selaras, terfokus pada pada kata-kata  dengan artikulasi yang jelas dan menari, sehingga bisa memperngaruhi para pembaca atau penulis.
Karakteristik al-uslȗb al-adabiy pada pemaparan di atas hampir sama dengan unsur-unsur pada karya sastra, seperti rasa (al-â’thifah), imajinasi (al-khayâliy), gagasan (al-fiqrah), dan bentuk al-shurah (Muzaki, 2006: 65). Kajian tentang  al-uslȗb al-adabiy terfokus pada aspek bentuk.

D.    Al-Uslȗb al-Ilmiy
Al-uslȗb al-ilmiy menurut Ibrahim dalam (2012, www.alukah.net) merupakan gaya ekspresi yang ditulis pada catatan penelitian, makalah ilmiyah, untuk tujuan publikasi ilmiyah, dan memperjelas daya fikir. Adapun karakteristik Al-uslȗb al-ilmiy adalah sebagai berukut;
      1) المساواة في التعبير بين المعنى واللفظ، فلا إيجاز ولا تطويل ولا تكرار. 2) المباشرة: فالمعاني تؤديها الألفاظ بشكل مباشر، ولا مجال للمجازات والصور البيانية، إلا في القليل النادر حيث يحتاج الأمر إلى الإيضاح. 3) عدم الاهتمام بالموسيقى اللفظية. 4) حسن العرض والتسلسل المنطقي للمعلومات. 5) الابتعاد عن الزخرفة اللفظية والمحسنات البديعية والمهارات الإنشائية. 6) البعد عن العواطف الذاتية. 7) دقة الألفاظ وسهولتها، وبعدها عن التكلف والتقعر والإغراب. 8) وضوح الأفكار ودقة المعلومات. 9) استخدام الإحصائيات والأرقام والمصطلحات العلمية.
1) Kesesuaian antara makna dan lafal pada ungkapan, ketiadaan izâj, pemanjangan, dan pengulangan ungkapan. 2) Ungkapan langsung, makna-makna dituangkan melalui lafal dengan bentuk langsung, tidak memiliki aspek majâz, bentuk gaya, kecuI’yâdbeberapa ungkapan asing yang membutuhkan penjelasan. 3) tidak terfokus pada musikalitas kata. 4) Keindahan penyajian, dan keberurutan peungkapan informasi. 5) tidak mempercantik kata itu sendiri, keindahan al-badi’iyah, dan arstistik komposisinya. 6) tidak memiliki unsur rasa. 7) Keakurasian kata, mudah dimengerti,  dan terhindar dari al-takalup,al-ta’qir, dan kata-kata asing. 8) Kejelasan penyampaian pesan, dan keakurasian informasi. 9) penyajian daftar statistik, angka-angka, dan istilah-istilah ilmiyah.
Berdasarkan pemaparan di atas dapat dipahami bahwa al-uslȗb al-ilmiy memiliki keakurasian eksperesi, keteraturan gagasan, kecepatan dalam penyampain pesan kepada pembaca, terlepas dari unsur imajinatif, kejelasan dalam penyampaian fakta. al-uslȗb l-ilmiy juga harus bisa menafsirkan kedalaman ilmu dengan kalimat yang ringkas, dan fasih. Ragam al-uslȗb al-ilmiy juga memiliki struktur yang indah, jelas dan akurat.
Ibrahim (2012, www.alukah.net) menjelaskan bahwa dalam setiap ragam terdapat perbedaan, dan seoang pembaca atau penulis yang memiliki ciri masing-masing, minimal pada aspek balâghah, seperti pola al-khabariy, al-insyâ’i. dan kesesuaian dengan konteks. Kita juga bisa membedakan kedua ragam bahasa tersebut.  Ketika kita membaca sebuah buku kita bisa mengetahui dari karya dari seorang penulis tersebut meliputi tema kesusastraannya, karakteristik al-uslȗb al-adabiy di dalam karya sastra tersebut. Begitu pula dengan al-uslȗb al-ilmiy, kita bisa mengetahui sebuah tulisan ilmiyah melalui tema, gaya penulisan ilmiyah, dan karakteristik karya ilmiya tersebut.  

E.     Analisis al-Uslȗb
1.      Al-Uslȗb al-Adabiy fî al-Qur an
Kajian  al-uslȗb al-adabiy fî al-Qur an bisa melalui Ilmu balâghah sangat berperan penting dalam analisis al-uslȗb, di dalam al-Qur’an, menurut Syîran M (1970: 28) dengan balâghah kita bisa menghubungkan makna dengan hati, baik dari segi keindahan bentuk lafad. Al-Qur’an merupakan lahan subur bagi kajian al-uslȗb. Dari permulaan Islam hingga saat ini banyak sekali kajian al-uslȗb di dalam al-Qur’an.

2.      Al-Uslȗb al-Adabiy fî dalam al-Natsar
Kajian al-uslȗb pada prosa memberikan pemahaman yang lebih luas terhadap karya sastra, dan kajian bahasa dan Budaya termasuk di dalamnya. Kutaratna (2009: 331) mengemukakan bahwa kajian stilistika (al-uslȗb) pada saat ini berbeda dengan kajian stilistika tradisional, bukan hanya kajian majâz yang berkaintan dengan bahasa,  kajian al-uslȗb yang dimaksud adalah mencakup lebih berkaitan dengan karya sastra, termasuk di dalamnya aspek-aspek kebudayaan pada umumnya.
a)      Al-Khithâbiy
Perlu kita pahami bahwa al-khithâbah merupakan sebuah ungkapan yang memiliki gaya bahasa yang indah, sehingga dapat mempengaruhi orang lain yang mendengarkannya. Hassan al-Nash (Muzakki 2006: 92) memaparkan bahwa awal mula kemunculan khithâbah terdapat beberapa faktor, 1) Adanya kebutuhan masyarakat Arab jahili untuk mengobarkan semangat berperang, 2)kebutuhan untuk menghormati para raja, 3) Saling membangga-banggakan, 4) Ajakan untuk berdamai ketika takan timbul peperangan, 5) Ta’ziyah, 6) Meri Nasihat dan 7) member bimbingan.
Adapun al-uslȗb di dalam al-khithâbah menurut Muhî al-Dîn (2008: 15) adalah sebagai berikut:
1)      Sifat umum dari sebuah khithâbah adanya kekauatan dari segi emosi dari seorang khathîb, meliputi kekuatan akidah, dan keyakinannya Sehingga membentuk sebuah harmoni, dan kata-kata yang diucapkan bisa mempengaruhi para pendengar.
2)      Adanya pengulangan makna, di dalam khithâbah hal ini bersifat opsional. Tujuannya untuk mengkonfirmasi penyampaian pesan, hingga mengenai perasaan, para pendengar paham, dan besarnya pengaruh tanpa adanya perbahan dari redaksi khutbah tersebut.
3)      Keragaman dalam gaya bahasa, yaitu penggunaan uslȗb, terkadang khabariy, amr, nahy, dan istifhâm. Hal ini bertujuan membantu memunculkan unsur emosi kepada para pendengar.
4)      Di dalam khithâbah terdapat sebuah statement atau al-taqrîr untuk mengekspresikan opini, argument dengan cara mengkisahkan, deskripsi, kedua hal tersebut  bisa membantu seorang khatib untuk melakukan tidakan persuasinya.
5)      Setiap ungkapan harus ringan, dan al-ta’qîd sehingga halayak umum bisa mengikutinya,
6)      Seorang penulis bisa memberikan penomoran, melakukan pembagian pada tiap bagiannya, yaitu dengan menambahkan nada tekanan dari suatu titik ketitik lainnya dengan cara memberitahu.
Tidak terlepas dari unsur serta jenis al-khithâbah semuanya mememenuhi persaratan dari karakteristik al-uslȗb al-adabiy. Kita bisa memahami dan mengetahui karakteristik al-uslȗb al-adabiy pada al-khithâbah dengan cara menginduksikan karakteristik al-uslȗb al-adabiy, atau mendeduksikannya.

b)     Al-Qishashiy
Ojek analisis al-usȗb al-Natsar pada makalah ini adalah pada buku Alfu lailah wa lailah (2005: 72-76), kisah ini terdapat pada malam ke-19  dan malam ke-20 dengan judul hikâyah al-shabiyah al-maqtȗlah.
Sebagaimana kita ketahui bahwa Kisah Seribu Satu Malam merupakan salah satu karya sastra Arab yang paling popular. Muhammad Miqdâd (1992: 45) dalam catatan sejarah karya ini memiliki pengaruh besar terhadap kesusastraan Eropa, karya ini pertama kali diterjemahkan kedalam bahasa Prancis oleh Galland tahun 1703-1713 setekah itu Kisah Seribu Satu Malam diterjemahkan kebeberapa bahasa eropa modern lainnya.
Ibrahim Jabra (Allen, 2008: 5) teknik cerita pada karya ini menggunakan banyak bingkai, penggalan waktu, dan berkonsentrasi pada kehidupan seorang individu dalam masyarakat seperti yang terjadi di dalam novel-novel modern.  Gaya penyampaian, nilai, serta pesan moral yang sangat kaya dalam karya ini.
Meskipun mutu literal khazanah kesusastraan Arab abad pertengahan baru dikaji dan ditemukan pada masa modern ini. Allen (2008: 5) Kisah Kisah Seribu Satu Malam dengan tradisi shirâh merupakan objek kajian yang sangat kaya, dimana pada karya ini terdapat banyak bentuk gaya narasi yang menjadi cikal bakal novel modern. Jalâl al-Dîn Jabra dalam (Allen, 2008: 6) terdapat hubungan yang sangat dekat antara penerjemahan Kisah Seribu Satu Malam kedalam bahasa Inggris khususnya beberapa bahasa Eropa modern lainnya dengan munculnya novel modern.
Berikut ini sedikit cuplikannya;


الصبية المقتولة
قال الملك : قصي قصتك وعجلي ! فقالت : زعموا يا ملك الزمان وسالف العصر الأوان أن الخليفة هارون الرشيد أخضر ذات ليلة من الليالي وزيرة جعفر, وقال له إني أوريد أن ننزل في هذه الليلة إلى المدينة, ونسأل عن أحوال الحكام والمتولين, وكل من شكا منه أحد عزلنا ومن شكروه وليناه. فقال جعفر سمعا وطاعة. فلما مزل الخليفة وجعفر مسرور, وساروا في المدينة ومشوا في الأسواق مروا بزقاق, فرأوا شيخا كبيرا على رأسه شبكة وقفة, وفي يده عصا, وهو ماش على مهمله ينشد ويقول:
يقولون لي أنت بين الورى     #       بعلمك كالليلة المقمــرة
فقلت رهنوني من قولكــــم     #       فلا علم إلا مع المقدرة
فلو رهنوني وعلمي معــي      #       وكل الدفاتر والمحبـرة
على قوت يوم لما أدركوا       #       قبول الرهان إلى الآخرة
           فلما سمع الخليفة انشاده قال لجعفر : انظر هذا الرجل الفقير وأنظر هذا الشعر فإنه يدل على احتياجة. ثم أن الخليفة تقدم إليه وقال له: يا شيخ ما صنعتك ؟ فقال يا سيدي أنا صياد وعندي عيلة, وخرجت من بيتي من نصف النهار, وإلى هذا الوقت, لم يقسم الله لي شيئا أقوت به عيالي وقد كرهت نفسي  وتمنيت الموت. فقال الخليفة : هل لك أن ترجع معنا إلى البحر وتقف على شاطئ دجلة وترمي شبكتك على بختي وكل ما طلع أشتريه منك بمائة دينار ؟ ففرح الرجل لما سمع هذا الكلم وقال: على رأسي أرجع معكم, ثم أن الصياد رجع إلى البحر ورمى شبكته وصبر عليها, ثم أنه جذب الخيط وجر الشبكة إليه فطلع فى الشبكة صندوق مقفول ثقيل الوزن, فلما نظره الخليفة فوجده ثقيلا, فأعطى الصياد مائة دينار وانصرف. وحمل الصندوق مسرور هو جعفر وطلعا به مع الخليفة إلى القصر, وأوقد وأوقد الشموع والصندوق بين يدي الخليفة, فتقدم جعفر ومسرور وكسروا فوجدوا فيه فقة خوص محيطة بصوف أحمر, فقطعوة الخياطة فرأوا فيها قطعة بساط فرفعوها فوجدوا تحتها أزارا فرفع وا الأزار فوجدوا تحته صبية كأنها سبيكة مقتولة مقطوعة, فلما نظرها الخليفة جرت دموعه على خده, والتفت إلى جعفر وقال: يا كلب الوزراء, اتفتل القتلى في زمني ويرمون في البحر ويصيرون متعلقين بذمتي ؟ والله لا بد أن أقتص بهذه الصبية ممن قتلها وأقتله. وقال الخليفة لجعفر: وحق اتصال نسبي بالخلفاء من بنى العباس, إن  لم تأتني بالذي هذه الصبية لأنصفها منه لأصلبنك على باب قصري أنت وأربعين من بني عمك فقال جعفر: أمهلني ثلاث أيام. أمهلتك.
 ثم خرج جعفر من بين يديه ومشى في المدينة وهو حزين. وقال في نفسه : من أين أعرف من قتل هذه الصبية حتى أحضره للخليفة, وإن أحضرت له غيره يصير معلقا بذمتي, ولا أدري ما أصنع؟ ثم أن جعفر جلس في بيته ثلاثة أيام وفي اليوم الرابع أرسل إليه الخليفة يطلبه, فلما تمثل بين يديه قال له: أين قاتل الصبية؟ قال جعفر: يا أمير المؤمنين, هل أنا أعلم الغيب حتى أعرف قاتلها؟ فاغتظ الخليفة وأمر بصلبه على باب قصره وأمر مناديا ينادي في شوارع بغداد, من أراد الفرجة على صلب جعفر البرمكي وزير الخليفة على باب قصر الخليفة فليخرج ليتفرج فخرجت الناس من جميع الجارات ليتفرجوا على صلب جعفر وصلب أولاد عمه, ولم يعلم سبب سنقهم, ثم أمر بنصب الخشب فنصبوه وأوقفوهم تحته لأجل الصلب وصاروا ينتظرون الأذن من الخليفة, وصار الخلق يتباكون على جعفر وعلى أولاد عمه. فبينما هم كذلك إذا بشاب حسن الوجه نقي الأثوات بوجه أقمر, وطرف أحور, وجبين أزهر وخدا أحمر, وعذار أخضر, وخال كأنه قرص عنبر, مازال يدفع الناس إلى أن وقف بين يدي جعفر وقال له: سلامتك من هذه الوقعة يا سيد الأمراء وكهف الفقراء أنا الذي قتلت القبيلة التي وجدتموها في الصندوق, فاقتلني فيها واقتص لها مني. فلما سمع جعفر كلام الشباب, وما أبداه من الخطاب فرح بخلاص نفسه وحزن على الشباب, فبينما هم في الكلام وإذ بشيخ كبير يفسح الناس و يمتسى بينهم بسرعة إلى أن وصل إلى جعفر والشباب فسلم عليهما.
ثم قال: أيها الوزير لاتصدق كلام هذا الشباب فإنه ما قتل هذه الصبية إلا أنا, فاقتص لها مني. فقال الشباب أيها الوزير, إن هذا شيخ كبير خرفان لا يدري ما يقول وأنا الذي قتلتها فاقتص لها مني. فقال الشيخ: يا ولدي أنت صغير تشتهي الدنيا, وأنا كبير شبعت من الدنيا, وأنا أفيدك أفدي الوزير وبني عمه, وما قتل الصبية إلا أنا, فبالله عليك أن تجعل بالاقتصاص مني. فلما نظر إلى ذلك الأمر تعجب منه, وأخذ الشباب والشيخ وطلع بهما عند الخليفة. وقال يا أمير المؤمنين قد حضر قاتل الصبية. فقال الخليفة أين هو؟ فقال: إن هذا الشباب يقول: أنا القاتل, وهذا الشيخ يكذبه ويقول: لا, بل أنا القاتل.
فنظر الخليفة إلى الشيخ والشاب, وقال من منكما قبل هذه الصبية؟ فقال الشاب: ما قبلها إلا أنا. فقال الخليفة لجعفر: خذ الاثنين وأصلبهما. فقال جعفر: إذا كان القاتل واحدا, فقتل الثاني ظلم. فقال الشاب: وحق من رفع السماء وبسط الأرض, إني أنا الذي قتلت الصبية, وهذه أمارة قتلها. ووصف ما وجده الخليفة, فتحقق عند الخليفة أن الشاب هو الذي قتل الصبية, فتعجب الخليفة وقال: ما سبب قتلك هذه الصبية بغير حق؟ ما سبب اقرارك بالقتل من غير ضرب وقولك اقتصوا لها مني فقال الشاب: أعلم يا أمير المؤمنين أن هذه الصبية زوجتي وبنت عمي, وهذا الشيخ أبوها وهو عمي وتزوجت بها بكر فرزقني الله منها ثلاثة أولاد ذكورا, وكانت تحبني وتخدمني لم أر علي عليها شيئا, فلما كان أول هذا الشهر مرضت مرضا شديدا فأحضرت لها الأطباء حتى حصلت لها العافية فأردت أن أدخلها الحمام. فقالت: إن أريد شيئا قبل دخول الحمام لأني أشتهيه, فقلت لها: وما هو؟ فقالت: إني أشتهي تفاحة أشمها وأعض منها عضة. فطلعت من شاعتي إلى المدينة وقتشت على التفاح, ولوكانت الواحدة بدينار, فلم أجد  فبت تلك الليلة وأنا متفكر, فلما أصبح الصباح خرجت من بيتي ودرت البساتين واحدا واحدا فلم أجده فيها فصادفني خولي كبير فسألته عن التفاح. فقال ياولدي, هذا شيئ قل أن يوجد لأنه معدوم ولا يوجد إلا في بستان أمير المؤمنين الذي في البصرة وهو عند الخولي يدخره للخلفية, فجئت زوجتي, وقد حملتني محبتي إياها على أن هيأت نفسي وسافرت خمسة عشرة يوما ليلا ونهارا في الذهاب والاياب, وجئت لها بثلاثة تفاحات اشتريتها من خولي البصرة بثلاثة دنانير, ثم إني دخلت وناحولتها إياها, فلم تفرح بها بل تركتها في جانبها, وكان مرض الحمى قد اشتد بها, ولم تزل في ضعفها إلى أن مضى لها عشرة أيام, وبعد ذلك عوفيت فخرجت من البيت وذهبت إلى دكان, وجلست في تيعي وشائي, فبينما أنا جالس في وسط النهار, وإذا بعبد أسود مر عليّ وفي يده تفاحة يلعب بها, فقلت له: من أين أخذت هذه التفاحة, حتى آخذ مثلها, فضحك, وقال: أخذت من حبيبتي, وأنا كنت غائبا وجئت فوجدتها ضعيفة وعندها ثلاثة تفاحات. فقالت أن زوجي سافر من أجلها إلى البصرة, فاشتراها بثلاثة دنانير فأخذت منها هذه التفاحة. فلما سمع كلام العبد يا أمير المؤمنين اسودت الدنيا في وجهي, وفقلت دكاني, وجئت إلى بيتي وأنا فاقد العقل من شدة الغيظ, فلم أجد التفاحة الثالثة. فقلت لها أين الثالثة؟ فقالت: لا أدري ولا أعرف أين ذهبت: فتحققت من قول العبد, وقمت وأخذت سكينا وركبت على صدرها ونحرتها بالسكين وقطعت رأسها وأعضاءها وحطيتها في القفه بسرعة وغطيتها بالازار وحطيت عليها شقة بساط وأنزلتها في الصندوق وقفلته وحملتها على بغلتي ورميتها في الدجلة بيدي.
فبالله علىيك يا أمير المؤمنين أن تجعل بقتلي قصاصا لها, فإني جائف من مطالبتها يوم القيامة, فإني لما رميتها في بحر الدجلة, ولم يعلم بها أحدا, رجعت إلى بيتي فوجدت ولدي الكبير يبكي, فلم يكن له علم بما فعلت أمه فقلت له: ما يبكيك؟ فقال: إني أخذت تفاحة من التفاح الذي عند أمي, ونزلت بها إلى الزقاق ألعب مع أخواني وإذا بعبد أسود طويل خطفها مني. من أين جاءتك هذه؟ فقلت له: هذه سافر أبي وجاء بها من البصرة من أجل أمي, وهي ضعيفة, واشترى ثلاثة تفاحات بثلاثة دنادير. فأخذها مني وضربني وراح بها, فخفت من أمي أن تضرتني من أجل التفاحة, فلما سمع كلام الولد علمت أن العبد هو الذي افترى الكلام الكذب على بنت عمي’ وتحققت أنها قتلت ظلما, ثم أني بكيت بكاء شديدا, وإذ بهذا الشيخ وهو عمي والدها قد أقبل, فأخرجته بما كان فجلس بجانبي وبكى, ولم نزل يبكى إلى نصف الليل’ وأقمنا العزاء خمسة أيام, ولم نزل إلى هذا اليوم ونحن نتأسف على قتلها, فبحرمة أجدادك أن تجعل بقتلي وتقتص لها مني. فلما سمع الخليفة كلام الشاب تعجب, وقال والله لا أقتل إلا العبد الخبيث, ولأعلن عملا يشفي العليل ويرض الملك الجليل. وأدرك شهرازاد الصباح فسكتت عن الكلام المباح.
وفي الليلة 20
قالت شهرزاد بلغني أيها الملك السعيد, أن الخليفة أقسم أنه لا يقتل إلا العبد لأن الشاب معذور. ثم أن الخليفة التفت إلى جعفر, وقال له: أحضر لي هذا العبد الخبيث الذي كان سببا في هذه القضية, وإن لم تحضره فسأقتلك عوضا عنه. فنزل يبكي, ويقول: من أين أحضره؟ ولا كل مرة تسلم الجرة, وليس لي في هذا الأمر حيلة, والذي سلمني في الأول سلمني في الثاني, والله ما بقيت أخرج من بيت ثلاثة أيام, والحق سبحانه يفعل ما يشاء. ثم أقام في بيته ثلاثة أيام, وفي اليوم الرابع أحضر القاضي وأوصى وودع أولاده وبكى, وإذا برسول الخليفة أتى إليه وقال له: أن أمير المؤمنين أشد ما يكون من الغضب, وأرسلني إليك وحلف أنه لا يمر هذا النهار إلا وأنت مقتول وإن لم تحضر له العبد.
فلما سمع جعفر هذا الكلام وبكى وكت أولاده, فلما فرغ من التوديع تقدم إلى ابنته الصغيرة ليودعها وكان يحبها أكثر من أولاده جميعا فضمها وبكى على فراقها فوجد في جبيه شيئا مكببا فقال لها: ما الذي في جيبيك ؟ فقالت له: يا أبت, تفاحة جاء بها عبدنا ريحان ولها معي أربعة أيام, وما أعطاها لي حتى أخذ مني دينارين. فلما سمع جعفر بذكل العبد والتفاحة فرح. وقال يا قريب الفرج. ثم أمر باحضار العبد فحضر فقال له: من أين هذه التفاحة؟ فقال يا سيدي من مدة خمسة أيام كنت ماشسا فدخلت في تعض أزقة المدينة. فنظرت صغارا يلعبون ومع واحد منهم هذه التفاحة فخطفتها منه وضربته فبكى.  وقال هذه لأمي وهي مريضة واشتهت على أبي تفاحا فسافر إلى البصرة وجاءها بثلاثة تفاحات بثلاثة دنانير, فأخذت هذه ألعب بها ثم بكى فلم التفت إليه, وأخذتها وجئت بها إلى هنا فأخذتها سيدتي الصغيرة بدنانير, فلما سمع جعفر هذه القصة تعجب لكون الفتنة وقتل الصبية من عبده, وأمر بسجن العبد, وفرح بخلاص نفسه. ثم أنشد هذين البيتين:
ومن كانت مصيبته بعبد        #       فما لنفس تجعله فداهــــــا
فإنك واحد خدما كثـــيرا        #       ونفسك لم تجد نفسا سواها
ثم أنه قبض على العبد: وطلع به إلى الخليفة فأمر أن تؤرخ هذه الحكاية, وتجعل سيرا بين الناس, فقال له جعفر: لا تعجب أمير المؤمنين من هذه القصة, فما هي بأعجب من حديث الوزير نور الدين مع شمس الدين أخيه. فقال الخليفة: وأي حكاية أعجب من هذه الحكاية؟ فقال جعفر: يا أمير المؤمنين, لا أحدثك إلا بشرط أن تعتق عبدي من القتل. فقال: قد وهبت لك دمه
Sebagaimana di Ungkapkan (Darwîsy, 2008: 13). Metode al-ta’bîr yang dianalisis dalam karya sastra memiliki banyak jenis, di antaranya adalah:
1)      Gaya bahasa pada kisah di atas terdapat beberapa pola uslȗb meliputi, bayâniy meliputi majâz dan kinâyah, dan pola-pola insyâ’i.
2)      Pada penggalan kisah di atas kita melihat aspek Hadatsu ta’bîr (Corak ekspresi).fenomena dialogis para pelaku pada kisah ini seperti khalîfah Harun al-Rasyîd dan Ja’far al-Mansȗr sebagai wajir, pada cerita ini sangat ditonjolkan. Arus dialog dengan pola insyâi kemudian beralih menjadi khabariy memberikan sebuah penekanan unsur afeksi dan emosi pada kisah di atas.
3)      Gaya Narasi (al-sardiyat), merupakan al-uslȗb yang sangat khas pada Kisah Seribu Satu Malam penulis ambil pada cerita  al-shabiyah al-maqtȗlah inti permasalahan pada cerita ini Tiga Buah Apel. Gaya penceritaan pada kisah di atas merupakan novel detektif. Bisa dikertahui bahwa pada awal cerita kisah ditemukan sebuah jasad perempuan mati, kemudian khalifah ingin menemukan siapa pembunuhnya, dimana proses pencarian pelaku pembunuhan menimbulkan konflik batin antara Khalifah harun al-Rasyid sebagai pemimpin negara, dan Ja’far sebagai wajir yang terbebani dengan tugas yang diberikan oleh Khalifah. Al-tharîqah al-sardiyat atau metode narasi secara lebih jelas adalah mendeteksi pelaku pembunuhan, dan pada puncak dari konflik ini adalah pengakuan dari suami perempuan tersebut yang merasa menyesal telah membunuh istrinya, kemudian pengakuan dari ayah perempuan itu yang mengaku sebagai pembunuhnya. Lalu sang suami menjelskan kronologis pembunuhan dan alasannya. 
Klalifah menerima alasan dari sang suami dan orang tua perempuan itu. Namun yang menjadi penyebab ada sorang Budak yang telah berbicara bohong  kepada suaminya bahwa apel itu dari kekasihnya (perempuan) yang mengatakan bahwa apel itu pemberian dari suaminya. Hingga akhirnya cerita menyedihkan ini akhirnya tidak ditentukan siapa pembunuhnya.
4)      Al-Mauqifiy, kita bisa melihat unsur afeksi atau al-wijdâniy dari sikap actor pada cerita di atas, meluputi ketegasan Khalifah, kepiluan Ja’far yang menanggung beban untuk mencari siapa pelakunya. Rasa tanggungung jawab dari sang suami, sera sikap penyesalan. Dan sikap bohong sang budak, dan sikap patuh sang budak terhadap tuanya yaitu putrid dari Ja’far.

3.      Al-Uslȗb al-Adabiy  fî  al-Syi’ri
Kajan al-uslȗb pada puisi pada saat ini didominasi oleh analisis stilistika bahasa, gaya bahasa, berupa tasybîh, majâz, dan lain-lain sebagai objek analisisnya. Karena bisa dipahami bahwa karya sastra memiliki hubungan erat dengan bahasa, karena medium utama karya sastra ini adalah bahasa (Kutaratna, 2009: 330).  Namun perlu dipahami bahwa puisi merupakan karya sastra yang memiliki hubungan erat dengan kebudayaan, sebab kedua gejala tersebut dihasilkan dari masyarakat, dimanfaatkan oleh masyarakat pula.
مَرْكَبٌ لَوْ سَلَـفَ اَلدَّهْرُ  بهِ
   
كَانَ إحدَى مُعْجزَاتِ  الْقُدَمَـاءْ
نِصْفُهُ طَـيْرٌ  وَنِصْـفٌ بَشَرٌ
   
يَالَهَا إِحْدَى أَعاجيِبِ  الْقَضَـاءْ
رَائِـع ، مُـرْتفعاً  أَو  واقِفاً
   
أَنْفُسَ الشُّجْعانِ قَبْـل  الجُبَنَـاء
حَمَلَ الفُولاذَ ريشاً وَجَـرَى
   
فِي عِنَـانْين لَهُ: نــارٍ وَمَـاءْ
وَجَنَاحٍ ، غَيْرِ ذِي   قَادِمَـةٍ
   
كَجَنَاحِ النَّحْلِ مَصْقُـولٍ  سَوَاءْ
يَتَـرَاءَى كَـوْكَباً  ذَا ذَنَبٍ
   
فَـإِذَا جَـدَّ فَسَهْمًا ذَا  مَضَـاءْ
فَإذَا جَـازَ الثُّـرَيَّا للِـثرَى
   
جَرً كَالطَاووسِ  ذَيْلَ   الْخُيَـلاءْ
يَمْلأ اَلآفاقَ صَوْتاً وَصَـدًى
   
كَعَزيفِ اَلْجِنِّ في  اَلأرْضِ  اَلْعَرَاءْ
أَرْسَلَتْهُ الأرْضُ عَنْهَا خَبَـراً
   
طَـنَّ فِي  آذَانِ  سُكَّانِ  السَّماءْ

v  Sebuah kendaraan jika datang  masa terdahulu, merupakan suatu keajaiban masa lampau
v  Setengahnya burung, dan setengah lagi manusia. Wahai sebuah keajaiban taqdir
v  Menakutkan, tinggi, tegak, terhadap jiwa-jiwa pemberani sebelum takut.
v  Sang burung memikul baja terbang di awan, dia memiliki air dan api
v  Sayap tak berbulu, seumpama sayap lebah yang terang.
v  Dan tampak bagaikan bintang yang berekor, dan apabila bergerak. Maka tampaklah terang.
v  Dan jika melintasi kumpulan bintang di langit, akan menyebabkan heran, bagai ekor burung merak yang membesar.
v  Suaranya mengisi cakrawala, dan hembusannya bagaikan suara jin di bumi yang terbuka.
v  Bumi mengirimkan sebuah berita sehingga tersa bising ditelinga penghuni langit.


a)      Analisis Sastra (Tahlîl al- Adab)
Beberapa tokokah mengemukakan bahwa kritik sastra atas dua macan, sebagaimana dikemukakan oleh Thaha Husein, ada dua, Peratama. نقد الذات (subyektif) yang terdiri dari dua unsur Impresionistik, dan  Ekspresionistik. Dan yang kedua, نقد الموضوع (obyektif) Intrinsik, dan ekstrinsik. Dalam makalah ini penyusun akan mencoba melakukan kritik sastra dengan menggunakan model yang kedua yaitu kritik objektif.
1)      Unsur ekstrinsik,
Pertama ialah mengenai sejarah penulis puisi, yaitu Ahmad Syauqi lahir pada 1870. Setelah menamatkan Pendidikan Dasar dan Menengahnya, lalu ia melanjutkan studi di Fakultas hukum, kemudian pindah ke Fakultas Tarjamah sehingga mendapatkan ijazah dalam bidang Seni Terjemah. Kemudian Syauqi melanjutkan studinya di Perancis untuk memperdalam ilmu hukum dan sastra Perancis. Saat dii Perancis Syauqi mulai bersentuhan dengan sastra dan para sastrawan Eropa khususnya sastra Perancis.
Pada tahun 1894 Syauqi kembali ke Mesir. Wawasan dan pengetahuan Syauqi juga semakin bertambah saat ia habiskan empat tahun berkelana di Perancis, ia semakin menguasai bahasa Perancis dan Turki sekaligus. Akibat campur tangan Inggris, pada saat Perang Dunia I meletus Syauqi dan para pejabat istana lainnya diasingkan ke Andalusia (Spanyol). Di pengasingan inilah Syauqi dicekam kesendirian dan kerinduan akan tanah airnya yang kemudian dituangkan ke dalam syair-syairnya.
Ahmad syauqi merupakan salah seorang penyair abad 19 aliran pembaharu Neoklasik, aliran yang dipelopori oleh Mahmud Samiy al Badrudi, aliran ini berusaha menganggkat syair-syair klasik.
Secara global tema-tema yang diusung syair Syauqi terbagi dua; Pertama tema-tema kuno yaitu mengikuti jejak para sastrawan klasik, tema ini diantaranya adalah al-madh (sanjungan), al-fakher (kebanggan), al-ghozal (rayuan), al-rista (belasungkawa) dan al-Hikmah (kata-kata bijak) serta tema-tema lain yang berkaitan dengan etika dan estetika.
 Tema-tema kontemporer yang tidak dapat dijumpai pada syair klasik. diantara tema-tema baru tersebut adalah sejarah, sosial, fukahah (Anekdot). Lalu syair Drama. Ketika itu belum ada penyair yang memperkenalkan bentuk baru ini dalam sastra Arab, namun ternyata Syauqi berhasil membuat terobosan baru tersebut. Naskah drama yang dikemas dalam bentuk syair baru dikenal Arab di zaman modern ini, dan Syauqi adalah pelopornya. Usai Perang Dunia reda, Syauqi kembali ke tanah airnya mengabdikan diri kepada bangsa dan negaranya terutama dalam bidang sastra sampai menghembuskan napas terakhir pada 13 Oktober 1932.

2)      Unsur Instrinsik
Sebagaimana kita ketahui bahwa unsur pijakan utama dari sebuah syair adalah unsur struktur internal bahasa, berikut ini beberapa penjelasan tentang unsur internal dari puisi di atas’
(a)      Penjelasan Kata (Syarhul kalimah)
الكلمة
   
شرحها
سلف الدهر به
   
: جاء به الزمن السالف الماضي. المعجزة : أمر لا يقدر على عمله أحد في العادة.
رائع
   

: مخيف. أنفس : جمع نفس.
الفولاذ
   
: الحديد الصلب. العِنان : اللجام للفرس.
القادمة
   
: هي واحدة القوادم أي الريشات التي في مقدم الجناح وهي كبار الريش.
يتراءى
   
: يظهر ويرى. ذنب : ذيل. جَدَّ: أسرع. مضاء : سرعة واندفاع.
جاز
   
: ترك. الثريا : مجموعة من الكواكب في السماء. الثرى: التراب ويريد الأرض. الخيلاء : الكبر والعجب.
الصدى
   
: رجع الصوت. عزيف: صوت. العراء: الخالية من كل ما يستتر به.
طَنَّ
   
: أحدث صوتاً.


Syair-syair di atas, apa bila ditinjau dari segi jumlahnya merupakan sebuah Qosidah, karena terdiri dari sembilai bait. Sedangkan sarat untuk sebuah qosidah ialah tujuh bait, ke atas (Zaenudin, 2007: 24).
Untuk tema dari syair di atas adalah Al-wasfi, menurut Muzzaki, A (2006: 88) merupakan sebuah tema yang berusaha mendeskripsikan tentang keadaan tentang sesuatu, di dalam qosidah di atas penyair berusaha mendeskrifsikan sebuah pesawat, yang merupakan sebuah hasil dari sebuah peadaban, dan perkembangan jaman. Di dalam qosidahnya, Ahmad Syauqi mendeskripsikan keidahan bentuk pesawat. Serta kegagahannya.

(b)   Al-îqâh dan al-Nabr Sebagai Unsur Musikalis Syair
Teknik penulisan kata yang dilakukan oleh Ahmad Syauqi, yang pertama Keindahan lafad dapat dibuktikan dengan penggunaan saja, saja  yang terdapat pada shodar bait ke dua yaitu,
نِصْفُهُ طَـيْرٌ  وَنِصْـفٌ بَشَرٌ
Terdapat persesuaian antara dua akhir kata  pada hruf akhirnya, yaitu thairun, dan basyarun.dalam jenis saja’ di sini merupakan model al-Mutharaf, persamaan bunyi akhir lafad, dan perbedaan lafad.


(c)    Al-Uslȗb al-Bayâniy sebagai Hadatsu ta’bîr (Corak ekspresi)
Fenomena ini ter terjadi pula pada bait ke enam kedua lafat yang terdapat pada shodar dan  a’jaz, yaitu
يَتَـرَاءَى كَـوْكَباً  ذَا ذَنَبٍ

   
فَـإِذَا جَـدَّ فَسَهْمًا ذَا  مَضَـاءْ
Keterpaduan antara dua bunyi kaukaaban, dan bunyi fasahman. Merupakan keindahan struktur lafad yang di lakukan oleh penyair.
Lalu yang kedua ialah teknik berbahasa, penggunaan gaya bahasa atau ushlub pada kasidah di atas terjadi di beberapa bait, seperti penggunaan tasybîh mujmal yaitu yang dibuang wajh syibh-nya pada bait kelima, yaitu:
وَجَنَاحٍ ، غَيْرِ ذِي   قَادِمَـةٍ
   
كَجَنَاحِ النَّحْلِ مَصْقُـولٍ  سَوَاءْ
Pada bait di atas terdapat penyerupaan antara sayap pesawat terbang yang indah, dengan sayap seekor lebah yang dipoles. Tujuan dari penggunaan tasybih yang dilakukan oleh Ahmad Syauqi ialah menjelaskan kadar musyabah yaitu keindahan sayap pesawat.
Penggunaan tasbih terdapat pula pada bait ke tujuh,
فَإذَا جَـازَ الثُّـرَيَّا للِـثرَى
   
جَرً كَالطَاووسِ  ذَيْلَ   الْخُيَـلاءْ
Penggunaan tasybih mujmal pada bait di atas, ialah menjelaskan kan kadar misyabah bih, yaitu kadar keindahan peswat ketika terbang sebagai sesuatu yang diserupakan dengan ekor burung merak ketika terbuka. Lalu pada bait kedelapan terdapat penggunaan tasybih mujmal,yaitu:
يَمْلأ اَلآفاقَ صَوْتاً وَصَـدًى
   
كَعَزيفِ اَلْجِنِّ في  اَلأرْضِ  اَلْعَرَاءْ
 Pada bait di atas, Ahmad Syauqi menggunakan tasybih mujmal pada bait di atas, ialah menjelaskan kan kadar misyabah yaitu kekuatan, atau kerasnya suara pesawa terbang, kemudian diumpamakan dengan kerasnya suara jin.
Jadi dengan demikian Ahmad Syauqi memberikan sebuah deskripsi keindahan sebuah sayap, lalu keadaan pesawa ketika terbang di angkasa dan kekuatan suara atau kebisingan suara pesawat terbang, menggunakan tasybih dengan perumpamaan-perumpamaanya memberikan kejelasan makna.
            Lalu gaya bahasa yang dilakukan oleh Ahmad Syauqi ialah penggunaan majaz   isti’aroh makanniyah yang terdapat pada bait kesembilan,
أَرْسَلَتْهُ الأرْضُ عَنْهَا خَبَـراً
   
طَـنَّ فِي  آذَانِ  سُكَّانِ  السَّماءْ
Pada syair di atas kita menemukan kata  خَبَـراً  dan  آذَانِ  sebuah berita, dan telinga, ada sebuah kelajiman penyaamaan antara berita dan telinga, namun berita hanya cukup untuk diketahui, dan tidak membuat bising telinga. Jadi di dalam syair di atas terdapat kelajiman yaitu kata suara digantikan dengan berita.
                        Keindahan makna terdapat pada a’jaz bait kedua, yakni,
يَالَهَا إِحْدَى أَعاجيِبِ  الْقَضَـاءْ
Penggunaan ta’âjub pada a’jaz  di atas menunjukan serta mendeskripsikan kekaguman serta keheranan sang penyair terhadap pesawat. Lalu pengulangan kata,

نِصْفُهُ طَـيْرٌ  وَنِصْـفٌ  بَشَرٌ
Pengulangan kata nisfu yakni sebagai ithnab penambahan kata nisfu, yakni untuk menjelaskan maksud atau penegasan. Bahwa yang dideskripsikan oleh penulis ialah sebuah pesawat.
            Berdasarkan analisis di atas kita menemukan beberapa aspek, meliputi aspek musikalitas ritme, dan nada. Adapun aspek gaya bahasa kita bisa menemukan beberapa uslȗb seperti bayâniy, kemudian pengulangan, dan lain-lain. Unsur afeksi pada syair di atas adalah unsur luar dari syair di atas. Kita bisa melihat faktor luar yaitu latar belakang pendidikan penyair, situasi social, dan politik. Semuanya menjadi usur pembentuk syair.






BAB III
PENUTUP

A.       Kesimpulan
Setelah membahas sedikit tentang al-usȗb al-ilmiy dan al-adabiy, dapat disimpulkan bahwa;
1.      Kajian al-Uslȗb merupakan kajian analisis kegiatan kesusastraan, dengan mengungkap nilai-nilai estetika, seni, kajian ini berangkat dari struktur bahasa dengan anggapan bahwa sastra merupakan fan qouliy yang mengandung nilai, nilai dari segi al-tharîqah al-ta’bîriyah, konten, perbedaan atau ciri khas
2.       Kajian uslȗb dan bahasa pada abad ini meliputi dua konsep utama. Pertama, dirâsah al-shilah baina al-syakl wa al-fikr, yaitu kajian antara struktur bahasa dan pemikiran, secara khusus kajian ini telah dilakukan oleh ulama terdahulu dalam al-khithâbah. Kedua, al-uslub merupakan gaya seseorang, dan mengetahui hubungannya antara al-ta’bîrât al-fardiyah dan masyarakat. Kajian terdapat perbedaan yang sangan mendasar antara ilmu uslȗb dan balâghah terdapat kesamaan, yaitu pada aspek ojek kajian dan tujuan. Adapun perbedaanya adalah pendekatan yaitu prespektif pada ilmu balâghah dan deskriptif pada ilmu uslȗb.
3.      Al-uslȗb al-adabiy adalah 1) Tuturan yang mengandung aspek majâz dan tasybîh. 2) memiliki unsur nada yang harmonis (saja’, jinâs) sehingga pendengar menikmati  dari segi rasa dan makna. 3) di dalamnya terdapat unsur emosi, atau al-awâtifa, rasa dan berwujud sehingga menghibur para penikmatnya. 4) Berdasarkan bentuk deskripsinya terdapat kata, ungkapan, dan keterpahaman yang kuat.
4.      Al-uslȗb al-ilmiy memiliki keakurasian eksperesi, keteraturan gagasan, kecepatan dalam penyampain pesan kepada pembaca, terlepas dari unsur imajinatif, kejelasan dalam penyampaian fakta. al-uslȗb l-ilmiy juga harus bisa menafsirkan kedalaman ilmu dengan kalimat yang ringkas, dan fasih. Ragam al-uslȗb al-ilmiy juga memiliki struktur yang indah, jelas dan akurat

5.      Objek analisis pada makalah ini adalah prosa dan puisi, dan temukan beberapa gaya narasi, pola struktur meliputi majâz dan kinâyah. Dan ditemukan pula beberapa faktor pembentuk kedua karya sastra tersebut.

B.           Implikasi dan Rekomendasi
1.      Implikasi
Setelah membahas makalah ini, kita bisa memahami al-usȗb al-ilmiy dan al-adabiy dari perbagai aspek, meliputi sejarah ilmu al-usȗb, keterkaitannya dengan ilmu bahasa dan balâghah, karakteristik dari al-usȗb al-ilmiy, lalu karakteristik dari al-usȗb al-ilmiy. serta analisi prosa dan puisi. Hal tersebut bisa diterapkan  dalam kajian Nash keagamaan, sastra dan budaya.

2.      Rekomendasi
Al-usȗb al-ilmiy dan al-adabiy dari perbagai aspek, meliputi sejarah ilmu al-usȗb, keterkaitannya dengan ilmu bahasa dan balâghah, karakteristik dari al-usȗb al-ilmiy, lalu karakteristik dari al-usȗb al-ilmiy. serta analisi prosa dan puisi, Maka ilmu ini perlu dikembangkan dan diterapkan baik di kalangan akademis, masyarakat pemerhati bahasa, satra dan budaya Arab, pemegang kebijakan khususnya di dalam pengajaran bahasa dan perencanaan bahasa umum, sebagai upaya pencapaian tujuan pendidikan nasional.













DAFTAR PUSTAKA

Al-Marâghî. A.M. (1950). Târikh Ulȗm al-Balâghah wa al-Ta’rîf bi Rijâliâ. Mesir: Syirkah Maktabah Muashtafa.
Al-Muthalib, A. (1994). Al-Balâghah wa al-Uslȗbiyah. Libân: Maktabah Libân Nâsyirȗn.
Al-Miqdâd, M. (1992). Târîkh al-Dirâsât al-Arabiyah fî Faransâ.al-Kuwait: al-Majlis al-Wathaniy li al-Tsaqaâfah wa al-Funȗn wa al-Adab.

Al-Qizwâniy, H. (t.t.). al-Idhâh fî Ulȗm al-Balâghah. Libân: Dâr al-Kutȗb al-Ilmiyah.
Allen, R. (2008). The Arabic Novel: An Historical and Critical Introduction (Penerjemah: Irfan Zakki). Yogyakarta: e-Nusantara.

Ba’alBaki R. (1990). Mu’zjam al-Mushthalahât al-Lughawiyah Arabic-English. Beirut:  Dâr al-ilmu Lilmâliyîn.

Darwîsy, A. (2008). Dirâsah al-Uslȗb baina al-Mu’âshirah wa al-Turâst. Al-Qâhira: Dâr Gharîb li al-Thabâ’at wa al-Nasyar wa al-Tauzî.

Ibrâhim. (2012). Khashâish al-Uslȗb al-Adabiy wa al-Uslȗb al-Ilmiy. [Online].Terlihat di: http://www.alukah.net/Literature_Language. Diakeses (20 April 2013).

Iyâd, S. (1992). Madâhkhal Ila Ilm al-Uslȗb.Gaza. Maktabal al-Amah.
Keraf, G. (2000). Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: Gramedia.
Kridalaksana. H. (2009). Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia.
Kuta, R. (2009). Stilistika Kajian Puitika Bahasa, Sastra dan Budaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Ma’lȗf, L. (2005).  Al-Munjid fî al-Lughah wa al-I’lâm. Libân: Dâr al-Masyriq.

Munawwir A.W. (2002). Kamus Al-Munawwir Arab-Indonesia. Surabaya: Pustaka Progressif.

Muhi al-Dîn. (2008). Al-Ilqâ’ wa al-Tahrîr al-Arabiy. Riyâd: Maktabah al-Rasyd Nâsyirȗn.
Baidhan. (2005). Alfu lailah wa lailah fî al-Majalid al-U’la. Libân: Dâr al-Kutub al-Alamiyah.
Muzaki, A. (2006).Kesusastraan Arab Pengantar Teori dan Terapan. Surabaya: Pustaka Progresif.
Nurbayan dan Zaenudin. (2007). Pengantar Ilmu Ma’âniy. Bandung: Zein al-Bayan.
______________(2006). Pengantar Ilmu Bayan. Bandung: Zein Al Bayan.
Qathan. (2012). Al-Uslȗb al-Adabiy wa al-Uslȗb al-Ilmiy. [Online].Terlihat di: http://v.3bir.com/270682.  Diakeses (20 April 2013).
Raof, H.A. (2006). Arabic Rhetoric A Pragmatic Analysis. New York. Routledge.
Syiran, M. (1970). I’jâz al-Qur’an al-Bayâniy baina al-Nadhariyah wa al-Thathbîq.al-Jumhurirah al-Arabiyah al-Mutahidah: Dâr al-Ulum
Tamâm, H. (1981). Al-Ushȗl dirâsatu epistymologi li al-tafkîr al-alugowi ‘inda               al-Arab. Kairo : ‘Alamu al-Kutȗb.
Tamâm, H. (2007). Ijtihâdât Lughawiyah. Kairo: ‘Alamu al-Kutȗb.

Zaenudin, M. (2007). Karakteristik Syair Arab. Bandung: Zein Al Bayan

Subscribe to receive free email updates: